Ini Biang Kerok yang Bikin Rupiah Melemah ke 17.500

In faktor penyebab yang membuat rupiah terpuruk ke 17.500 per dolar AS.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 12 Mei 2026, 12:20 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Mata uang rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya sentimen negatif dari luar maupun dalam negeri.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah kali ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Mulai dari memanasnya konflik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, hingga kekhawatiran pasar terhadap keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait posisi pasar saham Indonesia.

"Ya, hari ini Rupiah terus mengalami pelemahan. sudah menyentuh di level Rp17.500. Yang menyebabkan Rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan ada beberapa faktor. Pertama adalah faktor eksternal, yang kedua adalah faktor internal," kata Ibrahim kepada Media, Selasa (12/5/2026).

Ibrahim menjelaskan, ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kepanikan pasar global. Hal itu terjadi setelah Amerika Serikat menolak proposal Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar, sehingga memicu ketidakpastian baru di kawasan Selat Hormuz.

Menurutnya, meski sempat muncul narasi bahwa konflik mulai mereda, kenyataannya serangan-serangan kecil masih terus terjadi. Bahkan, aksi saling serang antara Iran dan pasukan Amerika disebut masih berlangsung hingga kini.

Situasi semakin memanas setelah Uni Emirat Arab disebut terus melakukan serangan terhadap Iran, termasuk serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan pada awal April lalu.

Kondisi tersebut dinilai memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dunia. Akibat meningkatnya tensi geopolitik, indeks dolar AS kembali menguat.

"Nah, ini yang membuat indeks dolar kembali lagi mengalami penguatan yang cukup signifikan, sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah terutama dalam BRENT crude oil," ujarnya.

 

Pasar Menunggu Pengumuman MSCI terhadap Indonesia

Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

 

Selain faktor global, pelaku pasar juga tengah menanti keputusan MSCI terkait evaluasi pasar saham Indonesia. Kekhawatiran muncul karena adanya potensi penurunan peringkat maupun keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks global tersebut.

Ibrahim mengatakan, sentimen MSCI menjadi salah satu faktor yang membuat investor asing cenderung menahan diri dan memilih keluar dari aset berisiko di Indonesia. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah semakin besar dalam beberapa hari terakhir.

"Di sisi lain pun juga pasar sedang menunggu release data dari MSCI tentang keputusan MSCI yang menurunkan peringkat saham di Indonesia. Kemudian menurunkan peringkat juga. Ini menunggu dalam tiga hari ini. Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya