Liputan6.com, Bandung: Suasana duka menggelayuti keluarga Ahmad Sakri, mantan karyawan PT Dirgantara Indonesia yang meninggal saat berunjuk rasa di Jakarta. Rasa kehilangan tak bisa disembunyikan Martini, istri almarhum. Ibu satu anak ini belum siap menerima musibah tersebut. "Dia sehat waktu pergi," kata Martini ketika ditemui SCTV di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (4/9).
Sakri terserang stroke saat bersama ribuan mantan karyawan PT DI yang berkonvoi mendesak pemerintah membatalkan keputusan merumahkan karyawan perusahaan industri pesawat terbang itu. [Baca: Jenazah Karyawan PT DI Dimakamkan Hari Ini]. Sakri sakit ketika para karyawan berdemonstrasi di Kantor Menteri Dalam Negeri Badan Usaha Milik Negara, Kamis silam.
Di mata istrinya, Sakri adalah suami dan ayah yang bertanggung jawab. Pria ini diakui Martini sangat menyayangi keluarga dan suka menolong orang lain tanpa pamrih. Rasa tanggung jawab pada keluarga inilah yang mendorongnya bersama teman-temannya berunjuk rasa ke Jakarta. Sosok humoris yang teguh membela kebenaran ini nekat memperjuangan nasibnya PT DI meski kondisi tubuhnya tidak terlalu sehat. Kekhawatiran istrinya juga tidak diindahkan.
Martini berkisah, suaminya adalah lulusan Akademi Industri Logam Bandung, yang bekerja di PT DI sejak 1986. Dia dirumahkan setelah mengabdi selama 17 tahun. Sejak diberhentikan, kondisi ekonomi keluarga ini merosot drastis. Akhirnya Martini berjualan kue yang dipasarkan ke warung-warung di derahnya. Itu dilakukan karena sang anak yang duduk di bangku kelas tiga sekolah lanjutan tingkat pertama harus tetap melanjutkan pendidikan hingga lulus sarjana. Itulah harapan suaminya sebelum meninggal dunia.(TNA/Patria Hidayat)
Sakri terserang stroke saat bersama ribuan mantan karyawan PT DI yang berkonvoi mendesak pemerintah membatalkan keputusan merumahkan karyawan perusahaan industri pesawat terbang itu. [Baca: Jenazah Karyawan PT DI Dimakamkan Hari Ini]. Sakri sakit ketika para karyawan berdemonstrasi di Kantor Menteri Dalam Negeri Badan Usaha Milik Negara, Kamis silam.
Di mata istrinya, Sakri adalah suami dan ayah yang bertanggung jawab. Pria ini diakui Martini sangat menyayangi keluarga dan suka menolong orang lain tanpa pamrih. Rasa tanggung jawab pada keluarga inilah yang mendorongnya bersama teman-temannya berunjuk rasa ke Jakarta. Sosok humoris yang teguh membela kebenaran ini nekat memperjuangan nasibnya PT DI meski kondisi tubuhnya tidak terlalu sehat. Kekhawatiran istrinya juga tidak diindahkan.
Martini berkisah, suaminya adalah lulusan Akademi Industri Logam Bandung, yang bekerja di PT DI sejak 1986. Dia dirumahkan setelah mengabdi selama 17 tahun. Sejak diberhentikan, kondisi ekonomi keluarga ini merosot drastis. Akhirnya Martini berjualan kue yang dipasarkan ke warung-warung di derahnya. Itu dilakukan karena sang anak yang duduk di bangku kelas tiga sekolah lanjutan tingkat pertama harus tetap melanjutkan pendidikan hingga lulus sarjana. Itulah harapan suaminya sebelum meninggal dunia.(TNA/Patria Hidayat)