Rupiah Tertekan, Pemerintah Siapkan Currency Swap dengan China hingga Jepang

Pemerintah siapkan currency swap dengan China, Jepang, dan Korea untuk tekan kebutuhan dolar AS di tengah lonjakan permintaan valas kuartal II.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 05 Mei 2026, 18:31 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (5/5/2026). (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menyiapkan skema currency swap dengan sejumlah negara mitra sebagai langkah antisipatif menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kebijakan ini diambil seiring meningkatnya kebutuhan dolar AS pada kuartal II, yang biasanya dipicu oleh musim ibadah haji dan pembagian dividen perusahaan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut China menjadi salah satu mitra utama dalam skema ini, disusul Jepang, Korea Selatan, serta negara lainnya.

“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait dengan swap currency dengan China, kemudian dengan berbagai negara lain termasuk Jepang, Korea dan yang lain,” kata Airlangga di Kemenko Perekonomian, Selasa (5/5/2026).

Melalui skema tersebut, kebutuhan likuiditas tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS. Transaksi bilateral dapat dilakukan menggunakan mata uang masing-masing negara, sehingga tekanan terhadap permintaan dolar bisa ditekan.

Selain itu, pemerintah juga mulai menata ulang strategi pembiayaan dengan mempertimbangkan penerbitan surat berharga dalam denominasi mata uang alternatif, seperti yuan dan yen.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan komposisi utang sekaligus mengurangi eksposur terhadap fluktuasi dolar AS, sehingga stabilitas ekonomi domestik dapat lebih terjaga.

 

Dialami Banyak Negara

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (5/5/2026). (Foto: Liputan6.com/Immanuel Christian)

Airlangga menilai pelemahan mata uang tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di banyak negara seiring penguatan dolar AS secara global.

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah cenderung meningkat pada periode April hingga Juni. Selain kebutuhan valas untuk perjalanan haji, permintaan dolar juga naik karena perusahaan melakukan pembayaran dividen kepada investor asing.

“Permintaan terhadap dolar memang biasanya naik di kuartal kedua. Kita akan terus monitor, termasuk membandingkan dengan kondisi di negara lain,” ujar Airlangga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya