Mengenal CNG yang Jadi Alternatif LPG dengan Harga Lebih Murah 40 Persen

Pemerintah siapkan CNG sebagai pengganti LPG 3 kg. Selain lebih murah, simak kelebihan dan kekurangan CNG.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 05 Mei 2026, 08:40 WIB
Gaslink C-cyl adalah Compressed Natural Gas (CNG) untuk pelanggan sektor industri dan komersial

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan penggunaan compressed natural gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram (kg) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg. Kebijakan ini bertujuan menekan impor energi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut penggunaan CNG sebenarnya sudah mulai diterapkan di berbagai sektor seperti hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat. Dan ini ongkosnya lebih murah 30–40 persen,” ujarnya beberapa waktu lalu. 

Meski demikian, pemerintah mengakui pengembangan CNG masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi infrastruktur.

 

Apa Itu CNG?

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melakukan penyaluran gas bumi dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) menggunakan teknologi GTM. (Foto:Antara Foto/ Aji Setyawan)

Dikutip dari PERPRES 64 TAHUN 2012, Compressed Natural Gas atau CNG adalah Bahan Bakar Gas yang berasal dari Gas Bumi dengan unsur utamanya metana (C1) yang telah dimampatkan dan dipertahankan serta disimpan pada bejana bertekanan khusus untuk mempermudah transportasi dan penimbunan yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan.

Sedangkan dikutip dari laman PT PGN LNG Indonesia, Compressed Natural Gas (CNG) atau gas alam terkompresi adalah gas alam yang dipadatkan pada tekanan tinggi, umumnya di atas 200 bar, sehingga lebih mudah disimpan dan didistribusikan.

Gas ini sebagian besar terdiri dari metana (lebih dari 95%) dan dikenal sebagai bahan bakar yang lebih bersih dibandingkan bensin atau solar.

Dalam konteks energi, CNG sering dibandingkan dengan LPG dan LNG, meskipun ketiganya memiliki perbedaan utama:

  • CNG: berbentuk gas bertekanan tinggi
  • LPG: berbentuk cair (propana dan butana) pada tekanan moderat
  • LNG: berbentuk cair karena didinginkan pada suhu sangat rendah

CNG telah dimanfaatkan di berbagai sektor, mulai dari transportasi (bus dan truk), industri, hingga rumah tangga untuk memasak.

 

Kelebihan dan Kekurangan CNG

Subholding Gas Pertamina, PT PGN Tbk bersama PT Gagas Energi Indonesia selaku Anak Perusahaan, menggelar uji coba penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai Bahan Bakar Gas (BBG) pada sepeda motor.

Sebelum digunakan secara luas sebagai pengganti LPG, penting memahami keunggulan dan keterbatasan CNG.

Kelebihan CNG:

  • Lebih Ramah Lingkungan: Menghasilkan emisi lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil lain, sehingga membantu mengurangi polusi udara.
  • Biaya Lebih Murah dan Stabil: Harga CNG relatif lebih stabil dan dalam rencana pemerintah bisa lebih murah hingga 30–40% dibanding LPG.
  • Sumber Energi Melimpah: Berasal dari gas alam domestik, sehingga mendukung kemandirian energi nasional.
  • Efisiensi Energi: Pembakaran lebih bersih dan efisien untuk berbagai kebutuhan, termasuk industri dan rumah tangga.

Kekurangan CNG:

Infrastruktur Terbatas: Jaringan distribusi dan fasilitas pengisian masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Kebutuhan Penyimpanan Besar: Memerlukan tabung bertekanan tinggi yang lebih besar dan kuat dibanding LPG.

Investasi Awal Tinggi: Pengembangan teknologi dan distribusi CNG membutuhkan biaya awal yang cukup besar.

Pemerintah Siapkan CNG 3 Kg Pengganti LPG 3 Kg, Bahlil: Lebih Murah 40 Persen

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Istana. Dok Bakom

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan compressed natural gas (CNG) dalam kemasan tabung 3 kilogram (kg) sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg. Langkah ini dilakukan untuk menekan impor energi sekaligus meningkatkan efisiensi dan kemandirian energi nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa penggunaan CNG sebenarnya telah mulai diterapkan di berbagai sektor, seperti hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bahan baku gas tersebut juga berasal dari dalam negeri.

“Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat. Dan ini ongkosnya lebih murah 30–40 persen,” kata Bahlil dikutip dari ANtara, Minggu (3/5/2026). 

Meski demikian, Bahlil mengakui pengembangan CNG masih menghadapi sejumlah tantangan. Namun pemerintah tetap mendorong inovasi ini sebagai bagian dari strategi efisiensi energi.

CNG sendiri merupakan bahan bakar gas yang dihasilkan dari proses kompresi gas alam, terutama yang mengandung metana (C1) dan etana (C2). Gas tersebut kemudian disimpan dalam tabung bertekanan tinggi sekitar 200–250 bar atau setara 2.900 hingga 3.600 psi.

Tabung CNG dirancang dengan standar keamanan tinggi sehingga mampu menahan tekanan besar dalam proses penyimpanan maupun distribusi, sehingga dinilai aman untuk digunakan.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya berkisar 1,6 hingga 1,7 juta ton, sehingga sebagian besar kebutuhan masih bergantung pada impor. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya