[VIDEO] Paris Sembiring, Tukang Becak Pelopor Bank Pohon

Tak terbayang, Paris Sembiring yang hanya tamat SD dan jadi tukang becak, kini diakui sebagai penyelamat lingkungan.

oleh Liputan6Diterbitkan 29 September 2013, 13:40 WIB

Datang ke sekolah-sekolah dan berbicara tentang lingkungan kini jadi kegiatan sehari-hari Paris Sembiring. Padahal, dulu hal ini tidak terbayangkan olehnya.

Di akhir tahun 70-an, berbekal ijazah sekolah dasar, Paris mencoba mengadu nasib di Kota Medan, Sumatera Utara. Profesi yang dipilihnya adalah tukang becak. Sehari-hari mengayuh becak, Paris tidak lupa pengalaman masa kecilnya.

Sebagai anak petani, Paris biasa menyemai bibit pohon yang dibuang orang lain. "Saat menarik becak saya sering ketiduran di bawah pohon dan terbangun karena kejatuhan daun atau biji. Dari situ muncullah inspirasi," ujar Paris seperti ditayangkan Liputan 6 SCTV, Minggu (29/9/2013).

Beberapa lama kemudian, berbekal ketekunan mengumpulkan bibit pohon, Paris memiliki kumpulan pohon yang disebutnya bank pohon. Paris pun melihat peluang untuk mendapat penghasilan sekaligus membantu penghijauan.

Sejak awal berdiri, tak terhitung sudah bibit pohon lahir dari Bank Pohon milik Paris Sembiring. "Bukan hanya menyiapkan bibitnya, sampai biaya perawatan pun beliau tidak sungkan memberi," jelas Imanuel Ginting, pendeta Gereja Batak Karo Protestan di lingkungan Paris.

Sekarang, Bank Pohon pertama menempati lahan seluas satu hektare di Pancur Batu, Deli Serdang, Sumut. Bank ini memiliki sekitar 2 juta bibit berbagai jenis tanaman, termasuk sejumlah tanaman langka dan 16 jenis tanaman tradisional suku Batak Karo.

Di Bank Pohon, para pelajar bisa bebas belajar tentang seluk-beluk pembibitan tanaman. Paris suka berbagi pengalaman, terutama tips cara mudah menyemai bibit pohon. "Kami bangga, karena pendidikan Bapak yang hanya tamat SD tapi bisa sukses menjadi pembina lingkungan," ujar Hezra, pelajar SMPN 1 Sunggal.

Kekaguman juga datang dari guru yang melihat Paris bisa memberi inspirasi kepada anak didik. "Kalau dulu hanya menanam, sekarang anak-anak benar-benar cinta pada tanaman dan pohon," ujar Hati Situmorang, salah seorang guru di SMPN 1 Sunggal.

Beragam penghargaan jatuh ke pangkuan Paris, mulai dari Kalpataru hingga penghargaan internasional Ashoka Award. "Dulu saya harap saya yang kuliah ini bisa sukses, tapi bapak yang tamat SD ternyata membalik keadaan," ujar Nursity Br Tarigan, istri Paris.

Kini, pria yang berusia 53 tahun ini berharap apa yang sudah ditumbuhkannya selama ini, seperti rasa peduli terhadap lingkungan, terus meluas dan menjadi gerakan nasional. (Ado)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya