Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengungkap besarnya kontribusi kekayaan alam Indonesia terhadap perolehan devisa negara. Hal itu disampaikannya saat pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN Tahun Anggaran 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026.
Dalam paparannya, Prabowo menyebut Indonesia memiliki posisi kuat sebagai salah satu eksportir terbesar dunia untuk sejumlah komoditas strategis.
Advertisement
"Indonesia adalah pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia," kata Prabowo.
Dia mengatakan nilai devisa dari ekspor minyak sawit Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai USD 23 miliar atau setara sekitar Rp 391 triliun.
Selain sawit, Prabowo menyebut Indonesia juga menjadi salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Menurut dia, komoditas tersebut turut memberikan kontribusi signifikan bagi penerimaan negara.
Artikel Pidato Prabowo RAPBN 2027: Tiga Komoditas Andalan Sumbang Devisa Rp 1.100 Triliun menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com.
Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com? Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Kamis, (21/5/2026):
1. Pidato Prabowo RAPBN 2027: Tiga Komoditas Andalan Sumbang Devisa Rp 1.100 Triliun
Presiden Prabowo Subianto mengungkap besarnya kontribusi kekayaan alam Indonesia terhadap perolehan devisa negara. Hal itu disampaikannya saat pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN Tahun Anggaran 2027 dalam Rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026.
Dalam paparannya, Prabowo menyebut Indonesia memiliki posisi kuat sebagai salah satu eksportir terbesar dunia untuk sejumlah komoditas strategis.
"Indonesia adalah pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia," kata Prabowo.
Dia mengatakan nilai devisa dari ekspor minyak sawit Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai USD 23 miliar atau setara sekitar Rp 391 triliun.
Selain sawit, Prabowo menyebut Indonesia juga menjadi salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Menurut dia, komoditas tersebut turut memberikan kontribusi signifikan bagi penerimaan negara.
2. Prabowo Minta Bos Bea Cukai Diganti, Purbaya Beri Jawaban
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons kabar terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang berencana memecat Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budi Utama.
Saat dimintai konfirmasi oleh awak media mengenai kemungkinan pencopotan jabatan tersebut apabila kinerja sang dirjen dinilai kurang baik, Purbaya menegaskan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan kepala negara. Sebagai menteri, ia siap melaksanakan segala arahan dari Presiden.
“Kalau itu perintah, saya akan kerjakan. Saya nggak bisa kalau nggak ada perintah,” ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Purbaya menambahkan, pihaknya akan melihat dan mengevaluasi terlebih dahulu kondisi riil serta kinerja jajarannya di lapangan. Namun, ketika kembali didesak oleh wartawan mengenai penilaian pribadinya terhadap kinerja Dirjen Bea Cukai saat ini, Purbaya enggan memberikan jawaban pasti dan hanya tertawa.
3. Pidato Prabowo di Sidang Paripurna DPR: Rupiah Dipatok 16.800-17.500 per Dolar AS pada 2027
Presiden Prabowo Subianto hadir dalam Sidang Paripurna DPR untuk menyampaikan langsung Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Salah satu yang disampaikan dalam pidatonya tersebut yaitu soal nilai tukar rupiah.
Dalam pidatonya tersebut, Prabowo menyebutkanl target nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada RAPBN 2027, pemerintah menargetkan nilai tukar rupiah terjaga pada kisaran 16.800-17.500 per dolar AS.
"Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada pada rentang 16.800 hingga 17.500," kata Prabowo.
Menurut dia, strategi fiskal dan moneter Indonesia harus mampu menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil terhadap mata uang dunia.
Berita selengkapnya baca di sini