Inflasi April 2026 Masih Rendah, Harga Pangan Redam Tekanan

Secara wilayah, mayoritas daerah di Indonesia mengalami inflasi di April 2026.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 Mei 2026, 19:40 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers inflasi pada April 2026. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2026 tetap terjaga di level rendah. Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat sebesar 0,13 persen.

Kenaikan harga tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang naik tipis dari 110,95 pada Maret menjadi 111,09 pada April 2026. Sementara itu, inflasi sejak awal tahun mencapai 1,06 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan sektor transportasi menjadi penyumbang utama inflasi bulan ini.

Kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 0,99 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi total, yakni 0,12 persen.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain tarif angkutan udara dan bensin. Tarif angkutan udara memberikan andil inflasi sebesar 0,11 persen sedangkan bensin memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen,” ujar Ateng di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Selain transportasi, beberapa bahan pangan seperti minyak goreng, tomat, serta beras dan nasi dengan lauk juga turut menyumbang kenaikan harga.

 

Harga Pangan Turun, Tekan Laju Inflasi

Jelang perayaan tahun baru Imlek, sejumlah harga pangan di pasaran terpantau masih tinggi, seperti cabai rawit merah Rp 60.000/kg, cabai keriting Rp 40.000/kg dan bawang merah Rp 42.000/kg. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski terjadi kenaikan harga di sejumlah sektor, tekanan inflasi pada April 2026 berhasil diredam oleh penurunan harga beberapa komoditas.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami deflasi sebesar 0,20 persen. Penurunan ini berkontribusi menahan laju inflasi secara keseluruhan.

Ateng menyebut sejumlah komoditas yang menjadi penahan inflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, serta telur ayam ras.

“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” jelasnya.

Penurunan harga komoditas pangan tersebut menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas harga di tengah kenaikan biaya transportasi.

 

Inflasi Masih Aman, Sebaran Wilayah Bervariasi

Komoditas rumah tangga yang dominan mendorong kenaikan harga, antara lain ikan segar, daging ayam ras, dan beras, disusul telur ayam ras, cabai rawit, serta daging sapi. Tampak dalam foto, aktivitas pedagang dan pembeli di pasar tradisional di Palmerah Jakarta, Jumat (3/4/2026). (merdeka.com/Arie Basuki)

Dari sisi komponen, inflasi inti pada April 2026 tercatat sebesar 0,23 persen. Kenaikan ini dipicu oleh harga barang seperti minyak goreng, makanan siap saji, serta produk elektronik seperti ponsel dan laptop.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah juga mengalami kenaikan sebesar 0,69 persen, terutama akibat penyesuaian tarif angkutan udara, harga bensin, bahan bakar rumah tangga, serta rokok.

Di sisi lain, komponen harga bergejolak justru mengalami deflasi cukup dalam, yakni sebesar 0,88 persen. Penurunan harga pangan menjadi faktor utama penahan inflasi.

Secara wilayah, mayoritas daerah mengalami inflasi. Sebanyak 30 provinsi mencatat kenaikan harga, sedangkan 8 provinsi mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi tercatat di Papua Barat sebesar 2,00 persen, sementara deflasi terdalam terjadi di Maluku sebesar 0,17 persen.

Dengan kondisi tersebut, inflasi April 2026 dinilai masih berada dalam batas aman, didukung oleh turunnya harga pangan yang mampu menahan tekanan dari sektor transportasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya