Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan sejak awal tahun. Bahkan pada hari ini, Selasa (5/5/2026), pelemahan rupiah sudah mencapai 17.400 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga langsung terasa di sektor riil. Kondisi ini memunculkan dampak yang berbeda antarindustri, tergantung pada struktur biaya dan ketergantungan terhadap impor.
Advertisement
Ekonom Universitas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, menilai depresiasi rupiah tidak sepenuhnya berdampak negatif. Dalam kondisi tertentu, pelemahan mata uang justru bisa memberikan keuntungan bagi sektor tertentu.
“Sebenarnya mata uang yang terdepresiasi itu juga banyak manfaatnya, apalagi kalau depresiasi itu terjadi tidak hanya atas nominal exchange rate, namun juga atas real exchange rate,” ujar Eddy kepada Liputan6.com, Selasa (5/5/2026).
Ia menjelaskan, sektor yang berorientasi ekspor berpotensi diuntungkan karena produk dalam negeri menjadi lebih kompetitif di pasar global. Hal ini dapat mendorong peningkatan permintaan, produksi, hingga penyerapan tenaga kerja.
“Dengan demikian, sektor-sektor berorientasi ekspor sebenarnya dapat menarik manfaat dari depresiasi rupiah,” tuturnya.
Namun, kondisi sebaliknya terjadi pada sektor yang bergantung pada bahan baku impor. Pelemahan rupiah membuat biaya produksi meningkat, yang berpotensi menekan margin usaha hingga berdampak pada harga jual dan daya beli masyarakat.
“Sebaliknya, sektor-sektor yang membutuhkan komponen impor akan sangat terpengaruh negatif oleh depresiasi rupiah, misalnya sektor migas, bahan makanan impor, mesin dan alat berat, dan lain-lain,” ungkapnya.
Perbedaan dampak ini menunjukkan bahwa depresiasi rupiah menciptakan efek asimetris di sektor riil, menguntungkan sebagian industri namun menekan sektor lainnya.
Rupiah Tembus 17.400 per Dolar AS, Intip Prediksinya Sepanjang Hari Ini
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa pagi, bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menyatakan pelemahan rupiah dipicu eskalasi di Timur Tengah (Timteng) yang semakin memanas.
“Rupiah berpotensi kembali melemah terhadap dolar AS yang menguat, merespons eskalasi di Timteng,” ucapnya dikutip dari Antara, Selasa (5/5/2026).
Sebuah laporan menyebutkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) diserang oleh Iran. Layanan pers pemerintah Emirat Fujairah melaporkan kebakaran di salah satu zona minyak setelah serangan drone yang memicu kekhawatiran eskalasi regional, sebagaimana dilaporkan Sputnik.
Namun, sumber militer senior Iran menyatakan pihaknya tidak pernah dan saat ini tidak berencana menyerang UEA.
Di samping itu, AS disebut menenggelamkan beberapa kapal Iran seiring Presiden AS Donald Trump mengumumkan Project Freedom, operasi untuk membantu kapal-kapal yang terhambat di Selat Hormuz dan ingin meninggalkan kawasan tersebut.
CENTCOM menyatakan dukungan militer untuk operasi itu mencakup kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, serta 15.000 personel militer. Operasi tersebut dimulai pada Senin (4/5).
Prediksi Rupiah Hari Ini
Sementara itu, media Iran IRIB melaporkan militer Iran mencegah kapal-kapal AS melintas di jalur air itu dengan menembakkan dua rudal ke arah satu kapal perang AS.
“Pelemahan diperkirakan akan terbatas, dengan investor menantikan data PDB Q1 (Produk Domestik Bruto Kuartal I-2026) Indonesia yang akan dirilis siang ini,” kata dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.350-Rp17.450 per dolar AS.