Emiten BOLT Sebar Dividen Rp 117,18 Miliar, Simak Tanggal Pembagiannya

PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) membagikan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp 50 per saham.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 04 Mei 2026, 17:05 WIB
PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT), emiten bergerak di bidang manufaktur komponen otomotif akan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 117,18 miliar. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT), emiten bergerak di bidang manufaktur komponen otomotif akan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp 117,18 miliar. Seiring hal itu, perseroan membagikan dividen 2025 sebesar Rp 50 per saham.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, (4/5/2026), PT Garuda Metalindo Tbk akan membagikan dividen tahun buku 2025 sesuai dengan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 27 April 2026.

Perseroan membagikan dividen tahun buku 2025 berdasarkan data keuangan per 31 Desember 2025 yakni laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 132,21 miliar, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 417,08 miliar dan total ekuitas sebesar Rp 1,05 triliun.

Berikut jadwal pembagian dividen 2025:

  • Tanggal efektif pada 8 Mei 2026
  • Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 5 Mei 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 6 Mei 2026
  • Tanggal cum dividen di pasar tunai pada 8 Mei 2026
  • Tanggal ex dividen di pasar tunai pada 11 Mei 2026
  • Tanggal daftar pemegang saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 8 Mei 2026 waktu 16:00
  • Tanggal pembayaran dividen pada 26 Mei 2026

Pada penutupan perdagangan saham Senin, 4 Mei 2026, harga saham BOLT naik 2,22% menjadi Rp 920 per saham. Harga saham  BOLT dibuka menguat lima poin menjadi Rp 905 per saham. Saham BOLT berada di level tertinggi Rp 925 dan level terendah Rp 905 per saham. Total frekuensi perdagangan 32 kali dengan volume perdagangan saham 113 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10,3 juta.

Kinerja IHSG Pekan Lalu

Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik ke level 8.000 pada penutupan perdagangan, Senin (9/2/2026). (BAY ISMOYO/AFP)

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur dalam empat hari perdagangan pada 27-30 April 2026. Koreksi IHSG sepekan tersebut didorong ketidakpastian global.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Jumat (1/5/2026), IHSG sepekan turun 2,42% menjadi 6.956,80 dari pekan lalu di 7.129,49. Kapitalisasi pasar BEI anjlok 2,78% menjadi Rp 12.382 triliun dari pekan lalu Rp 12.736 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah 2,42% dan masih didominasi tekanan jual. Pihaknya memperkirakan aliran dana keluar masih berlangsung di tengah ketidakpastian global karena ada konflik Timur Tengah. “Di sisi lain masih terjadi pelemahan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Selain itu, koreksi IHSG terjadi, menurut Herditya didorong propek ekonomi Indonesia dan perbankan yang di-downgrade oleh lembaga pemeringkat Fitch.

Selain IHSG dan kapitalisasi pasar, rata-rata nilai transaksi harian juga merosot 6,81% menjadi Rp 18,27 triliun dari pekan lalu Rp 19,61 triliun. Rata-rata frekuensi transaksi harian pekan ini juga merosot 15,02% menjadi 2,34 juta kali transaksi dari 2,75 juta kali transaksi pada pekan lalu.

 

Sektor Saham

Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kemudian rata-rata volume transaksi harian BEI juga terpangkas 17,32% menjadi 37,11 mliar saham dari 44,88 miliar saham pada pekan lalu. Investor asing melepas saham Rp 7,06 triliun selama sepekan. Pada pekan lalu, investor asing melepas saham Rp 2,95 triliun.

Pada pekan ini, mayoritas sektor saham tertekan. Sektor saham basic materials turun 3,97% dan catat penurunan terbesar. Sektor saham energi susut 2,26%, sektor saham industri melemah 1,6%, dan sektor saham consumer nonsiklikal turun 1,8%.

Selanjutnya sektor saham consumer siklikal melemah 1,4%, sektor saham perawatan kesehatan terpangkas  1,51%, sektor saham keuangan turun 0,20%. Lalu sektor saham properti dan real estate susut 1,25%, sektor saham teknologi melemah 0,40%, sektor saham infrastruktur tergelincir 2% dan sektor saham transportasi dan logistic susut 0,64%.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya