Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61%, Pengusaha Soroti Masalah Ini

Pengusaha buka suara soal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 sebesar 5,61%.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 05 Mei 2026, 20:30 WIB
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani. Pengusaha buka suara soal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 sebesar 5,61%.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani, mengatakan dunia usaha mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebesar 5,61%.

Menurutnya, capain tersebut yang tertinggi untuk periode kuartal pertama sejak 2013, dan merupakan pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak Kuartal III-2022 atau tertinggi dalam 14 kuartal terakhir.

"Pertama-tama, dunia usaha mengapresiasi capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebesar 5,61%, menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal pertama sejak 2013, dan merupakan pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak Kuartal III-2022 atau tertinggi dalam 14 kuartal terakhir," kata Shinta kepada Liputan6.com, Selasa (5/5/2026).

Jika dilihat dari sumber pengeluaran, pertumbuhan ini didorong oleh beberapa komponen utama. Pertama, konsumsi pemerintah meningkat dengan pertumbuhan 21,81% (yoy) seiring realisasi belanja pegawai, termasuk pembayaran THR (gaji ke-14), menjadikannya komponen struktur PDB dengan pertumbuhan tertinggi.

Di sisi lain, komponen terbesar dalam struktur PDB yaitu konsumsi rumah tangga (dengan distribusi >54%) tumbuh 5,52%, ditopang oleh seasonal drivers seperti Tahun Baru, Imlek, Ramadan, dan Idulfitri.

Selain itu, komponen PMTB atau investasi (dengan distribusi >28%) tumbuh 5,96%, dengan nilai realisasi investasi pada kuartal I tumbuh sebesar 7,2% (yoy).

"Ini menunjukkan bahwa secara headline growth, ekonomi Indonesia masih mencerminkan resilience yang cukup kuat berbasis permintaan domestik," ujarnya.

Ketimpangan yang Dirasakan Dunia Usaha

Pemandangan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (5/4/2022). Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 menjadi 5,1 persen pada April 2022, dari perkiraan sebelumnya 5,2 persen pada Oktober 2021. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Namun, kata Shinta, di balik capaian tersebut, dunia usaha melihat adanya ketimpangan dalam distribusi manfaat pertumbuhan yang mulai terasa di level riil.

Ia menilai kondisi ini mencerminkan fenomena asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan ekonomi tetap terjadi secara agregat, tetapi tidak sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha di lapangan.

"Dalam konteks ini, dunia usaha menghadapi situasi yang disebut sebagai “asymmetric impact of growth” , di mana pertumbuhan tetap terjadi, tetapi manfaatnya belum terdistribusi secara merata, sementara tekanan biaya meningkat," jelasnya.

 

Secara Kuartalan Justru Kontraksi

Pemandangan gedung-gedung tinggi di kawasan Jakarta, Rabu (23/4/2025). (Liputan6.com/Angga Yuniar

Namun demikian bagi dunia usaha, yang juga menjadi perhatian adalah transmission mechanism dari pertumbuhan tersebut ke aktivitas bisnis riil.

Secara kuartalan (q-to-q), ekonomi justru mengalami kontraksi sebesar -0,77%, dan bahkan pada saat yang sama sektor manufaktur juga mengalami kontraksi kuartalan sebesar -1,01%.

"Jadi, meskipun secara makro kita melihat angka pertumbuhan yang solid, di tingkat mikro banyak pelaku usaha masih berada dalam fase margin compression," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya