Liputan6.com, Jakarta: Sejumlah tokoh nasional mendeklarasikan Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (29/12) siang. Selain cendekiawan muslim Nurcholish Madjid, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin juga hadir. Ada juga Goenawan Mohamad, Mohamad Sobari, Hendardi, Sarwono Kusumaatmadja, Bambang Warih Koesoema, Bondan Gunawan, psikolog Sartono Mukadis, pengusaha Anton J Supit, mantan pemain bulutangkis nasional Rosiana Tendean, dan Debra Yatim.
Deklarasi gerakan ini dimaksudkan agar Pemilihan Umum 2004 berlangsung adil. Selain itu, gerakan nasional ini juga bisa menjadi langkah awal untuk mewujudkan Indonesia yang demokratis, bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), berkeadilan sosial, serta menjunjung tinggi keadilan.
Dalam orasinya, para tokoh nasional yang hadir mengajak seluruh komponen bangsa berpartisipasi dan mendukung Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk. Menurut mereka, pada Pemilu 2004, sudah saatnya rakyat memegang kendali.
Para deklarator juga mengingatkan masyarakat untuk belajar dari pemilu yang lalu. Warga diimbau tidak menuruti pilihan emosional dan mempercayai partai politik peserta pemilu dengan begitu saja. Deklarasi Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk juga diramaikan dengan penampilan pemusik Harry Roesli dan Franky Sahilatua. Dalam lirik lagunya, mereka mengajak masyarakat tidak mudah percaya dengan janji-janji politisi.
Deklarasi serupa sempat digelar sejumlah unsur masyarakat di Kota Malang, Jawa Timur. Acara yang berlangsung di Universitas Brawijaya ini menjadi bagian dari Deklarasi Gerakan Moral Nasional menolak politisi tercela yang akan dipilih dalam Pemilihan Umum 2004, baik sebagai anggota legislatif mau pun calon pemimpin negara [baca: Deklarasi Antipolitisi Busuk Digelar di Malang].
Pendeklarasian Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk menuai tanggapan dari sejumlah pihak. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Mahadi Sinambela menduga koalisi tokoh nasional dan lembaga swadaya masyarakat yang mendeklarasikan Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk adalah langkah politis dan memiliki kecenderungan menebar fitnah.
Bahkan, sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung sempat mengatakan bahwa gerakan tersebut sarat muatan politik. Dia mengatakan harus ada batasan yang jelas mengenai yang dimaksud politisi hitam [baca: Akbar Tandjung: Pengumuman Politisi Hitam Bermuatan Politik].
Sebaliknya, Partai Amanat Nasional menilai pendeklarasian Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk adalah hal positif. Dia berharap koalisi para tokoh dan LSM tersebut tak melampaui batas-batas etika, yaitu dengan tidak menyebutkan nama para politisi yang disinyalir bermasalah.(SID/Muhammad Guntur)
Deklarasi gerakan ini dimaksudkan agar Pemilihan Umum 2004 berlangsung adil. Selain itu, gerakan nasional ini juga bisa menjadi langkah awal untuk mewujudkan Indonesia yang demokratis, bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), berkeadilan sosial, serta menjunjung tinggi keadilan.
Dalam orasinya, para tokoh nasional yang hadir mengajak seluruh komponen bangsa berpartisipasi dan mendukung Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk. Menurut mereka, pada Pemilu 2004, sudah saatnya rakyat memegang kendali.
Para deklarator juga mengingatkan masyarakat untuk belajar dari pemilu yang lalu. Warga diimbau tidak menuruti pilihan emosional dan mempercayai partai politik peserta pemilu dengan begitu saja. Deklarasi Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk juga diramaikan dengan penampilan pemusik Harry Roesli dan Franky Sahilatua. Dalam lirik lagunya, mereka mengajak masyarakat tidak mudah percaya dengan janji-janji politisi.
Deklarasi serupa sempat digelar sejumlah unsur masyarakat di Kota Malang, Jawa Timur. Acara yang berlangsung di Universitas Brawijaya ini menjadi bagian dari Deklarasi Gerakan Moral Nasional menolak politisi tercela yang akan dipilih dalam Pemilihan Umum 2004, baik sebagai anggota legislatif mau pun calon pemimpin negara [baca: Deklarasi Antipolitisi Busuk Digelar di Malang].
Pendeklarasian Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk menuai tanggapan dari sejumlah pihak. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Mahadi Sinambela menduga koalisi tokoh nasional dan lembaga swadaya masyarakat yang mendeklarasikan Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk adalah langkah politis dan memiliki kecenderungan menebar fitnah.
Bahkan, sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung sempat mengatakan bahwa gerakan tersebut sarat muatan politik. Dia mengatakan harus ada batasan yang jelas mengenai yang dimaksud politisi hitam [baca: Akbar Tandjung: Pengumuman Politisi Hitam Bermuatan Politik].
Sebaliknya, Partai Amanat Nasional menilai pendeklarasian Gerakan Nasional Jangan Pilih Politikus Busuk adalah hal positif. Dia berharap koalisi para tokoh dan LSM tersebut tak melampaui batas-batas etika, yaitu dengan tidak menyebutkan nama para politisi yang disinyalir bermasalah.(SID/Muhammad Guntur)