Menanti Data Inflasi AS, Rupiah Diprediksi masih Melemah

Nilai tukar rupiah diprediksi fluktuatif dan berpotensi melemah ke rentang Rp 17.410 - Rp 17.460 per dolar AS hari ini imbas menanti data inflasi AS.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 12 Mei 2026, 10:40 WIB
Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin 11 Mei 2026. Tampak dalam foto, karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Rabu (5/5/2026). (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (12/5/2026) di tengah tingginya perhatian pelaku pasar terhadap sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS). Sentimen global diperkirakan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan mata uang rupiah.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memprediksi, rupiah pada perdagangan hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di kisaran Rp 17.410 hingga Rp 17.460 per dolar AS.

“Mata uang rupiah fluktuatif. Namun, ditutup melemah direntang Rp 17.410 - Rp 17.460,” kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Selasa (12/5/2026).

Menurut Ibrahim, pasar saat ini tengah menanti rilis data inflasi AS periode April, khususnya Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) serta Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI). Kedua data tersebut dinilai akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Selain data inflasi, pelaku pasar juga mencermati rilis data Penjualan Ritel AS yang mencerminkan tingkat konsumsi masyarakat. Di sisi lain, pidato sejumlah pejabat Federal Reserve juga diperkirakan akan memberikan sinyal terkait peluang penurunan maupun penahanan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Ia menambahkan, ketidakpastian arah kebijakan moneter global membuat pergerakan rupiah berpotensi bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melemah.

“Minggu ini, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data inflasi AS bulan April, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI). Bersamaan dengan itu, data Penjualan Ritel dan pidato para pejabat Federal Reserve juga akan menjadi perhatian pasar,” ujarnya.

 

Rupiah Melemah pada Senin 11 Mei 2026

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin 11 Mei 2026. Tampak dalam foto, karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Rabu (5/5/2026). (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Adapun nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin 11 Mei 2026. Kurs rupiah melemah 32 poin atau 0,18 persen menjadi 17.414 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 17.382 per dolar AS.

Ibrahim Assuaibi menganggap pelemahan rupiah dipengaruhi penolakan Iran terhadap proposal perdamaian oleh AS.

“Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS sama sekali tidak dapat diterima, sehingga meningkatkan risiko geopolitik,” ujarnya.

Komentar tersebut dinilai meredam harapan akan meredanya ketegangan dalam waktu dekat di kawasan Teluk.

Proposal AS yang ditawarkan menginginkan penghentian kegiatan pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan persediaan uranium yang sangat diperkaya, dan pembongkaran fasilitas nuklir utama sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer.

Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, dan pengakuan hak Iran untuk melanjutkan beberapa aktivitas nuklir.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya