IHSG Tersungkur 4,22%, Analis Ungkap Penyebabnya

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan jelang penutupan perdagangan saham sesi pertama, Senin, (18/5/2026).

oleh Tira SantiaDiterbitkan 18 Mei 2026, 11:34 WIB
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan koreksi pada perdagangan saham Senin, (18/5/2026).(BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan koreksi pada perdagangan saham Senin, (18/5/2026). Bahkan, IHSG hari ini turun hingga 4 persen. Analis menilai, koreksi IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen internal dan global termasuk hasil pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Berdasarkan data RTI, Senin, 18 Mei 2026 pukul 11.25 WIB, IHSG turun 4,22% ke 6.439. Indeks saham LQ45 susut 3,4% menjadi 635. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang masih menekan psikologis pasar. Pelemahan indeks tidak hanya dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait nilai tukar rupiah, tetapi juga dipicu tekanan foreign outflow, dampak rebalancing MSCI, serta ketidakpastian geopolitik global menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI).

Analis Pasar Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta, menilai pasar saat ini masih berada dalam fase defensif. Investor asing tercatat masih melakukan aksi jual dengan net foreign sell harian mencapai Rp 1,35 triliun, sementara secara year to date telah mencapai Rp 49,28 triliun. Sepanjang 2026, IHSG juga telah terkoreksi hingga 22,25%.

Menurut Nafan, pelemahan IHSG saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi berbagai sentimen dibanding hanya respons terhadap pernyataan Presiden Prabowo soal rupiah. Pasar disebut cenderung merespons negatif karena pertemuan Amerika Serikat dan China belum menghasilkan kesepakatan substansial terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan jalur Selat Hormuz.

"Market cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan AS–Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz," kata Nafan kepada Liputan6.com, Senin (18/5/2026).

Apalagi ditambah ancaman Trump yang siap meningkatkan intensitas militer jika Teheran tidak melunak sehingga hal ini menandakan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah masih sangat rapuh.

Dampak MSCI dan Rupiah

Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG melemah 8,0 persen ke level 7.654,66. Tampak dalam foto, pengunjung berfoto di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Dari sisi domestik, pasar juga masih mencerna dampak keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks MSCI Global Standard maupun Small Cap Index setelah pengumuman MSCI pekan lalu. Meski intensitas foreign outflow diperkirakan mulai menurun dibanding fase awal kepanikan, tekanan jual asing dinilai masih akan berlanjut dalam jangka pendek.

Nilai tukar rupiah yang masih tertahan di level Rp 17.597 per USD turut menjadi faktor utama yang menekan volatilitas indeks. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati sambil menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas mata uang.

"Di sisi lain, pergerakan nilai tukar Rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp17.597 per USD tetap menjadi faktor penekan utama bagi volatilitas indeks," ujarnya.

Secara teknikal, Nafan menilai IHSG masih berada dalam kondisi oversold. Indikator RSI menunjukkan peluang indeks menguji area “wave 5/A”, sementara indikator stochastic K_D masih memberikan sinyal negatif dengan volume perdagangan yang mengalami penurunan.

 

Sektor yang Dicermati

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain sektor defensif, saham-saham yang telah mengalami koreksi dalam namun memiliki valuasi murah juga mulai menarik untuk dicermati. Investor dinilai mulai memburu saham yang berpotensi mengalami technical rebound setelah tekanan jual asing mulai mereda. Nafan juga menyarankan investor fokus terhadap saham yang mulai menunjukkan arah pembalikan tren.

Hal tersebut penting mengingat kondisi oversold pada IHSG dapat membuka peluang penguatan jangka pendek apabila sentimen eksternal mulai membaik. Sementara itu, sektor yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan.

Emiten dengan eksposur utang dolar AS besar berpotensi mengalami volatilitas lebih tinggi selama rupiah belum stabil. Secara teknikal, Nafan memproyeksikan area support IHSG berada di level 6.715 dan 6.590, sedangkan resistance berada di level 6.917 hingga 7.014.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya