Liputan6.com, Makassar: Lebih dari 100 orang mendatangi Kantor Komisi Pemilihan Umum Sulawesi Selatan, Senin (29/12). Mereka memprotes tidak lulusnya Arnold Baramuli, Beddu Amang, Tanri Abeng, dan Rivai Siatta sebagai kandidat anggota Dewan Perwakilan Daereh Sulsel [baca: Baramuli Gugur Klarifikasi Ulang Calon DPD Sulsel]. Massa menilai keputusan KPU tidak konsisten dan diskriminatif hingga empat figur publik itu dinyatakan gugur.
Padahal banyak kandidat DPD memiliki masalah tempat tinggal seperti Bos Grup Bosowa Aksa Mahmud dan pemimpin Koran Harian Fajar Alwi Hamu. Massa juga mendesak KPU Sulsel meninjau ulang keputusannya. Setelah beraksi selama 30 menit, massa mulai gaduh dan mengancam akan membakar Gedung KPU.
Ancaman itu bisa dicegah ketika anggota KPU Sulsel Mappinawang menerima mereka. Puluhan aparat kepolisian sudah disiagakan di dalam ruangan untuk mengantisipasi perbuatan anarkis massa. Para demonstran pulang dengan tertib setelah mendapatkan penjelasan dari Mappinawang.(COK/Muhammad Takbir)
Padahal banyak kandidat DPD memiliki masalah tempat tinggal seperti Bos Grup Bosowa Aksa Mahmud dan pemimpin Koran Harian Fajar Alwi Hamu. Massa juga mendesak KPU Sulsel meninjau ulang keputusannya. Setelah beraksi selama 30 menit, massa mulai gaduh dan mengancam akan membakar Gedung KPU.
Ancaman itu bisa dicegah ketika anggota KPU Sulsel Mappinawang menerima mereka. Puluhan aparat kepolisian sudah disiagakan di dalam ruangan untuk mengantisipasi perbuatan anarkis massa. Para demonstran pulang dengan tertib setelah mendapatkan penjelasan dari Mappinawang.(COK/Muhammad Takbir)