Trump Sebut Respons Iran atas Proposal AS Tidak Dapat Diterima

Selat Hormuz, program nuklir, dan sanksi adalah cakupan isu yang menjadi perhatian utama baik AS maupun Iran dalam proses perundingan.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 11 Mei 2026, 08:11 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert)

Liputan6.com, Teheran - Iran telah mengirimkan tanggapannya terhadap proposal Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang melalui mediator Pakistan. Demikian menurut kantor berita Iran, IRNA.

Laporan yang muncul pada Minggu (10/5/2026) tersebut menyebutkan bahwa berdasarkan rencana yang diusulkan, tahap pertama negosiasi akan berfokus pada penghentian permusuhan dan memastikan "keamanan maritim" di Teluk dan Selat Hormuz.

"Tanggapan kami berfokus pada mengakhiri perang di seluruh kawasan, khususnya di Lebanon, dan menyelesaikan perbedaan dengan Washington," kata seorang sumber resmi Iran kepada Al Jazeera.

Sumber tersebut mengatakan bahwa tanggapan Iran mencakup "negosiasi mengenai Selat Hormuz, program nuklir, dan pencabutan sanksi."

Sumber yang sama menambahkan bahwa tanggapan Iran bersifat "realistis dan positif".

"Respons positif Washington terhadap tanggapan kami akan mendorong negosiasi bergerak maju dengan cepat. Pilihan sekarang berada di tangan Washington," ujarnya.

Namun, dalam pernyataan pertamanya sejak perkembangan tersebut, Presiden AS Donald Trump pada Minggu malam menuduh Iran "mempermainkan situasi".

"Iran telah mempermainkan AS dan seluruh dunia selama 47 tahun," tulis presiden tersebut di Truth Social. "Mereka tidak akan tertawa lagi!"

Dua jam kemudian, ia kembali menulis di platform yang sama, "Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!"

Washington mengirimkan proposal berisi 14 poin kepada Teheran awal pekan lalu. Berdasarkan syarat-syarat tersebut, Iran harus setuju untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan menghentikan seluruh pengayaan uranium setidaknya selama 12 tahun. Iran juga diwajibkan menyerahkan sekitar 440 kilogram persediaan uranium yang diperkaya hingga 60 persen.

Sebagai imbalannya, AS akan secara bertahap mencabut sanksi, membebaskan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan, serta menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Perkembangan ini terjadi hanya sepekan sebelum Trump dijadwalkan mengunjungi China, yang merupakan salah satu importir terbesar minyak Iran dan memiliki kepentingan strategis di negara tersebut.

Blokade Hormuz

AS dan Iran telah saling serang di Selat Hormuz selama sepekan terakhir, namun kedua negara belum mengumumkan runtuhnya gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April.

Trump meyakini bahwa Iran "sedang runtuh secara finansial" dan kehilangan jutaan dolar setiap hari akibat blokade angkatan laut Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang dimulai pada 13 April.

Meski blokade tersebut merugikan Iran, para analis menilai negara itu memiliki kemampuan ekonomi dan kemauan politik untuk bertahan.

Ketua parlemen Iran sekaligus kepala negosiator dalam pembicaraan gencatan senjata, Mohammad Bagher Ghalibaf, beberapa waktu lalu mengatakan bahwa gencatan senjata penuh hanya dapat berjalan jika blokade laut AS dicabut.

Sebagai respons terhadap tindakan AS, Iran menutup Selat Hormuz bagi seluruh kapal asing dan menangkap sejumlah kapal berbendera asing. Sebelumnya, Iran masih mengizinkan beberapa kapal negara "sahabat" untuk melintas.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya