Liputan6.com, Jakarta: Komando Operasi TNI masih menelusuri posisi juru kamera Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) Ferry Santoro yang masih disandera Gerakan Aceh Merdeka. Toisutta memperkirakan, Ferry masih berada di Aceh Timur, di sekitar lokasi ditemukannya almarhum reporter RCTI Sory Ersa Siregar. Demikian dikemukakan Panglima Komando Operasi TNI Nanggroe Aceh Darussalam Brigadir Jenderal George Toisutta di Jakarta, Kamis (8/1).
Sementara tim negosiasi untuk membebaskan sandera yang dibentuk pemerintah hingga kini masih melakukan pembahasan dengan pihak-pihak terkait. Sejumlah kalangan berharap tim yang dipimpin Sekretaris Kementerian Bidang Politik dan Keamanan Sudi Silalahi itu dapat membebaskan Ferry dan sejumlah sandera sipil lainnya [baca: PMI, ICRC, dan Pemerintah Membahas Pembebasan Sandera].
Siang tadi, sejumlah warga yang menamakan dirinya Front Penyelamat Aceh Republik Indonesia, mendatangi Kantor Perwakilan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Banda Aceh. Para pengunjuk rasa semula ingin menyampaikan aspirasinya secara terbuka di perwakilan ICRC. Namun, penanggung jawab ICRC Aceh dengan sigap menerima kedatangan mereka dan mengajaknya untuk berdialog.
Perwakilan pengunjuk rasa akhirnya melakukan pertemuan selama satu jam dengan ICRC. Namun, pertemuan itu tertutup bagi wartawan. Tetapi yang jelas, dalam pertemuan itu ICRC berkomitmen untuk memfasilitasi pembebasan para sandera secepatnya. Dalam aksinya, pengunjuk rasa juga menggelar poster kecaman terhadap sikap GAM yang telah menyandera para warga sipil.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
Sementara tim negosiasi untuk membebaskan sandera yang dibentuk pemerintah hingga kini masih melakukan pembahasan dengan pihak-pihak terkait. Sejumlah kalangan berharap tim yang dipimpin Sekretaris Kementerian Bidang Politik dan Keamanan Sudi Silalahi itu dapat membebaskan Ferry dan sejumlah sandera sipil lainnya [baca: PMI, ICRC, dan Pemerintah Membahas Pembebasan Sandera].
Siang tadi, sejumlah warga yang menamakan dirinya Front Penyelamat Aceh Republik Indonesia, mendatangi Kantor Perwakilan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Banda Aceh. Para pengunjuk rasa semula ingin menyampaikan aspirasinya secara terbuka di perwakilan ICRC. Namun, penanggung jawab ICRC Aceh dengan sigap menerima kedatangan mereka dan mengajaknya untuk berdialog.
Perwakilan pengunjuk rasa akhirnya melakukan pertemuan selama satu jam dengan ICRC. Namun, pertemuan itu tertutup bagi wartawan. Tetapi yang jelas, dalam pertemuan itu ICRC berkomitmen untuk memfasilitasi pembebasan para sandera secepatnya. Dalam aksinya, pengunjuk rasa juga menggelar poster kecaman terhadap sikap GAM yang telah menyandera para warga sipil.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)