Menkeu Purbaya soal Ancaman PHK: Perusahaan Jatuh Bangun Itu Biasa

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menilai naik-turun perusahaan merupakan hal biasa di tengah ancaman PHK akibat tekanan global.

oleh Arief AszhariDiterbitkan 06 Mei 2026, 17:20 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah industri di Tanah Air. Ia menegaskan pemerintah akan fokus mendorong pertumbuhan ekonomi agar lebih kuat dan mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Purbaya mengaku akan mempelajari lebih lanjut informasi terkait ancaman PHK yang muncul belakangan ini. Menurut dia, penguatan ekonomi nasional menjadi langkah utama yang perlu dilakukan pemerintah.

“Saya akan pelajari. Saya akan dorong lagi pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih cepat,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).

Ia menilai kondisi perusahaan yang mengalami pasang surut merupakan hal yang biasa dalam dunia usaha. Namun, pemerintah akan melihat kondisi industri secara keseluruhan, termasuk munculnya perusahaan-perusahaan baru.

“Tapi kalau masalah perusahaan jatuh bangun, selalu ada. Yang saya akan lihat adalah net-nya seperti apa. Lima jatuh, ada yang bangkit enggak? Anda kan nggak lihat perusahaan baru berapa. Tahu enggak jumlahnya berapa? Enggak tahu kan? Jadi kita mesti lihat itu supaya lebih balance,” ujarnya.

Purbaya mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 seharusnya mampu menciptakan lapangan kerja baru dan memunculkan lebih banyak perusahaan.

“Harusnya kalau pertumbuhan ekonomi cepat 5 poin kayak kemarin itu harusnya ada penciptaan lapangan kerja baru dan banyak perusahaan-perusahaan baru yang timbul,” jelasnya.

 

 

Stimulus Ekonomi

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di kawasan Jakarta Pusat, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

 

Selain itu, pemerintah memastikan stimulus ekonomi dan likuiditas untuk dunia usaha tetap terjaga agar kondisi bisnis tidak semakin tertekan.

“Tapi kan yang saya pastikan adalah stimulus di ekonomi cukup, likuiditas di ekonomi cukup, dorongan pemerintah ke perekonomian cukup, dan kita perbaiki terus kondisi bisnis di sini,” kata dia.

Purbaya juga memastikan pemerintah memberikan perhatian khusus pada industri otomotif dan tekstil. Menurut dia, sektor tekstil berpotensi mendapatkan keuntungan jika perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat berjalan sesuai rencana.

“Tekstil kita sudah panggil. Industrinya nanti kita perkuat, apalagi kan ke Amerika kalau perjanjian jadi kita bisa ekspor hampir nol tarif. Kita perkuat saja industri tekstilnya,” ujarnya.

 

 

Kumpulkan Informasi

Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan mengaku tengah mengumpulkan informasi terkait potensi PHK akibat dampak geopolitik global, termasuk perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, mengatakan pemerintah sedang mengkaji laporan tersebut untuk menentukan kebijakan yang tepat.

“Ya kami terus kumpulkan informasi-informasi tersebut, dan kami akan kaji dan analisis untuk pengambilan kebijakan yang pas,” ujar Cris.

Ia menyebut sektor plastik dan gas menjadi industri yang paling banyak dilaporkan terdampak.

Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, sebelumnya mengungkap ada potensi PHK terhadap sekitar 9.000 buruh di 10 perusahaan, terutama di sektor tekstil dan plastik.

“10 perusahaan ini, dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan lebih, terutama di industri plastik dan industri tekstil, saat ini tercatat 9 ribu berpotensi (PHK),” kata Said Iqbal dalam konferensi pers daring, Jumat (17/4/2026).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya