Liputan6.com, Makassar: Bom rakitan yang meledak di Kafe Sampodo Indah di Palopo, Sulawesi Selatan, memakai tabung pipa, mirip dengan kasus bom di berbagai wilayah di Makassar. Polisi juga sudah mencoba membuat sketsa pelaku pengeboman. Namun, polisi belum menyatakan keterlibatan kelompok tertentu dalam peristiwa yang menewaskan empat orang tersebut. Demikian informasi yang dihimpun SCTV di Makassar, Sulsel, hingga Ahad (11/1).
Reporter SCTV Wahyudi Baso yang datang ke lokasi 10 menit setelah kejadian melaporkan, di tubuh mayat terdapat luka tusukan kayu meja dan lantai yang terbuat dari papan. Jenazah korban hingga kini masih berada di Rumah Sakit Umum Saweri Gading, Palopo. Menurut sejumlah saksi, ledakan terjadi saat kafe baru dibuka, sehingga pengunjung belum terlalu banyak. Selain korban tewas, ledakan yang terjadi sekitar pukul 22.45 WITA itu melukai tiga pengunjung kafe. Ledakan meninggalkan lubang di lantai papan kafe yang dibangun layaknya rumah panggung [baca: Bom Rakitan Mengguncang Kafe di Palopo].
Kepala Polisi Wilayah Pare Pare Komisaris Besar Polisi Alba Lubis Nugroho memerintahkan jajaran Kepolisian Resor Tanah Toraja, Polres Luwu Utara, dan Polres Sidrap untuk menutup perbatasan. Langkah ini untuk menjaga kemungkinan tersangka kabur ke luar Palopo.
Ledakan bom di Palopo adalah peristiwa yang kedua kali di Tanah Air sejak awal tahun ini. Senin malam pekan silam, Terminal Amplas, Medan, Sumatra Utara, juga diguncang bom [baca: Bom Meledak di Dekat Terminal Amplas Medan]. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut.
Hari berikutnya, sebuah bom ditemukan di sebuah pasar di Medan [baca: Bungkusan Diduga Berisi Bom Ditemukan di Medan]. Meski tidak meledak, penemuan tersebut sempat membuat warga cemas. Terlalu dini untuk menyebutkan keterkaitan kedua peristiwa. Namun, yang jelas kedua kasus itu membuktikan pelaku adalah orang-orang yang ingin menyebar rasa takut.
Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan polisi dalam memberikan rasa aman dan menyingkap pelaku. Pertama adalah fakta belum tertangkapnya dua tersangka operator bom Doktor Azahari dan Noordin Mohammad Top. Dengan pengetahuan soal bom, kemampuan finansial, dan jaringan, mereka dapat menyebar teror di mana saja. Kedua, pemilihan umum telah dekat. Sepertti diketahui, situasi menjelang dan selama pemilu sangat rentan gangguan.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)
Reporter SCTV Wahyudi Baso yang datang ke lokasi 10 menit setelah kejadian melaporkan, di tubuh mayat terdapat luka tusukan kayu meja dan lantai yang terbuat dari papan. Jenazah korban hingga kini masih berada di Rumah Sakit Umum Saweri Gading, Palopo. Menurut sejumlah saksi, ledakan terjadi saat kafe baru dibuka, sehingga pengunjung belum terlalu banyak. Selain korban tewas, ledakan yang terjadi sekitar pukul 22.45 WITA itu melukai tiga pengunjung kafe. Ledakan meninggalkan lubang di lantai papan kafe yang dibangun layaknya rumah panggung [baca: Bom Rakitan Mengguncang Kafe di Palopo].
Kepala Polisi Wilayah Pare Pare Komisaris Besar Polisi Alba Lubis Nugroho memerintahkan jajaran Kepolisian Resor Tanah Toraja, Polres Luwu Utara, dan Polres Sidrap untuk menutup perbatasan. Langkah ini untuk menjaga kemungkinan tersangka kabur ke luar Palopo.
Ledakan bom di Palopo adalah peristiwa yang kedua kali di Tanah Air sejak awal tahun ini. Senin malam pekan silam, Terminal Amplas, Medan, Sumatra Utara, juga diguncang bom [baca: Bom Meledak di Dekat Terminal Amplas Medan]. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut.
Hari berikutnya, sebuah bom ditemukan di sebuah pasar di Medan [baca: Bungkusan Diduga Berisi Bom Ditemukan di Medan]. Meski tidak meledak, penemuan tersebut sempat membuat warga cemas. Terlalu dini untuk menyebutkan keterkaitan kedua peristiwa. Namun, yang jelas kedua kasus itu membuktikan pelaku adalah orang-orang yang ingin menyebar rasa takut.
Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan polisi dalam memberikan rasa aman dan menyingkap pelaku. Pertama adalah fakta belum tertangkapnya dua tersangka operator bom Doktor Azahari dan Noordin Mohammad Top. Dengan pengetahuan soal bom, kemampuan finansial, dan jaringan, mereka dapat menyebar teror di mana saja. Kedua, pemilihan umum telah dekat. Sepertti diketahui, situasi menjelang dan selama pemilu sangat rentan gangguan.(ZAQ/Tim Liputan 6 SCTV)