Cerita Tim Pemadam Cari Mata Air Usai Dikepung Titik Api di Argopuro

Hingga Minggu (18/10/2026) pagi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember mencatat sejumlah titik api aktif masih membakar vegetasi.

Diterbitkan 18 Oktober 2026, 13:42 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kobaran api masih terus mengintai kawasan Pegunungan Argopuro dan Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Hyang. Hingga Minggu (18/10/2026) pagi, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember mencatat sejumlah titik api aktif masih membakar vegetasi di medan sangat ekstrem.

​Kepala BKSDA Wilayah III Jember, Purwantono mengungkapkan bahwa pergerakan api pertama kali terdeteksi dari titik panas (hotspot) berkategori sedang melalui pemantauan satelit. Guna memastikan kondisi lapangan, tim BKSDA langsung bergerak melakukan penelusuran darat.

​"Petugas harus menembus medan terjal dengan berjalan kaki melalui jalur Taman Kursi menuju sisi timur Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang," ujar Purwanton, Minggu (18/10/2026).

 

Titik Api Diwaspadai

​Hasil pemantauan langsung pada Rabu (14/10/2026) sore mengonfirmasi adanya empat titik api yang berkobar di lereng Gunung Gundil dan lereng timur Gunung Kerincing. Situasi kian memburuk pada Kamis (15/10/2026) malam, tim lapangan mendapati jumlah titik api bertambah signifikan dan dapat terlihat jelas dari kawasan Cikasur.

​Dua titik yang paling diwaspadai adalah Gunung Semen dan Gunung Pandu karena lokasinya kian dekat dengan padang savana Cikasur.

Menghadapi potensi bahaya tersebut, Posko Pengendalian Kebakaran Hutan (Karhutla) mengambil langkah taktis dengan menginstruksikan tim evakuasi dan bergeser dari Cikasur menuju lokasi yang lebih aman di Mata Air 2.

​"Keputusan menggeser tim bukan berarti kami menyerah atau meninggalkan tugas, melainkan karena keselamatan personel adalah prioritas utama. Apalagi pergerakan api dan arah angin di pegunungan sangat sulit diprediksi," tegas Purwantono.

Dia menekankan bahwa strategi pemadaman harus selaras dengan mitigasi risiko bagi para petugas di lapangan. Medan yang ekstrem, vegetasi kering, serta angin kencang dapat berubah menjadi jebakan mematikan dalam hitungan detik.

​"Api bisa menyebar sangat cepat mengikuti kondisi angin dan vegetasi. Ketika area Cikasur mulai berisiko tinggi, kami wajib menarik tim ke titik aman. Pemadaman itu penting, tetapi keselamatan jiwa personel adalah batas yang tidak boleh dilampaui," ujar dia.

​Hingga saat ini, upaya pemadaman terus dilakukan di area-area yang masih memungkinkan untuk dijangkau. Petugas berfokus membuat sekat bakar (ilaran) guna menahan laju perambatan api agar tidak semakin meluas ke inti Suaka Margasatwa.