PPIH Jelaskan Sistem Buka Tutup di Terminal Ajyad yang Sempat Dikeluhkan Jemaah Haji

PPIH menilai sistem buka tutup di Terminal Ajyad merupakan langkah pengamanan yang diperlukan di tengah tingginya mobilitas jemaah dari Masjidil Haram.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 11 Mei 2026, 09:38 WIB
Jemaah haji Indonesia di Terminal Ajyad, Makkah, usai salat isya berjamaah di Masjidil Haram, Sabtu malam, 9 Mei 2026. (Foto: dok. Media Center Haji 2026)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Bidang Transportasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Syarif Rahman, angkat bicara soal sistem buka tutup satu pintu di Terminal Ajyad, Makkah, yang belakangan dikeluhkan sebagian jemaah haji.

Menurut dia, sistem tersebut diterapkan untuk menjaga keselamatan jemaah saat kepulangan dari Masjidil Haram, terutama di jam sibuk.

“Setiap menjelang kepulangan jemaah haji Indonesia dari Masjidil Haram setelah salat fardu, terutama salat Isya, salat Subuh, dan salat Jumat, di Terminal Ajyad memang dilakukan sistem buka tutup pintu,” kata Syarif di Makkah, Sabtu, 9 Mei 2026.

Menurut dia, sistem tersebut merupakan bagian dari penataan baru di Terminal Ajyad setelah pada tahun-tahun sebelumnya sering terjadi kepadatan tidak terkendali di area naik bus shalawat.

Ia menjelaskan, sebelumnya jemaah dapat langsung menuju bus tanpa pembatas jalur yang jelas. Kondisi itu membuat antrean tidak tertib dan memicu sejumlah insiden keselamatan.

“Tahun-tahun sebelumnya belum ada pagar yang membatasi antara koridor jemaah dengan bus. Jemaah bisa langsung naik bus, tapi kemudian tidak beraturan dan itu membahayakan jemaah,” ujar Syarif.

Di musim haji terdahulu, beberapa jemaah dilaporkan sempat jatuh tersungkur hingga nyaris tertabrak bus akibat kepadatan di area terminal.

Tahun ini, petugas layanan transportasi menata ulang Terminal Ajyad dengan membuat koridor khusus pejalan kaki dan pintu masuk menuju area bus shalawat. Bus juga diatur berdasarkan urutan nomor rute agar proses keberangkatan lebih tertib.

 

Banyak yang Belum Memahami

Syarif mengatakan, pintu terminal akan ditutup sementara ketika seluruh bus di dalam area sudah penuh dan diberangkatkan. “Ketika bus sudah penuh, lalu diberangkatkan, pintu ditutup supaya jemaah menunggu bus kosong datang lagi dan ditata kembali,” jelasnya.

Menurut dia, sebagian jemaah belum memahami mekanisme tersebut sehingga muncul anggapan bahwa petugas sengaja menahan jemaah di luar terminal.

“Seolah-olah jemaah merasa ditahan, pintu tidak dibuka dan sebagainya, padahal sistem buka tutup itu sebenarnya untuk kepentingan keselamatan jemaah,” ujar Syarif.

Ia meminta ketua regu, ketua rombongan, dan ketua kloter ikut memberikan pemahaman pada jemaah terkait sistem tersebut. Syarif mengimbau jemaah tetap tenang dan tidak berbondong-bondong menuju terminal dalam waktu bersamaan.

Menurut Syarif, kepadatan dapat berkurang apabila jemaah mengatur waktu kepulangan secara lebih fleksibel. “Saya amati tadi bongkaran salat Isya itu 58 menit bersih untuk seluruh jemaah di Misfalah. Menurut kami ini hal baik demi keselamatan jemaah,” katanya.

 

Siapkan Langkah Antisipasi

Petugas juga menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menjelang seluruh jemaah Indonesia tiba di Makkah. Salah satunya dengan mengatur pola kepulangan jemaah dari Masjidil Haram agar tidak menumpuk pada jam yang sama.

Pihaknya akan berkoordinasi dengan petugas bimbingan ibadah, sektor, dan petugas kloter untuk mengimbau jemaah menyesuaikan waktu keluar dari masjid.

“Mereka boleh ke Masjidil Haram, tapi keluarnya bisa satu jam, satu setengah jam, atau dua jam setelah salat supaya meminimalisir crowded jemaah,” ujar Syarif.

Selain itu, petugas juga mengupayakan pembukaan dua pintu akses di Terminal Ajyad agar arus jemaah menuju bus shalawat dapat lebih lancar.

“Mudah-mudahan dua pintu bisa terbuka sehingga jemaah lebih tertib,” tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya