Meski memicu kekhawatiran kenaikan bunga kredit, kenaikan tingkat suku bunga acuan BI rate berdampak positif pada pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Data kurs valas Bloomberg, Kamis (12/9/2013) mencatat nilai tukar rupiah di pasar non delivered forward (NDF) untuk jangka waktu sebulan ke depan menguat hingga 2,2%.
Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadikan BI rate bertengger di level 7,25%. Sebanyak 23 ekonomi sebelumnya memperkirakan BI rate akan tetap bertahan di level 7%.
Rupiah di pasar NDF kali ini bergerak menguat 2,2% atau penguatan tertinggi sejak Mei 2012 ke level 11.254 per dolar AS. Rupiah di pasar kontrak diperdagangan 0,9% lebih tinggi dari harga spot.
Kemarin, rupiah di pasar NDF kembali bergerak lebih tinggi dibandingkan pasar spot dan mencetak kenaikan tertinggi sejak Februari.
Senior Currency Strategis dari ANZ BankingGgroup Ltd di Singapura, Khoon Goh menilai kebijakan BI yang lebih ketat menunjukan upaya untuk memperlambat laju impor guna menekan defisit transaksi berjalan.
"Ini langkah yang tepat namun situasi defisit transaksi berjalan yang terjadi saat ini membutuhkan waktu lama untuk benar-benar membaik," katanya.(Shd)
Data kurs valas Bloomberg, Kamis (12/9/2013) mencatat nilai tukar rupiah di pasar non delivered forward (NDF) untuk jangka waktu sebulan ke depan menguat hingga 2,2%.
Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadikan BI rate bertengger di level 7,25%. Sebanyak 23 ekonomi sebelumnya memperkirakan BI rate akan tetap bertahan di level 7%.
Rupiah di pasar NDF kali ini bergerak menguat 2,2% atau penguatan tertinggi sejak Mei 2012 ke level 11.254 per dolar AS. Rupiah di pasar kontrak diperdagangan 0,9% lebih tinggi dari harga spot.
Kemarin, rupiah di pasar NDF kembali bergerak lebih tinggi dibandingkan pasar spot dan mencetak kenaikan tertinggi sejak Februari.
Senior Currency Strategis dari ANZ BankingGgroup Ltd di Singapura, Khoon Goh menilai kebijakan BI yang lebih ketat menunjukan upaya untuk memperlambat laju impor guna menekan defisit transaksi berjalan.
"Ini langkah yang tepat namun situasi defisit transaksi berjalan yang terjadi saat ini membutuhkan waktu lama untuk benar-benar membaik," katanya.(Shd)