Pakistan Hadapi Tekanan Demografi, Populasi Tembus 255 Juta

Setiap tahun, Pakistan diperkirakan menambah sekitar 6,2 juta penduduk baru.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 10 Mei 2026, 10:31 WIB
Orang-orang menunggu kereta penumpang untuk pulang ke kampung halaman untuk Hari Raya Idul Fitri yang akan datang, sekaligus menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, di sebuah stasiun kereta api di Karachi, Pakistan, Selasa 17 Maret 2026. Serupa dengan Indonesia, Pakistan memiliki tradisi mudik saat menyambut Hari Raya Idul Fitri. (AP Photo/Ali Raza)

Liputan6.com, Islamabad - Pakistan tengah menghadapi tekanan demografis yang semakin besar seiring laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat pesat dan belum menunjukkan tanda perlambatan.

Dengan jumlah penduduk yang kini telah melampaui 255 juta jiwa, negara tersebut berada di jalur untuk menjadi salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, demikian dikutip dari laman Maldivesinsight, Minggu (10/5/2026).

Peringatan dari otoritas kesehatan Pakistan menyebutkan bahwa negara itu berpotensi segera menempati posisi sebagai negara terpadat keempat di dunia. Kondisi ini kembali menyoroti tantangan jangka panjang yang selama ini telah diketahui, namun dinilai belum ditangani secara konsisten.

Setiap tahun, Pakistan diperkirakan menambah sekitar 6,2 juta penduduk baru. Angka ini setara dengan populasi sebuah negara berukuran menengah, dan mencerminkan tekanan pertumbuhan yang berkelanjutan terhadap berbagai sektor.

Pertumbuhan penduduk yang cepat memberikan dampak langsung pada layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Rumah sakit di berbagai wilayah dilaporkan mengalami kelebihan kapasitas, sementara keterbatasan fasilitas dan tenaga medis memperlebar kesenjangan antara kebutuhan dan layanan yang tersedia.

Di sektor pendidikan, kondisi serupa juga terjadi. Sekolah-sekolah, baik di perkotaan maupun pedesaan, menghadapi lonjakan jumlah siswa yang tidak sebanding dengan kapasitas ruang kelas. Akibatnya, kepadatan kelas menjadi persoalan umum, sementara jutaan anak masih belum terjangkau sistem pendidikan formal.

Tekanan demografis juga terlihat jelas di kawasan perkotaan. Urbanisasi yang berlangsung cepat mendorong pertumbuhan permukiman informal yang kerap tidak memiliki akses memadai terhadap air bersih, sanitasi, maupun transportasi publik.

Sejumlah kota besar menghadapi masalah kemacetan parah, beban berlebih pada infrastruktur dasar, serta penurunan kualitas lingkungan. Krisis air juga mulai muncul di beberapa wilayah, diperburuk oleh pengelolaan sumber daya yang dinilai belum optimal.

 

Ketidakseimbangan Pasar Kerja

Kereta pun penuh sesak, bahkan beberapa penumpang, meski berbahaya, terpaksa duduk di atas atap. Tampak dalam foto, orang-orang menunggu untuk naik kereta penumpang untuk pulang ke kampung halaman untuk Hari Raya Idul Fitri yang akan datang, sekaligus menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, di sebuah stasiun kereta api di Karachi, Pakistan, Selasa 17 Maret 2026. (AP Photo/Ali Raza)

Dari sisi ekonomi, Pakistan menghadapi tantangan dalam menyerap angkatan kerja yang terus bertambah setiap tahun. Struktur demografis yang didominasi kelompok usia muda menciptakan potensi bonus demografi, namun juga menuntut penciptaan lapangan kerja dalam jumlah besar.

Saat ini, pertumbuhan kesempatan kerja dinilai belum mampu mengimbangi laju penambahan tenaga kerja. Kondisi tersebut memicu meningkatnya pengangguran dan pekerjaan tidak tetap, terutama di sektor informal yang minim perlindungan sosial.

Para pengamat menilai persoalan utama tidak hanya terletak pada pertumbuhan penduduk, tetapi juga pada lemahnya koordinasi kebijakan lintas sektor. Kebijakan kependudukan, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi disebut masih berjalan secara terpisah sehingga kurang efektif.

Di sisi lain, akses terhadap layanan keluarga berencana masih terbatas di sejumlah wilayah, terutama daerah pedesaan. Hambatan sosial dan budaya juga dinilai turut memengaruhi rendahnya pemanfaatan layanan tersebut, khususnya bagi perempuan dalam mengambil keputusan terkait kesehatan reproduksi.

 

Tantangan Jangka Panjang

Meski begitu, mayoritas umat muslim Pakistan akan berusaha pulang ke kampaung halaman untuk merayakan hari raya bersama keluarga. Tradisi ini menjadi penanda kekuatan ikatan kekeluargaan umat Muslim di Pakistan. Tampak dalam foto, orang-orang menunggu kereta penumpang untuk pulang ke kampung halaman untuk Hari Raya Idul Fitri yang akan datang, sekaligus menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, di sebuah stasiun kereta api di Karachi, Pakistan, Selasa 17 Maret 2026. (AP Photo/Ali Raza)

Dengan lebih dari separuh penduduk berusia di bawah 30 tahun, Pakistan berada pada titik kritis yang dapat menentukan arah pembangunan jangka panjang. Namun, manfaat dari struktur demografi tersebut bergantung pada kemampuan negara dalam menyediakan pendidikan, layanan kesehatan, dan lapangan kerja yang memadai.

Tanpa kebijakan yang terkoordinasi dan berkelanjutan, tekanan dari pertumbuhan penduduk diperkirakan akan terus melampaui kapasitas sistem yang ada. Dalam konteks ini, persoalan demografi bukan hanya menjadi isu statistik, melainkan faktor penting yang membentuk masa depan sosial dan ekonomi Pakistan.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya