55 Persen Sekolah di NTT Rusak dan Strategi Menteri Dikdasmen Lewat Revitalisasi 

Mendikdasmen Abdul Mu'ti mengakui sekolah-sekolah yang rusak di Nusa Tenggara Timur (NTT) cukup sering ditemui di media sosial.

oleh Ola KedaDiterbitkan 05 Mei 2026, 16:00 WIB
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat berkunjung di Kupang, NTT. (Liputan6.com/Ola Keda)

Liputan6.com, Kupang - Mendikdasmen atau Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengakui sekolah-sekolah yang rusak di Nusa Tenggara Timur (NTT) paling sering ditemui viral di media sosial.

Ia menyatakan hal tersebut dalam kunjungannya di Kota Kupang, Selasa (5/5/2026), sebelum membuka Rapat Koordinasi Implementasi Program Kemendikdasmen dan Sinkronisasi Kebijakan Daerah di Hotel Aston Kupang.

Kunjungan ini dilakukan Abdul Mu'ti bersama Anggota Komisi X DPR RI, Anita Jacoba Gah, didampingi Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, serta para bupati dan Wali kota Kupang Christian Widodo.

Abdul mengaku akan sedapatnya mengunjungi sekolah-sekolah yang viral tersebut guna memastikan langsung kondisi terkininya.

"Yang sekolah rusak di NTT ini yang paling sering viral. Nah kalau sudah sering viral itu biasanya kami harus segera mengambil langkah-langkah perbaikan secara maksimal dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya," ungkap Abdul Mu'ti.

Dia mengatakan, untuk beberapa sekolah yang sebelum-sebelumnya telah viral, secara resmi sudah mendapatkan dana revitalisasi di 2026 ini.

Menurutnya anak-anak tidak nyaman belajar di sekolah yang rusak, kumuh dan rawan akan roboh. Maka sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto tentang Asta Cita Keempat, sekolah harus dibuat lebih layak.

Tahun ini akan dilaksanakan revitalisasi 11.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia dengan anggaran mencapai Rp 14 triliun.

"Tapi kami masih berjuang sesuai arahan Bapak Presiden untuk tambahan 60 ribu satuan pendidikan sehingga totalnya bisa 71 ribu,"ucap Abdul Mu'ti.

 

NTT Masuk Kategori Revitalisasi

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat berkunjung di Kupang, NTT. (Liputan6.com/Ola Keda)

Program revitalisasi ini diprioritaskan pada daerah terdampak bencana seperti wilayah rawan di Gunung Api Lewotobi Laki-laki.

Secara nasional bantuan bagi daerah terdampak ini ditujukan bagi 5 ribu sekolah. Kemudian sekolah di daerah 3T dan juga daerah yang sekolahnya memang mengalami kerusakan berat.

"Dengan tiga kebijakan itu maka semuanya NTT masuk. Yang terdampak bencana Lewotobi dan sekitarnya. Yang 3T itu terkecuali Kota Kupang sepertinya semua 3T," kata Mu'ti.

Revitalisasi ini, menjadi prioritas Presiden Prabowo seperti disampaikan dalam pidato di Cilacap beberapa waktu lalu.

"Revitalisasi itu akan jadi prioritas bahkan ditargetkan Pak Presiden pada 2028 semua sekolah sudah direvitalisasi dan direhabilitasi," tandas Mu'ti.

Dia berharap Kementerian Keuangan menyetujui 60 ribu lagi sekolah yang direvitalisasi sehingga menjadi 70 ribu sekolah ditambah 11.744 yang direvitalisasi tahun ini.

55 Persen Sekolah di NTT Rusak

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti saat berkunjung di Kupang, NTT. (Liputan6.com/Ola Keda)

Sementara data sekolah rusak di Indonesia sendiri saat ini sebanyak 192 ribu sekolah. Sedangkan jumlah sekolah di NTT sebanyak 14 ribu dari jenjang PAUD sampai SMA/SMK, dengan jumlah kerusakan lebih dari 7.400 sekolah yang rusak.

"55 persen sekolah di NTT yang rusak sedang dan berat sehingga dilaksanakan akselerasi," tukas Mu'ti.

Ia menyebut ada 809 satuan pendidikan penerima revitalisasi di NTT tahun 2026. Salah satunya ialah TK Kristen Kota Kupang yang juga ia kunjungi hari yang sama. Revitalisasi TK ini meliputi pembangunan dua ruang kelas, satu ruang administrasi, toilet, dan Alat Peraga Edukatif (APE) dengan total bantuan lebih dari Rp860 juta.

Secara keseluruhan, NTT menerima bantuan revitalisasi pada 2026 ini dengan total anggaran lebih dari Rp630 miliar untuk 809 sekolah.

Pada bulan April 2026 saja, sebanyak 9 satuan pendidikan telah melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan 800 sekolah lainnya dalam proses PKS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya