Purbaya Bakal Monitor Proyek Lahan PLTS Terapung Saguling

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, PLN, Pemprov Jawa Barat, Kementerian Kehutanan sepakat menyelesaikan hambatan proyek PLTS Saguling.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 07 Mei 2026, 16:26 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam sidang Debottlenecking, Kamis (7/5/2026). (Foto: Liputan6.com/Gagas YP)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menggelar sidang aduan kanal Debottlenecking untuk menyelesaikan persoalan lahan pada proyek PLTS Terapung Saguling. Ia memastikan, Pemprov Jawa Barat, PLN hingga Kementerian berkomitmen bergerak menyelesaikan proyek PLTS Terapung Saguling.

Proyek tersebut digarap PT Indo ACWA Tenaga Saguling (ACWA), perusahaan patungan PT PLN Indonesia Power Renewables dan ACWA Power. Dalam sidang itu, pemerintah bersama Pemprov Jawa Barat, PLN, dan Kementerian Kehutanan sepakat mempercepat penyelesaian hambatan proyek.

"Kalau begitu saya pikir sudah clear. Dalam rapat pagi ini, kendala Anda sudah kita hilangkan. Nanti, (Pemprov) Jawa Barat, PLN, Kehutanan (Kemenhut) semuanya berkomitmen untuk mempercepat proyek ini. Kita pastikan sebulan dari sekarang Anda sudah bisa bergerak. Kita monitor dari waktu ke waktu,” kata Purbaya dalam sidang Debottlenecking, Kamis (7/5/2026).

Pada kesempatan yang sama, CEO ACWA Power Indonesia Tim Anderson mengatakan, kendala utama proyek berasal dari belum terbitnya Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) dari Kementerian Kehutanan.

"Lahan yang dimiliki langsung oleh rekan-rekan kami dari Indonesia Power itu sudah aman. Lahan yang dimiliki warga setempat juga sudah kami peroleh melalui pembelian. Tinggal kurang lebih 4,4 kilometer yang dimiliki oleh Kementerian Kehutanan. Yaitu berarti untuk memakai special facilities tersebut, kami wajib punya izin PPKH," ujar Tim Anderson.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menyebut rekomendasi dari Pemprov Jabar belum diterbitkan karena kewajiban penyediaan lahan pengganti oleh PLN baru terpenuhi sekitar 159 hektare dari total 1.081 hektare.

"Sehingga kami pun mohon dengan segala kerendahan hati, komitmen dari PLN dan PT AQWA. Untuk PLN, kami mohon kewajiban Bapak untuk lahan pengganti itu 1.081 hektare di Jawa Barat, dan baru terpenuhi 14,7 persen atau 159 hektare. Jadi masih cukup besar kewajiban PLN untuk menyediakan lahan pengganti," jelas Herman.

PLTS Terapung Saguling 60 MWac merupakan proyek energi surya yang dibangun di atas Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dan masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).

 

PLN Bareng Arab Saudi Bangun PLTS Terapung di Waduk Saguling, Segini Kapasitasnya

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Cirata merupakan puncak atas kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Masdar dari Uni Emirat Arab. (BAY ISMOYO/AFP)

Sebelumnya,PLN Indonesia Power (PLN IP) bersama perusahaan Arab Saudi ACWA membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di atas permukaan air Waduk Saguling, Jawa Barat dengan kapasitas 60 MW.

Direktur Utama PLN Indonesia Power Edwin Nugraha Putra mengatakan, sebagai langkah awal pembangunan PLTS Terapung Saguling, PLN IP dan ACWA telah mendirikan perusahaan patungan PT Indo ACWA Tenaga Saguling, anak usaha tersebut pun telah melakukan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) atau Power Purchase Agreement (PPA).

"Dengan PPA ini semakin mempertegas keseriusan PLN Indonesia Power dalam mendorong transisi energi Tanah Air," kata Edwin, dikutip Selasa (20/8/2024).

Penandatanganan PPA dilakukan oleh Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo dan Direktur Utama PT Indo ACWA Tenaga Saguling Rudolf Rinaldo Aritonang.Edwin mengungkapkan, proses pembangunan proyek akan didahului dengan proses pendanaan dan dilanjutkan dengan proses konstruksi sehingga pembangkit energi bersih tersebut diperkirakan dapat beroperasi atau Commercial Operation Date (COD) pada Juni 2026.

 

PLTS Terapung Saguling

Pengembangan PLTS Terapung Cirata merupakan salah satu bentuk dukungan bagi pemerintah dalam mewujudkan penurunan emisi karbon sebesar 29 persen di Tahun 2030 yang telah ditandatangani dalam Paris Agreement Tahun 2015. (merdeka.com/Arie Basuki)

Menurut Edwin, pembangunan PLTS Terapung Saguling ini merupakan upaya PLN Indonesia Power dalam mengakselerasi transisi energi serta mendukung target Pemerintah dalam mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060, dengan terus mengembangkan berbagai pembangkit berbasis EBT.Aksi korporasi ini merupakan satu dari sekian banyak upaya yang dilakukan PLN IP untuk menekan laju perubahan iklim serta mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Ini adalah masalah global, yang memerlukan solusi dan kolaborasi antar negara, jadi itulah kenapa kita melakukannya. Selain itu, pengembangan pembangkit EBT ini juga menjadi peluang investasi dan tentunya mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dengan Arab Saudi,” tutur Edwin.

EVP South and South-East Asia ACWA Power Company Salman M. Baray memberikan apresiasi terhadap PLN Indonesia Power atas komitmen untuk berinvestasi demi mendorong pengembangan EBT, utamanya PLTS.

“Saya ingin memberikan penghargaan terhadap PLN Indonesia Power yang telah membuka peluang kerja sama ini dengan sangat profesional dan juga transparan. Investasi pada proyek ini merupakan langkah awal kami untuk berinvestasi di Indonesia dan siap berinvestasi lebih besar lagi di negara ini untuk pengembangan energi berbasis EBT,” ujar Salman.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya