Liputan6.com, Washington, D.C - Sebuah keluarga di negara bagian Missouri, Amerika Serikat, mengalami kejadian mengejutkan setelah menemukan seorang pria asing diam-diam tinggal di ruang bawah tanah rumah mereka selama beberapa hari.
Peristiwa itu dialami keluarga Dutch Hoggatt, seorang profesor di Harding University, Arkansas. Kecurigaan keluarga mulai muncul ketika sejumlah barang di rumah hilang dan posisi furnitur berubah tanpa diketahui penyebabnya.
Advertisement
“Saya bertanya kepada istri saya apakah dia membuang sepatu itu, dan ternyata tidak,” kata Hoggatt seperti dikutip Fox News, Sabtu (9/52026).
Selain sepatu yang hilang di dekat pintu belakang, keluarga juga menyadari beberapa kursi berpindah tempat dan persediaan makanan berkurang.
Kecurigaan tersebut kemudian disampaikan kepada anak dan menantu mereka, Cherisee dan Mark Gregory.
“Saya pikir mereka mengira diri mereka sendiri mulai gila. Tapi saya merasa semua itu tidak mungkin terjadi secara kebetulan,” ujar Cherisee Gregory.
Pada 29 April, saat Dutch Hoggatt berada di gereja, anggota keluarga lain memutuskan memeriksa seluruh rumah. Sharon Hoggatt akhirnya menemukan tempat persembunyian pelaku di sebuah lemari bawah tangga ruang bawah tanah.
“Dia masuk lebih jauh ke dalam lemari, lalu tiba-tiba mundur dan berkata, ‘Ada seseorang di sana,’” kata Mark Gregory.
Mark kemudian turun ke ruang bawah tanah sambil membawa tongkat baseball dan meminta orang tersebut keluar dari persembunyiannya.
“Saya berteriak menyuruhnya keluar. Saya memukul kusen pintu untuk menakutinya sedikit. Akhirnya dia berkata, ‘Oke, saya keluar,’” ujarnya.
Pria tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Preston Landis. Berdasarkan hasil penyelidikan, Landis diduga telah menyusup ke rumah keluarga Hoggatt sejak 27 April dan berpindah-pindah di area bawah tanah sebelum menetap di lemari penyimpanan.
Menyerah Tanpa Perlawanan
Saat petugas Kantor Sheriff White County tiba di lokasi, Landis yang mengaku tunawisma menyerahkan diri tanpa perlawanan.
Ia kini menghadapi dakwaan pencurian rumah dan properti dengan nilai jaminan sebesar 15.000 dolar AS.
Meski demikian, keluarga Hoggatt mengaku tidak menemukan barang berharga yang hilang dan memilih bersikap iba terhadap kondisi pelaku.
“Kami tidak marah kepada pria ini,” kata Dutch Hoggatt. “Saya justru merasa kasihan. Saya bersyukur kami akhirnya mengetahui ada seseorang tinggal di rumah itu karena ini bisa saja berlangsung lebih lama.”
Hingga kini, pihak berwenang belum memberikan keterangan tambahan terkait kasus tersebut.