Liputan6.com, Jakarta - Pekan ini, perdagangan saham di pasar modal Indonesia hanya berlangsung tiga seiring ada libur nasional dan cuti bersama Kenaikan Yesus Kristus. Namun, pekan ini, ada sejumlah peristiwa penting yang mempengaruhi pasar keuangan antara lain penyesuaian ulang indeks saham Indonesia oleh MSCI dan data inflasi Amerika Serikat (AS) dengan harapan pada terhadap penurunan suku bunga.
Mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, ditulis Sabtu (16/5/2026), IHSG melemah ke posisi 6.723. Investor asing mencatat aksi jual saham sekitar USD 96 juta atau Rp 1,68 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.570).
Advertisement
Pada pekan ini, sektor saham kesehatan dan energi bebani IHSG dengan masing-masing turun 5,69% dan 3,59%. Di sisi lain, sektor saham transportasi dan logistic menguat 3,49%.
Dari sentimen global, berita utama masih dari perkembangan seputar Selat Hormuz dan pernyataan pemimpin dunia terhadap perang dunia. Akan tetapi, gencatan senjata masih berlaku tetapi pasar melihat kerapuhan situasi saat ini dan memprediksi inflasi yang lebih tinggi dengan durasi konflik lebih lama.
Selain itu, dari data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan inflasi yang lebih tinggi untuk inflasi tahunan dan inflasi inti. Inflasi AS pada April 2026 tercatat 3,8% dari survei 3,7%. Inflasi ini termasuk tertinggi sejak Mei 2023. Selain itu, inflasi inti tercatat 2,8% pada April lebih tinggi dari survei 2,7%.
“Harga energi yang lebih tinggi karena konflik yang berkepanjangan terus meningkatkan tekanan pada harga. Bahkan inflasi inti yang sudah tidak termasuk harga makanan dan energi menunjukkand ata lebih tinggi dari perkiraan karena harga jasa dan tempat tinggal,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia.
Sentimen Global
Di sisi lain, Senat Amerika Serikat menunjuk ketua the Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh sebelum masa jabatan Powell berakhir. Kevin Warsh akan mengambil peran penting dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Juni.
“Pasar telah memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga yang lebih kecil tahun ini dan data inflasi terbaruk bahkan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga. Kemungkinan suku bunga naik pada akhir tahun berdasarkan data dari CME FedWatch,” demikian seperti dikutip.
Selain itu, pasar terus mengawasi pernyataan ketua the Fed yang baru terkait independensi the Fed, risiko inflasi dan panduan suku bunga.
Dari sentimen domestik, Indonesia terus mengalami devaluasi rupiah ke titik terlemah seiring mencapai di atas 17.500 di tengah ketidakpastian global yang berkelanjutan. Ditambah faktor musiman yang berkontribusi pada pelemahan seperti dividen dan pembayaran utang.Seiring hal itu, pemerintah masih bertindak untuk menstabilkan mata uang dengan intervensi.
Pengumuman MSCI Agustus Masih jadi Sorotan
Di sisi saham, MSCI telah mengumumkan hasil penyesuaian indeks saham Indonesia yang akan berlaku efektif pada akhir Mei. Dari hasil penyesuaian MSCI, ada enam saham keluar dari global standard indeks dan 13 saham emiten dari small cap. Sedangkan satu saham pindah dari global standar ke small cap.
Ashmore melihat pengumuman selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah tinjauan pada Agustus yang akan berlaku efektif September 2026. “Kabar baiknya adalah ancaman turun menjadi frontier market tidak terwujud dan indeks MSCI mempertahankan nama-nama berkualitas yang tetap berada dalam lingkup investasi kami yang dapat menarik arus masuk relatif setelah penyesuaian ulang,”
Ashmore menilai, pasar juga telah mengantisipasi sebagian besar tindakan yang diambil MSCI sehingga koreksi pada Rabu, 13 Mei 2026 relatif terkendali.
"Dalam kondisi pasar saat ini, volatilitas tetap tinggi dengan berita utama sebagai pendorong utama,”