Natalius Pigai: Saya Menolak Depok Dituduh Kota Intoleran

Natalius Pigai mengatakan, selama tinggal di Jawa Barat, khususnya di Depok selama 25 tahun, dirinya tidak pernah mengalami gangguan apa pun.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 21 Mei 2026, 15:16 WIB
Menteri Hak Asasi Manusia (MenHAM) Natalius Pigai. Foto: Nur Habibie/Merdeka.com

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyanggah laporan yang menilai Jawa Barat sebagai 5 besar provinsi dengan angka kekerasan berbasis agama tertinggi. Hal itu disampaikan Pigai saat kelas Jurnalis HAM di Bandung, Rabu (20/5/2026).

“Saya menolak Jawa Barat dianggap sebagai provinsi intoleran,” kata Pigai seperti dikutip Kamis (21/5/2026).

Pigai beralasan, sebagai warga Jawa Barat, khususnya Depok selama 25 tahun, dirinya tidak pernah sama sekali mendapat gangguan.

“Saya menolak Depok dituduh sebagai kota intoleran. Saya 25 tahun tinggal di Depok, tidak pernah satu gereja pun diganggu,” ungkap dia.

Dia mengatakan, di Depok terdapat hingga lima gereja paroki Katolik. Menurutnya, jumlah tersebut cukup banyak jika dibandingkan dengan daerah lain.

Sebagai perbandingan, kata dia, di Nusa Tenggara Timur ada kabupaten yang bahkan belum tentu memiliki lima paroki.

“Di Depok lima, kok bisa disebut intoleran? Kan itu tidak fair,” jelas Pigai.

 

Data Setara Institute

Sebagai informasi, pernyataan yang disinggung Pigai merujuk pada data Setara Institute yang dirilis pada Maret 2026. Dalam data tersebut, Jawa Barat masuk dalam lima provinsi dengan angka kekerasan berbasis agama tertinggi, dengan total 56 kasus.

Posisi kedua ditempati Aceh dengan 23 kasus, disusul Jawa Timur sebanyak 18 kasus, Jawa Tengah dengan 13 kasus, dan Jakarta di urutan kelima dengan 12 kasus.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya