10 Persiapan Spiritual sebelum Berangkat Haji yang Dianjurkan, agar Khusyuk dan Mabrur

Persiapan spiritual sebelum berangkat haji yang dianjurkan penting dilakukan oleh calon jemaah untuk memperkuat diri secara batin untuk perjalanan ibadah ini

oleh Muhamad RidloDiterbitkan 07 Mei 2026, 10:00 WIB
Lengkapi persiapan Haji 2026 dengan informasi vaksin wajib, waktu ideal vaksinasi, serta panduan kesehatan penting agar ibadah di Tanah Suci berjalan aman, sehat, dan lancar. (dok. Oktavia Ningrum/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Menunaikan ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Namun, jauh hari sebelum waktu pelaksanaan, ada satu fase penting yang sering terlewat oleh banyak calon jamaah. Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui persiapan spiritual sebelum berangkat haji yang dianjurkan.

Al-Qur’an secara tegas menyebut bahwa haji memiliki waktu yang telah ditentukan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 197, Allah SWT berfirman bahwa haji berlangsung dalam "bulan-bulan yang dimaklumi". Para ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir dalam karyanya Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Bulan-bulan tersebut adalah fase persiapan dan pengantar menuju puncak spiritual di Arafah. Amalan sunnah sebelum memasuki bulan haji menjadi pintu awal untuk membersihkan diri secara lahir dan batin, sebagai bekal menuju puncak ibadah yang agung.

Persiapan spiritual inilah yang menjadi fondasi utama agar perjalanan suci ke Baitullah tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bermakna secara batin dan membuahkan haji yang mabrur. Merangkum berbagai sumber, berikut ini ulasannya.

1. Tobat, Fondasi Spiritual Perjalanan Haji

Amalan pertama yang ditekankan para ulama adalah tobat. Bukan sekadar ucapan istighfar di lisan, tetapi juga melibatkan penyelesaian urusan dengan sesama manusia dan pengembalian hak-hak mereka.

Langkah-Langkah Tobat yang Dianjurkan:

  • Memperbanyak Istighfar: Memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat.
  • Mengembalikan Hak Orang Lain: Melunasi utang, mengembalikan barang pinjaman, serta menyelesaikan segala bentuk hak yang melekat.
  • Meminta Maaf kepada Sesama: Memohon maaf secara tulus kepada keluarga, kerabat, dan sahabat atas kesalahan yang pernah dilakukan, baik melalui ucapan maupun perbuatan.
  • Menyediakan Nafkah bagi Keluarga: Memastikan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan nafkah yang cukup selama kepergian.
  • Membawa Harta Halal: Memastikan seluruh biaya perjalanan berasal dari harta yang halal dan baik.
  • Bersedekah Sebelum Berangkat: Memberikan sedekah sebagai bentuk pembersihan harta dan bekal spiritual.

Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Fiqih Islam wa Adillatuhu menegaskan bahwa seseorang yang hendak melakukan perjalanan jauh, terutama haji, wajib mengembalikan hak orang lain, melunasi utang, dan meminta maaf kepada sesama.

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa tobat dan istighfar adalah persiapan ruhaniah yang paling utama sebelum haji, yang membersihkan hati dari segala kotoran dosa dan menguatkan niat..

Tobat di sini memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Tobat memastikan bahwa seseorang tidak membawa beban moral dalam perjalanan ibadahnya. Sebab, haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan etika. Langkah ini juga didukung oleh Kementerian Agama RI yang mewajibkan jamaah untuk mengikuti Bimbingan Manasik Haji.

2. Shalat Sunnah Safar

Amalan kedua yang sangat dianjurkan adalah shalat sunnah safar dua rakaat. Ibadah ini menjadi bentuk ikhtiar batin, memohon perlindungan dan kelancaran sebelum menapaki perjalanan panjang menuju Tanah Suci.

Niat Shalat Sunnah Safar:

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatas safari rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: "Aku niat shalat sunnah safar dua rakaat karena Allah Ta’ala."

Tata Cara Pelaksanaan:

  • Shalat dikerjakan dua rakaat dengan gerakan standar.
  • Pada rakaat pertama, setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surah Al-Kafirun.
  • Pada rakaat kedua, setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surah Al-Ikhlas.
  • Setelah salam, disunahkan membaca ayat Kursi dan Surah Al-Quraisy serta doa safar.

Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa shalat dua rakaat sebelum bepergian adalah sunnah yang sangat dianjurkan (mustahab). Lebih dari sekadar ritual, shalat ini memiliki makna psikologis: menenangkan hati, menata niat, dan memohon perlindungan.

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menyebut bahwa shalat sunnah sebelum safar termasuk amalan yang dianjurkan karena mengandung nilai tawakal dan penguatan niat.

Dalam Buku Panduan Doa dan Dzikir Haji dan Umrah karya Deden Hafid Usman dkk., dijelaskan bahwa shalat safar dianjurkan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan perlindungan selama perjalanan.

3. Memperkuat Niat (Tajdid an-Niyyah)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memberikan dua nasihat berikutnya yang berkaitan dengan inti spiritual perjalanan haji.

Nasihat Pertama: Memahami Tujuan Pokok Ibadah HajiNasihat pertama dari Imam Al-Ghazali adalah memahami betul tujuan ibadah haji, yaitu murni hanya karena Allah semata dan untuk bertemu dan menjalin interaksi dengan-Nya. Orang yang hendak menunaikan haji harus benar-benar meluruskan niat, membersihkan hati dari segala hal yang tercela, dan membulatkan tekad bahwa semua itu ia lakukan hanya untuk menunaikan kewajiban dari Allah SWT. Jalan menuju Allah rahasia dengan membersihkan diri dari syahwat dan kenyamanan duniawi.

Nasihat Kedua: Menumbuhkan Rasa Rindu pada BaitullahRasa rindu (syauq) kepada Baitullah akan tumbuh jika calon jemaah benar-benar memahami pesan pertama, bahwa perjalanan ini adalah perjalanan menuju Allah SWT. Dengan menyadari hal ini, mereka akan benar-benar merindukan Baitullah, sebagai simbol kasih sayang dan kedekatan kepada Sang Pencipta.

4. Memperbanyak Ibadah Sunnah, Istighfar, Dzikir, dan Doa

Sebelum keberangkatan, jemaah dianjurkan untuk mulai membiasakan lisan dan hatinya dengan dzikir. Amalan ini membantu menjaga “getaran spiritual” sepanjang perjalanan panjang. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah. Sungguh aku beristighfar seratus kali dalam sehari" (HR. Muslim). Disunahkan pula memperbanyak membaca talbiyah, takbir, tahlil, dan tahmid.

5. Silaturahmi, Bermaafan, dan Memohon Restu

Persiapan spiritual lainnya yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak silaturahmi dan memohon restu kepada orang tua, keluarga, serta sesama. Tradisi berpamitan sebelum berangkat haji bukan sekadar budaya, tetapi memiliki makna spiritual yang dalam. Mengunjungi keluarga, kerabat, dan tetangga untuk meminta maaf serta doa restu menjadi bagian dari persiapan batin.

Silaturahmi ini juga menjadi momen refleksi, menyadari bahwa perjalanan haji adalah perjalanan yang tidak ringan, sehingga membutuhkan dukungan moral dari orang-orang terdekat.

Dalam perspektif fikih, seseorang yang hendak berhaji juga dianjurkan memastikan tidak ada hak orang lain yang terabaikan, termasuk menyelesaikan urusan keluarga dan kewajiban finansial seperti utang. Langkah ini penting agar selama di Tanah Suci, pikiran tidak terbebani oleh urusan yang belum selesai.

Mengingat banyaknya waktu yang akan dihabiskan untuk ibadah, hati yang tenang dan bebas dari beban utang atau konflik dengan sesama akan sangat membantu konsentrasi beribadah dan meraih haji yang mabrur.

6. Mengadakan Walimatussafar sebagai Wujud Syukur

Bagi yang mampu, mengadakan walimatussafar (selamatan perjalanan) menjadi bentuk rasa syukur sebelum berangkat. Acara ini menjadi momen berkumpulnya keluarga, kerabat, dan tetangga untuk mendoakan keselamatan calon jamaah. Tradisi walimatussafar mengajarkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.

Namun, Islam menekankan agar kegiatan ini tidak disertai sikap riya’ (ingin dipuji), sum’ah (ingin didengar), atau berbangga diri. Hendaknya niatkan walimatussafar sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas nikmat kesempatan berhaji serta sarana untuk menjalin silaturahmi, bukan untuk pamer kemewahan atau status sosial.

Dalam Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah juga dijelaskan bahwa niat yang ikhlas dalam setiap amalan, termasuk acara syukuran, akan menambah keberkahan ibadah haji itu sendiri.

7. Membaca Shalawat Maulid Ad-Diba’i dan Doa-Doa Khusus

Selain amalan di atas, terdapat beberapa doa dan wirid yang khusus dianjurkan untuk memohon kelancaran dan perlindungan selama perjalanan haji.

Salah satu amalan yang diyakini dapat mempermudah jalan menuju Tanah Suci adalah membaca shalawat Maulid Ad-Diba’i. Shalawat ini berbunyi:

يَارَبِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد يَا رَبِّ بـَلـِّـغْــناَ نَـزُوْرُهُ

Yā Robbi ṣolli ‘alā Muhammad, yā Robbi ballighnā nazūruh.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad. Ya Allah, sampaikanlah kami untuk berziarah ke makamnya.”

Selain itu, terdapat doa yang dianjurkan untuk dibaca setelah shalat sunnah safar:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَأَنْتَ الْخَلِيْفَةُ فِي الْأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ

Allâhumma antash-shâhibu fis-safari wa antal-khalîfatu fil-ahli wal-mâli wal-walad.

Artinya: “Ya Allah, Engkaulah pendamping dalam perjalanan dan pengganti (yang menjaga) keluarga, harta, dan anak.”

8. Mengevaluasi Hubungan dengan Orang Lain

Persiapan spiritual tidak hanya menyangkut hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia. Calon jamaah dianjurkan untuk mengintrospeksi diri, mengevaluasi apakah pernah berbuat zalim, menyakiti, atau merugikan orang lain . Jika ada, maka minta maaflah sebelum berangkat.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 197 bahwa bekal terbaik adalah takwa, dan takwa mencakup juga menjaga hak-hak sesama manusia. Dalam Fiqh al-Zakah, Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa tanggung jawab sosial harus ditunaikan sebelum menjalankan ibadah besar. Dengan menyelesaikan urusan dengan sesama, hati menjadi lebih ringan dan perjalanan spiritual menjadi lebih khusyuk.

9. Mempelajari Fikih dan Manasik Haji

Kesungguhan dalam mempelajari ilmu fikih haji, termasuk memahami rukun, wajib, sunnah, larangan ihram, adab thawaf, sa’i, wukuf, mabit, hingga melontar jumrah, merupakan bagian tak terpisahkan dari persiapan spiritual menuju haji yang mabrur. MUI menjelaskan bahwa predikat mabrur harus diupayakan dengan dua hal besar: ikhtiar lahiriah (menjalankan manasik sesuai tuntunan) dan permohonan batiniah (doa).

Orang yang minim persiapan ilmu rentan jatuh pada kekeliruan dalam beribadah. Dalam kitab-kitab turots, para ulama selalu meletakkan pembahasan haji secara rinci, menunjukkan bahwa ibadah ini menuntut kesiapan yang matang. Bekali diri dengan ilmu yang cukup, ikuti bimbingan manasik dengan sungguh-sungguh, dan jangan ragu bertanya kepada pembimbing jika ada yang kurang dipahami.

10. Doa Sebelum Berangkat Haji

Setelah selesai shalat safar, disunahkan membaca doa berikut yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas RA. Doa ini adalah bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, memohon perlindungan dan keselamatan selama perjalanan.

Bacaan Doa:

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَأَنْتَ الْخَلِيْفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ

Allâhumma antash-shâhibu fis-safari wa antal-khalîfatu fil-ahli. Allâhumma innî a‘ûdzu bika min wa‘tsâ’is-safari wa kaâbatil-manzhari.

Artinya: "Ya Allah, Engkaulah pendamping dalam perjalanan dan pengganti (yang menjaga) keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kepayahan perjalanan dan kesedihan pemandangan."

Hikmah Persiapan Spiritual sebelum Berangkat Haji

Menjaga konsistensi persiapan spiritual sebelum keberangkatan memberikan setidaknya lima hikmah besar:

  • Mendapatkan Perlindungan dan Kemudahan:Melalui doa dan shalat safar, seorang hamba secara simbolis “menitipkan” dirinya kepada Allah, sehingga perjalanan dilindungi dan dimudahkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat” (QS. Al-Baqarah: 45).
  • Menguatkan Fondasi Spiritual (Tawakal):Shalat safar mengajarkan bahwa setelah berikhtiar maksimal, seseorang harus berserah diri sepenuhnya (tawakal) kepada Allah, melepaskan kekhawatiran akan hal-hal di luar kendali. Antara ikhtiar dan tawakal adalah prinsip yang diajarkan dalam setiap langkah spiritual Islam.
  • Membersihkan Hati dan Jiwa:Proses tobat dan istighfar melatih jiwa untuk menjadi lebih bersih, rendah hati, dan siap menerima limpahan rahmat Allah di Tanah Suci. Sebagaimana dinasihatkan oleh Abu Muda Woyla, seorang ulama Aceh, banyak jamaah yang secara lahiriah siap, namun belum tentu siap secara batin. Persiapkan hati untuk panggilan Allah.
  • Melatih Kedisiplinan dan Kesiapan Mental:Membiasakan diri dengan waktu-waktu shalat dan dzikir membangun mental yang lebih tenang dan siap menghadapi berbagai situasi di Tanah Suci. Bimbingan manasik yang diselenggarakan Kemenag juga merupakan bagian dari ikhtiar mematangkan kesiapan spiritual dan mental jemaah.
  • Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda Berdasarkan Waktu:Memperbanyak amal saleh, termasuk puasa sunnah, di bulan-bulan haji (Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah) memiliki keutamaan pahala yang dilipatgandakan, meskipun belum tentu sebesar pahala di bulan Ramadhan. Ini menjadi modal berharga bagi calon jamaah untuk melipatgandakan bekal akhiratnya.

People also Ask:

Apa yang harus disiapkan sebelum seseorang berangkat haji?

Persiapan haji meliputi aspek rohani (niat, taubat), fisik (kesehatan, olahraga), administrasi (paspor, visa, dokumen kesehatan), dan bekal logistik/ilmu (manasik). Penting juga melunasi biaya, menyelesaikan urusan dunia, dan berpamitan. Persiapan dilakukan jauh hari agar ibadah tenang dan lancar.

Bagaimana cara mempersiapkan diri secara spiritual untuk ibadah haji?

Persiapan Spiritual

Pelajari ritualnya: Pelajari langkah-langkah haji secara detail agar Anda dapat melaksanakannya dengan percaya diri . Mohon ampunan: Lunasi hutang, berdamai dengan orang lain, dan mohon ampunan kepada Allah sebelum berangkat. Niatkan dengan tulus: Haji harus dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah.

Syukuran sebelum berangkat haji apa namanya?

Biasanya, Calon Jamaah Haji Indonesia menggelar tradisi Walimatus Safar atau syukuran keberangkatan sebelum berangkat ke Tanah Suci. Tradisi ini jadi momen minta doa restu yang penuh haru.

Amalan apa agar cepat naik haji?

Amalan agar cepat naik haji meliputi kombinasi doa dan tindakan nyata: rutin membaca Al-Qur'an dan doa khusus (seperti surat Al-Hajj: 27), memperbanyak sedekah, istigfar, shalat sunnah (Tahajud/Dhuha), serta berbakti kepada orang tua. Usaha fisik meliputi menabung (bisa melalui Investasi Sukuk) dan mendaftar haji segera.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya