Liputan6.com, Kampar: Lagu Jagalah Hati yang biasa dikumandangkan Kiai Haji Abdullah Gymnastiar memenuhi ruangan rapat Bupati Kampar, Riau, belum lama berselang. Sang pelantun tak lain adalah Bupati Kampar Jefri Noer yang mantan preman itu. Siang itu, dia sengaja mengumpulkan beberapa pejabat di bawahnya untuk membahas sesuatu sekaligus mengajak merenung. Kepada setiap pejabat yang hadir, Jefri memberikan peti mati mungil plus patung berbentuk jenazah.
Boleh dibilang cara Jefri menarik dan unik. Padahal dia cuma bermaksud mengajak bawahannya untuk tidak berbuat korupsi. Namun dengan pendekatan keagamaan, dia memberikan peti mati tersebut sebagai bahan perenungan bahwa setiap insan bila saatnya nanti bakal bernasib sama.
Cara lain yang biasa digunakan Jefri adalah dengan menyanyikan lagu-lagu bernuansa Islam. Dia biasa memulai rapat dengan menyanyi. Dia juga kerap kali mengingatkan bawahannya untuk tidak lupa diri. Jefri selalu mengatakan bahwa jabatan seperti candu yang bisa membuat orang lupa kepada Sang Pencipta. Padahal, manusia diwajibkan mengabdi kepada-Nya.
Bupati yang dijuluki urang bagak atau preman pemberani ini memang lebih cenderung menggunakan pendekatan keagamaan dalam memimpin. Itu pula yang menyebabkannya selalu bersafari dakwah ke masjid-masjid. Dia memasukkan hal itu sebagai program kerja. Dia memaksa para pejabat di bawahnya untuk melihat kondisi riil masyarakat yang ada di sepanjang jalan menuju masjid, selain juga meminta mereka berdialog dengan warga. Bila kelelahan, tak jarang mantan preman ini tidur di masjid. Kalau sudah begitu, sejumlah bawahannya turut serta di dekatnya.(SID/Yusril Ardanis)
Boleh dibilang cara Jefri menarik dan unik. Padahal dia cuma bermaksud mengajak bawahannya untuk tidak berbuat korupsi. Namun dengan pendekatan keagamaan, dia memberikan peti mati tersebut sebagai bahan perenungan bahwa setiap insan bila saatnya nanti bakal bernasib sama.
Cara lain yang biasa digunakan Jefri adalah dengan menyanyikan lagu-lagu bernuansa Islam. Dia biasa memulai rapat dengan menyanyi. Dia juga kerap kali mengingatkan bawahannya untuk tidak lupa diri. Jefri selalu mengatakan bahwa jabatan seperti candu yang bisa membuat orang lupa kepada Sang Pencipta. Padahal, manusia diwajibkan mengabdi kepada-Nya.
Bupati yang dijuluki urang bagak atau preman pemberani ini memang lebih cenderung menggunakan pendekatan keagamaan dalam memimpin. Itu pula yang menyebabkannya selalu bersafari dakwah ke masjid-masjid. Dia memasukkan hal itu sebagai program kerja. Dia memaksa para pejabat di bawahnya untuk melihat kondisi riil masyarakat yang ada di sepanjang jalan menuju masjid, selain juga meminta mereka berdialog dengan warga. Bila kelelahan, tak jarang mantan preman ini tidur di masjid. Kalau sudah begitu, sejumlah bawahannya turut serta di dekatnya.(SID/Yusril Ardanis)