Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61%, HIPMI Ungkap Sektor Ini jadi Penopang

HIPMI mengungkapkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I 2026 tetapi pelaku usaha hadapi tekanan biaya.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 05 Mei 2026, 14:15 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% pada kuartal I 2026.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal I 2026 memang memberi sinyal positif. Namun, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia  tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.

"Secara agregat ini masih sesuai target, tapi kalau dilihat dari perspektif pelaku usaha, gambarnya tidak sesederhana angka headline,” ujar Anggawira kepada Liputan6.com, Selasa (5/5/2026).

Ia menjelaskan, pertumbuhan saat ini masih ditopang oleh sejumlah sektor yang relatif kuat. Di antaranya pertambangan dan hilirisasi mineral seperti nikel dan tembaga yang tetap berjalan dengan dukungan harga komoditas yang stabil. Aktivitas ini turut memberi efek berantai ke kawasan industri dan ekspor.

Selain itu, sektor konstruksi dan infrastruktur juga masih bergerak seiring belanja pemerintah dan proyek strategis nasional. Aktivitas transportasi dan logistik ikut terdorong meningkatnya mobilitas barang dan orang, sementara sektor energi baik migas maupun kelistrikan menguat seiring tingginya permintaan dari industri.

Namun, di sisi lain, Anggawira menyoroti sejumlah sektor yang justru masih menghadapi tekanan. Industri manufaktur padat karya seperti tekstil dan alas kaki, misalnya, belum sepenuhnya pulih akibat lemahnya permintaan global dan tekanan impor. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan biaya produksi yang menggerus margin usaha.

"UMKM dan perdagangan tradisional juga belum merasakan lonjakan permintaan yang signifikan. Daya beli memang ada, tapi cenderung selektif, terutama di luar kota besar,” katanya.

Sektor properti dan real estat pun masih tertahan oleh suku bunga yang relatif tinggi serta kehati-hatian konsumen kelas menengah. Sementara industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan tambahan akibat pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya produksi.

 

Dunia Usaha Hadapi Tekanan Biaya

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam keterangan pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/4/2025), menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi masih diperkirakan berada di kisaran 4,7% hingga 5,5%, dengan titik tengah 5,1. (Liputan6.com/Angga Yuniar).

Menurut Anggawira, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini belum sepenuhnya inklusif. Banyak pelaku usaha, khususnya skala kecil dan menengah, belum merasakan dampak langsung dari kenaikan angka pertumbuhan.

Selain itu, dunia usaha juga menghadapi tekanan biaya yang tidak ringan, mulai dari kurs, biaya logistik, hingga harga energi. Hal ini membuat peningkatan volume usaha tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan.

Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha cenderung masih menahan ekspansi. Ketidakpastian global, suku bunga yang tinggi, serta dinamika regulasi menjadi faktor utama yang membuat banyak perusahaan mengambil sikap “wait and see”.

"Jadi kalau ditanya apakah sektor usaha ikut tumbuh, jawabannya iya, tapi tidak merata. Kualitas pertumbuhannya juga masih perlu diperkuat,” ujarnya.

Ke depan, Anggawira menekankan pentingnya mendorong pertumbuhan yang lebih terasa di sektor riil. Upaya itu antara lain melalui penguatan daya beli masyarakat, perbaikan iklim usaha, serta penurunan biaya produksi agar lebih kompetitif.

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% pada Kuartal I 2026

Dari sisi domestik, aktivitas konsumsi diperkirakan akan menguat pada 2024. Hal itu sejalan dengan terjaganya daya beli masyarakat, inflasi yang terkendali, dan meningkatnya penciptaan lapangan kerja. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (YoY) pada kuartal I 2026. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.

"Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 bila dibandingkan triwulan I 2025 atau secara year on year (YoY) tumbuh 5,61 persen," ujar Amalia, Selasa (5/5/2026).

Sebagai perbandingan, pada kuartal I 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87 persen (YoY). Dengan demikian, terjadi peningkatan kinerja ekonomi pada awal 2026.

Meski mencatat pertumbuhan positif secara tahunan, BPS mencatat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen secara triwulanan (quarter to quarter/qtq).

Di sisi global, International Monetary Fund memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,1 persen pada April 2026. Sementara itu, ekonomi negara berkembang diproyeksikan tumbuh sebesar 3,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Proyeksi IMF juga menunjukkan inflasi di negara berkembang pada 2026 masih relatif lebih tinggi dibandingkan inflasi global.

Amalia menambahkan, sejumlah negara mitra dagang Indonesia juga menunjukkan dinamika pertumbuhan ekonomi yang beragam pada kuartal I 2026.

"Tiongkok tumbuh menguat dibandingkan kuartal IV 2025, AS tumbuh menguat dibandingkan triwulan IV 2025, sementara Malaysia, Singapura, dan Vietnam tumbuh melambat dibandingkan triwulan IV 2025, tetapi menguat dibandingkan triwulan I 2025," jelasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya