Liputan6.com, Jakarta: Presiden Megawati Sukarnoputri memimpin Upacara "Mengenang Tragedi Nasional Akibat Pengkhianatan terhadap Pancasila" di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (1/10) pagi. Kehadiran presiden dan wakil presiden masih simpang siur karena hingga Selasa malam belum diperoleh konfirmasi dari Sekretariat Negara.
Turut hadir dalam upacara itu Wapres Hamzah Haz, Ketua MPR Amien Rais, Ketua DPR Akbar Tandjung, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Kapolri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar, sejumlah menteri kabinet, dan duta besar.
Presiden Megawati hanya memimpin mengheningkan cipta, tapi tidak memberi sambutan. Selanjutnya Ketua MPR membacakan naskah Pancasila, dilanjutkan dengan pembacaan pembukaan Undang Undang Dasar 1945 oleh Menteri Pendidikan Nasional, Malik Fadjar. Setelah itu Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar memimpin doa sebagai penutup upacara. Tidak ada pembacaan ikrar oleh Ketua DPR seperti di era Presiden Soeharto.
Seusai acara, presiden dan wapres langsung menuju kendaraan masing-masing dan meninggalkan kawasan Lubang Buaya. Presiden tidak meninjau sumur tua tempat para pahlawan revolusi dibenamkan dan rumah tempat penyiksaan. Sedangkan pejabat tinggi lainnya menyempatkan diri meninjau tempat-tempat tersebut dan berbincang dengan keluarga Pahlawan Revolusi.
Upacara serupa juga digelar di beberapa daerah, termasuk di halaman Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Jawa Timur. Peringatan Tragedi Nasional di Surabaya berlangsung khidmat, meski sangat sederhana. Upacara yang dihadiri tokoh-tokoh veteran pejuang ini dipimpin Gubernur Jatim Imam Utomo. Tak seperti perayaan hari Ulang Tahun Kemerdekan RI 17 Agustus silam, pengamanan peringatan Tragedi Nasional ini tidak terlalu ketat. Upacara ini bahkan tidak sampai menutup jalan yang ada di depan Gedung Grahadi.(COK/Setneg dan Antara)
Turut hadir dalam upacara itu Wapres Hamzah Haz, Ketua MPR Amien Rais, Ketua DPR Akbar Tandjung, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Kapolri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar, sejumlah menteri kabinet, dan duta besar.
Presiden Megawati hanya memimpin mengheningkan cipta, tapi tidak memberi sambutan. Selanjutnya Ketua MPR membacakan naskah Pancasila, dilanjutkan dengan pembacaan pembukaan Undang Undang Dasar 1945 oleh Menteri Pendidikan Nasional, Malik Fadjar. Setelah itu Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar memimpin doa sebagai penutup upacara. Tidak ada pembacaan ikrar oleh Ketua DPR seperti di era Presiden Soeharto.
Seusai acara, presiden dan wapres langsung menuju kendaraan masing-masing dan meninggalkan kawasan Lubang Buaya. Presiden tidak meninjau sumur tua tempat para pahlawan revolusi dibenamkan dan rumah tempat penyiksaan. Sedangkan pejabat tinggi lainnya menyempatkan diri meninjau tempat-tempat tersebut dan berbincang dengan keluarga Pahlawan Revolusi.
Upacara serupa juga digelar di beberapa daerah, termasuk di halaman Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Jawa Timur. Peringatan Tragedi Nasional di Surabaya berlangsung khidmat, meski sangat sederhana. Upacara yang dihadiri tokoh-tokoh veteran pejuang ini dipimpin Gubernur Jatim Imam Utomo. Tak seperti perayaan hari Ulang Tahun Kemerdekan RI 17 Agustus silam, pengamanan peringatan Tragedi Nasional ini tidak terlalu ketat. Upacara ini bahkan tidak sampai menutup jalan yang ada di depan Gedung Grahadi.(COK/Setneg dan Antara)