Liputan6.com, Bangkok - Masinis kereta api barang yang menabrak bus umum di ibu kota Thailand resmi ditahan dan didakwa atas tuduhan kelalaian operasional yang menyebabkan kematian dan luka-luka. Hasil tes urine menunjukkan masinis tersebut positif mengonsumsi narkoba jenis metamfetamin dan ganja.
Kecelakaan maut tersebut terjadi pada Sabtu (16/5/2026) sore di perlintasan sebidang Asok-Din Daeng yang padat di Bangkok. Benturan keras menyebabkan bus terbakar hebat, mengakibatkan delapan orang tewas dan 30 lainnya luka-luka. Hingga Senin (18/5) sore, 15 korban luka dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Demikian seperti dikutip dari CNA.
Advertisement
Kepala Kantor Polisi Makkasan Urumporn Koondejsumrit, menyatakan bahwa pada Minggu (17/5), polisi telah menetapkan masinis kereta—yang juga terluka dalam insiden tersebut—serta petugas penjaga perlintasan sebagai tersangka. Meski bukti awal sangat kuat, keduanya membantah dakwaan kelalaian yang dialamatkan kepada mereka.
Plt. Direktur State Railway of Thailand (SRT) Anan Phonimdaeng dalam konferensi persnya menegaskan bahwa masinis tersebut kini telah dinonaktifkan dari tugasnya selama proses hukum berlangsung. Selain itu, investigasi mengungkap bahwa masinis bersangkutan tidak memiliki lisensi resmi operasional kereta yang sah dari otoritas terkait.
Investigasi Kegagalan Pengereman
Menteri perhubungan Thailand mengonfirmasi bahwa kereta barang tersebut seharusnya melintas pada malam hari. Namun, karena mengalami keterlambatan jadwal, kereta terpaksa melintas pada sore hari di saat lalu lintas pusat kota sedang berada pada puncak kemacetan.
Video rekaman CCTV di lokasi kejadian memperlihatkan bus kota terjebak di tengah rel akibat kemacetan parah di lampu merah. Di saat yang sama, kereta barang datang dengan kecepatan sedang.
Polisi kini tengah berfokus memeriksa rekaman untuk melihat tindakan petugas penjaga perlintasan. Rekaman memperlihatkan petugas sempat mengibarkan bendera merah tanda bahaya di dekat pos. Namun, karena bobot kereta barang yang sangat berat, jarak pengereman darurat yang tersedia tidak lagi cukup untuk menghentikan laju kereta secara instan sebelum titik tabrakan. Kejadian ini juga menghanguskan beberapa kendaraan lain di sekitar rel, termasuk sebuah SUV.
Pemerintah Berikan Kompensasi
Wakil Menteri Perhubungan Thailand Siripong Angkasakulkiat mengumumkan bahwa pemerintah akan memberikan kompensasi penuh kepada para korban.
Keluarga dari setiap korban yang meninggal dunia akan menerima santunan sebesar 2,39 juta baht (sekitar Rp1 miliar). Sementara itu, korban yang mengalami luka-luka akan menerima kompensasi medis berkisar antara 140.000 baht hingga 1,1 juta baht (sekitar Rp60 juta hingga Rp470 juta), tergantung pada tingkat keparahan cedera mereka.
Pascakecelakaan ini, pejabat senior Kementerian Perhubungan Thailand Jiraroth Sukolrat menyatakan bahwa pemerintah sedang mengkaji rencana ketat untuk membatasi total dan waktu operasional kereta barang agar tidak lagi memasuki pusat kota Bangkok pada siang hari demi mencegah tragedi serupa.