Qorei: Tembok Pemisah Tak Akan Mendamaikan

Menurut PM Palestina, tembok pemisah itu tak lain adalah tembok rasis. Kedamaian sulit terwujud di Timur Tengah selama tembok pemisah tersebut berdiri.

oleh Liputan6Diterbitkan 12 Januari 2004, 08:43 WIB
Liputan6.com, Qalqiya: Kedamaian dan keamanan sulit terwujud di Timur Tengah selama tembok pemisah di Tepi Barat masih berdiri. Tembok pemisah itu tak lain adalah tembok rasis. Demikian dikatakan Perdana Menteri Palestina Ahmed Qorei saat mendatangi tembok tersebut, Ahad (11/1).

Qorei meminta Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa menekan Israel agar menghentikan pembangunan tembok tersebut. Apalagi, dinding yang pada awalnya berupa pagar berduri kini diganti beton, di sekitar Kota Qalqiya, utara Palestina yang diduduki Israel.

PM Palestina itu juga berniat membentuk komite khusus kabinet untuk mengkaji dampak tembok pemisah ini. Komite tersebut juga bertugas mencari cara menolong rakyat Palestina yang dirugikan akibat pembangunan tembok itu.

Wali Kota Qalqilya mengatakan, sejak tembok setinggi 10 meter ini dibangun, jalan masuk ke kota tinggal satu. Kondisi ini membuat kehidupan warga Palestina bertambah sulit. Para petani kehilangan tanah dan rakyat kehilangan mata pencaharian.

Pagar pemisah mulai dibangun Israel pada Juni 2003 yang rencananya berdiri sepanjang 600 kilometer di Tepi Barat. Tujuannya mencegah masuknya para pelaku bom bunuh diri. Namun, warga Palestina menilai kebijakan pembangunan pagar pembatas itu justru memperkecil wilayah Palestina. Sebab, dinding pemisah ini berada di beberapa tempat yang dekat dengan garis hijau. Selama ini garis hijau menjadi garis batas antara wilayah Israel dan Palestina sebelum Perang Arab-Israel pada 1967 [baca: Aksi Menentang Pagar Pembatas Israel-Palestina Ricuh].(SID/Nlg)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya