Liputan6.com, Beijing - Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, China terus memperkuat sektor militer dan industri strategisnya, meski di saat bersamaan menghadapi perlambatan ekonomi, krisis properti, dan melemahnya daya beli masyarakat.
Lebih dari satu dekade sejak Xi berkuasa, Beijing menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk mempercepat pengembangan kecerdasan buatan, semikonduktor, kendaraan listrik, robotika, hingga energi strategis. Langkah itu menjadi bagian dari visi “kebangkitan nasional” Tiongkok yang menempatkan keamanan negara dan kemandirian industri sebagai prioritas utama, dikutip dari laman WSJ, Selasa (12/5/2026).
Advertisement
Namun di balik kemajuan teknologi dan militer tersebut, ekonomi domestik Tiongkok justru menghadapi tekanan besar. Krisis sektor properti yang berkepanjangan telah menghapus triliunan dolar nilai kekayaan masyarakat, sementara kepercayaan konsumen dan pasar tenaga kerja terus melemah.
Di sejumlah kota industri, perlambatan ekonomi mulai terasa nyata. Di Foshan, pusat manufaktur di dekat Hong Kong yang sebelumnya tumbuh pesat berkat industri bahan bangunan dan furnitur, banyak pabrik kini kosong dan memasang papan “disewakan”.
Pertumbuhan ekonomi Foshan pada tahun lalu hanya mencapai 0,2 persen. Pemerintah daerah berupaya mengembangkan industri robotika sebagai mesin pertumbuhan baru, namun skalanya dinilai belum cukup besar untuk menggantikan kontribusi sektor properti dan manufaktur tradisional.
“Sekarang semua orang takut tahun depan tidak ada uang lagi yang bisa dihasilkan,” kata agen perekrutan lokal, Yang Guolü.
Fokus pada Keamanan dan Teknologi
Sejak menjabat, Xi Jinping mendorong peningkatan besar pada belanja pertahanan dan sektor teknologi strategis. Pengeluaran militer Tiongkok dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding awal masa kepemimpinannya, termasuk kenaikan sekitar 7 persen sepanjang 2024.
Tiongkok juga memperluas arsenal nuklir dan menambah kapal induk baru untuk memperkuat posisi militernya di kawasan.
Dalam pidato Tahun Baru terbaru, Xi hampir tidak menyinggung persoalan ekonomi domestik. Ia lebih banyak menyoroti peningkatan kekuatan nasional Tiongkok, termasuk peluncuran kapal induk tercanggih dan kemajuan robotika.
Menurut sejumlah analis, pendekatan Xi menunjukkan bahwa Beijing kini lebih menempatkan stabilitas politik dan keamanan nasional di atas pertumbuhan ekonomi semata.
“Xi dapat mengorbankan ekonomi demi pertimbangan politik, tetapi tidak pernah sebaliknya,” kata pakar politik Tiongkok dari Universitas Stanford, Guoguang Wu.
Perlambatan Ekonomi dan Lapangan Kerja
Berakhirnya ledakan sektor properti disebut menjadi salah satu penyebab utama melambatnya ekonomi Tiongkok. Banyak lapangan kerja hilang dan belum sepenuhnya tergantikan oleh sektor teknologi baru yang sedang dikembangkan pemerintah.
Data Rhodium Group menunjukkan kontribusi sektor properti dan konstruksi perumahan terhadap produk domestik bruto Tiongkok turun menjadi 11 persen tahun lalu, dari sebelumnya 16 persen pada 2023.
Sebaliknya, kontribusi enam sektor strategis yang diprioritaskan Xi—termasuk baterai lithium-ion dan robotika—naik menjadi 6,3 persen dari PDB.
Meski ekonomi Tiongkok masih tumbuh 5 persen pada 2024 sesuai target pemerintah, angka tersebut jauh lebih rendah dibanding era pertumbuhan dua digit yang pernah dialami negara itu.
Ekspektasi Hidup
Di tengah perlambatan tersebut, banyak warga mulai menurunkan ekspektasi hidup mereka. Lu Ziqi, seorang desainer grafis yang kehilangan pekerjaan pada Desember lalu, mengaku kini bersedia menerima gaji jauh lebih rendah dibanding sebelumnya.
“Saya harus lebih rendah hati dalam tuntutan saya,” katanya.
Sementara itu, pekerja pabrik veteran asal Sichuan, Liang Youjun, mengaku tetap harus bekerja meski mendekati usia 60 tahun karena khawatir menjadi beban bagi keluarganya di tengah ekonomi yang semakin sulit.
“Dulu kalau bekerja di pabrik, hidup terjamin. Sekarang semuanya tidak pasti,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah Tiongkok terus menekankan pembangunan sektor teknologi, AI, energi, dan manufaktur strategis sebagai fondasi kekuatan nasional jangka panjang, meski dampak perlambatan ekonomi masih dirasakan luas oleh masyarakat.