Studi: Bangkok Akan Jadi Kota Paling Panas di ASEAN pada Tahun 2050

Studi mengenai suhu ekstrem di Bangkok ini dikeluarkan oleh ASEAN Centre for Energy (ACE).

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 07 Mei 2026, 16:07 WIB
Wat Arun Temple, Bangkok. (Photo: REY MELVIN CARAAN/Unsplash)

Liputan6.com, Bangkok - Kota Bangkok diproyeksikan menjadi salah satu kota dengan suhu paling ekstrem di kawasan ASEAN pada tahun 2050 akibat kombinasi perubahan iklim, urbanisasi cepat, dan minimnya ruang hijau perkotaan.

Laporan terbaru dari ASEAN Centre for Energy (ACE) menyebut Bangkok dapat mengalami hingga 120 hari panas ekstrem setiap tahun pada pertengahan abad ini. Angka tersebut hampir tiga kali lipat dibanding kondisi saat ini yang berada di kisaran 45 hari per tahun dengan suhu di atas 35 derajat Celsius.

Studi itu juga memperkirakan suhu permukaan maksimum harian Bangkok dapat mencapai 38,1 derajat Celsius pada 2050, meningkat signifikan dibandingkan 33,3 derajat Celsius pada tahun 2000, dikutip dari laman Channel News Asia, Kamis (7/5/2026).

“Dampak urbanisasi yang cepat dan perubahan iklim menciptakan panas yang sangat tidak tertahankan,” kata pejabat senior ACE, Irma Ramadan, yang juga menjadi salah satu penulis laporan tersebut, dikutip dari laman Channel News Asia, 

Gelombang panas yang terus meningkat telah mendorong pemerintah Bangkok membuka ratusan “pusat pendingin” darurat untuk membantu warga menghadapi suhu ekstrem. Salah satu fasilitas tersebut berada di perpustakaan umum distrik Din Daeng, tempat warga berlindung dari panas yang menyengat.

Menurut Administrasi Metropolitan Bangkok atau BMA, ibu kota Thailand mengalami sedikitnya 19 hari berturut-turut dengan indeks panas kategori “berbahaya” hingga pertengahan April.

Sebagai respons, pemerintah kota menyiapkan 313 pusat pendingin di sekolah, kantor distrik, pusat kesehatan masyarakat, hingga pusat kebudayaan. Selain itu, tersedia 279 titik pendinginan luar ruangan berupa area teduh dengan pepohonan dan sumber air.

Lebih dari 120 ribu warga telah memanfaatkan fasilitas tersebut dalam sebulan terakhir. Sebagian besar pusat pendingin dibangun di dekat kawasan padat penduduk agar mudah dijangkau masyarakat rentan.

Panas Ekstrem Jadi Ancaman Bencana

Ilustrasi Tempat Wisata di Bangkok (sumber: unsplash)

Direktur Asian Disaster Preparedness Center, Peeranan Towashiraporn, mengatakan panas ekstrem kini harus diperlakukan sebagai ancaman bencana, bukan sekadar fenomena cuaca musiman.

“Pusat pendingin dan sistem peringatan panas sangat penting karena dapat menyelamatkan nyawa selama gelombang panas ekstrem,” ujarnya.

ACE memperingatkan bahwa tren serupa juga akan terjadi di kota-kota besar lain di Asia Tenggara. Jakarta, Manila, Ho Chi Minh City, dan Kuala Lumpur diperkirakan mengalami kenaikan suhu sedikitnya 4,5 derajat Celsius dibandingkan tahun 2000.

Sementara itu, Singapura diproyeksikan menghadapi suhu maksimum rata-rata hingga 36,1 derajat Celsius dengan jumlah hari panas ekstrem meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi sekitar 85 hari per tahun.

Laporan tersebut mencatat gelombang panas di kawasan ASEAN kini meningkat dari dua hingga tiga kali per tahun pada awal 2000-an menjadi delapan hingga 12 kali per tahun dalam beberapa tahun terakhir. Setiap gelombang panas dapat berlangsung hingga empat minggu.

Para ahli menilai kondisi ini akan memicu tekanan besar terhadap sistem kesehatan, pasokan energi, infrastruktur air, hingga produktivitas ekonomi, terutama bagi kelompok rentan seperti pekerja luar ruangan dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Di Bangkok, masalah diperparah oleh efek pulau panas perkotaan akibat dominasi beton dan aspal yang menyerap panas pada siang hari lalu melepaskannya kembali pada malam hari.

Data ADPC menunjukkan kawasan inti Bangkok memiliki suhu hingga 3 derajat Celsius lebih tinggi dibanding wilayah pinggiran kota. Distrik Samphanthawong, Pom Prap Sattru Phai, dan Bang Rak menjadi wilayah yang paling terdampak karena kepadatan bangunan dan minim ruang hijau.

 

Kerugian Ekonomi

Ilustrasi Bangkok. (dok. Waranont (Joe)/Unsplash)

Sekitar 1,3 juta pekerja luar ruangan di Bangkok dilaporkan mengalami penurunan produktivitas akibat panas ekstrem. Tanpa langkah adaptasi, kerugian ekonomi akibat panas dan kelembapan diperkirakan mencapai USD 15,6 miliar atau sekitar Rp252 triliun per tahun pada 2050.

Pemerintah kota mengakui perlunya penambahan ruang hijau sebagai solusi jangka panjang untuk menurunkan suhu perkotaan.

“Dalam jangka panjang, kami perlu meningkatkan ruang hijau secara signifikan dan melindungi area hijau yang ada agar tidak tergantikan pembangunan beton,” kata penasihat keberlanjutan BMA, Pornphrom Vikitsreth.

Di sisi lain, meningkatnya penggunaan pendingin udara juga memicu kekhawatiran baru. Data pemerintah Thailand menunjukkan lebih dari separuh rumah tangga di Bangkok kini menggunakan AC, sementara studi global perusahaan Jepang Daikin mencatat warga Bangkok menggunakan pendingin udara rata-rata selama 10,4 bulan per tahun.

ACE menyebut kebutuhan pendinginan kini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan konsumsi energi tercepat di kawasan ASEAN, yang berpotensi meningkatkan emisi karbon dan memperparah pemanasan global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya