Bank Indonesia Yakin Rupiah Bakal Stabil dan Menguat

Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) undervalued.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 06 Mei 2026, 01:14 WIB
Petugas menata mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah menguat dan stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS). BI menilai, saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berstatus undervalued atau berada di bawah nilai fundamentalnya.

Demikian disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo setelah rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, (5/5/2026) dikutip dari Antara.

"Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalued, dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat," ujar dia.

Perry menuturkan, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya sangat kuat untuk menopang nilai tukar. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen serta tingkat inflasi yang tetap terjaga rendah.

Indikator penguat lainnya adalah pertumbuhan kredit yang tinggi serta cadangan devisa yang memadai. Perry menegaskan fundamental tersebut menunjukkan mestinya rupiah stabil dan cenderung menguat di pasar.

Namun, Perry tidak menampik tekanan jangka pendek yang menyebabkan mata uang Indonesia melemah.Ia menilai, terdapat dua faktor utama yang memengaruhi, yakni faktor global dan faktor musiman.

Faktor global yang menekan rupiah antara lain tingginya harga minyak dunia serta kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Saat ini, yield US Treasury tenor 10 tahun telah menyentuh angka 4,47 persen yang memicu penguatan dolar AS secara luas.

"Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," ucap Perry merujuk pada dampak dari dinamika suku bunga global tersebut.

Selain faktor global, tekanan musiman pada periode April hingga Juni turut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri. Kebutuhan valuta asing ini melonjak untuk pembayaran repatriasi dividen, pembayaran utang, hingga kebutuhan biaya jemaah haji.

Rupiah Tertekan, Pemerintah Siapkan Currency Swap dengan China hingga Jepang

Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Pemerintah menyiapkan skema currency swap dengan sejumlah negara mitra sebagai langkah antisipatif menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kebijakan ini diambil seiring meningkatnya kebutuhan dolar AS pada kuartal II, yang biasanya dipicu oleh musim ibadah haji dan pembagian dividen perusahaan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut China menjadi salah satu mitra utama dalam skema ini, disusul Jepang, Korea Selatan, serta negara lainnya.

“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait dengan swap currency dengan China, kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea dan yang lain,” kata Airlangga di Kemenko Perekonomian, Selasa (5/5/2026).

Melalui skema tersebut, kebutuhan likuiditas tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS. Transaksi bilateral dapat dilakukan menggunakan mata uang masing-masing negara, sehingga tekanan terhadap permintaan dolar bisa ditekan.

Selain itu, pemerintah juga mulai menata ulang strategi pembiayaan dengan mempertimbangkan penerbitan surat berharga dalam denominasi mata uang alternatif, seperti yuan dan yen.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan komposisi utang sekaligus mengurangi eksposur terhadap fluktuasi dolar AS, sehingga stabilitas ekonomi domestik dapat lebih terjaga.

 

 

Dialami Banyak Negara

Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memastikan keseimbangan supply dan demand di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Airlangga menilai pelemahan mata uang tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di banyak negara seiring penguatan dolar AS secara global.

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah cenderung meningkat pada periode April hingga Juni. Selain kebutuhan valas untuk perjalanan haji, permintaan dolar juga naik karena perusahaan melakukan pembayaran dividen kepada investor asing.

“Permintaan terhadap dolar memang biasanya naik di kuartal kedua. Kita akan terus monitor, termasuk membandingkan dengan kondisi di negara lain,” ujar Airlangga.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya