Liputan6.com, Jakarta - Sempat menguat signifikan pada awal sesi perdagangan, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis pada sesi pertama perdagangan saham Senin, (4/5/2026). Kenaikan IHSG terjadi di tengah rilis data inflasi dan neraca perdagangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Mengutip data, IHSG menguat terbatas 0,17% menjadi 6.968,52. IHSG berada di level tertinggi 7.069,69 dan level terendah 6.953,64. Sebanyak 320 saham melemah sehingga bebani IHSG. 340 saham menguat dan 157 saham diam di tempat.
Advertisement
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, penguatan IHSG hari ini sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa saham Asia yang juga menguat. Namun, ia memprediksi, IHSG rawan berbalik arah melemah karena pada akhir April sempat menyentuh dari area support krusial.
“Dari sisi sentimen, nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan juga dari Timur Tengah aka nada proses pembebasan kapal yang tidak terlibat konflik oleh Amerika Serikat di mana diharapkan akan membuat harga minyak cenderung turun,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Untuk sesi kedua, pihaknya memprediksi pergerakan IHSG bergejolak karena sejumlah emiten mencatat nilai transaksi besar dan penguatannya mulai menipis.
Adapun total frekuensi perdagangan saham 1.573.012 kali dengan volume perdagangan saham 44,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 14,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.370.
Sebagian besar sektor saham menghijau. Sektor saham consumer siklikal naik 1,19%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham consumer nonsiklikal menanjak 1,05%, dan sektor saham infrastruktur menanjak 0,93%. Lalu sektor saham basic melesat 0,02%, sektor saham industri bertambah 0,27%, sektor saham properti mendaki 0,31%.
Sementara itu, sektor saham teknologi turun 1,35%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham transportasi merosot 1,24%, sektor saham energi terpangkas 0,52%. Lalu sektor saham kesehatan turun 0,35%, sektor saham keuangan terperosok 0,51%.
Gerak Saham
Pada awal pekan ini, harga saham GOTO melemah 5,56% menjadi Rp 51 per saham. Harga saham GOTO berada di level tertinggi Rp 51 dan terendah Rp 50 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 68.929 kali dengan volume perdagangan saham 221.139.200 saham. Nilai transaksi Rp 1,1 triliun.
“Kalau dari sisi teknikal, posisi pergerakan GOTO juga masih berada di fase downtrendnya dan belum mampu break MA60, dari sisi indikator MACD dan Stochastic hingga penutupan sesi 1 masih belum menunjukkan penguatan meski volume hari ini cenderung tinggi,” ujar dia.
Harga saham COIN ditutup stagnan di posisi Rp 1.150 per saham. Harga saham COIN berada di level tertinggi Rp 1.210 dan terendah Rp 1.145 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 1.519 kali dengan volume perdagangan saham 30.574 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 3,6 miliar.
Harga saham PACK melonjak 9,35% menjadi Rp 234 per saham. Harga saham PACK dibuka naik dua poin menjadi Rp 216 per saham. Saham PACK berada di level tertinggi Rp 234 dan terendah Rp 216 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.786 kali dengan volume perdagangan saham 474.060 saham. Nilai transaksi Rp 11 miliar.
Top Gainers-Losers
Saham-saham yang masuk top gainers antara lain:
- Saham BCIP naik 34,85%
- Saham PTSP naik 25%
- Saham ZONE naik 24,71%
- Saham HERO naik 24,47%
- Saham YPAS naik 24,28%
Saham-saham yang masuk top losers antara lain:
- Saham ASDM merosot 12,20%
- Saham COAL merosot 12,12%
- Saham TOOL merosot 12%
- Saham BOBA merosot 11,68%
- Saham INPS merosot 9,85%
Saham-saham teraktif berdasarkan frekuensi antara lain:
- Saham MINA tercatat 86.390 kali
- Saham SDMU tercatat 76.334 kali
- Saham GOTO tercatat 68.862 kali
- Saham BUMI tercatat 54.094 kali
- Saham BRPT tercatat 34.058 kali
Saham-saham teraktif berdasarkan nilai antara lain:
- Saham-saham teraktif berdasarkan nilai:
- Saham GOTO senilai Rp 1,1 triliun
- Saham BBCA senilai Rp 682 miliar
- Saham BUMI senilai Rp 511,4 miliar
- Saham BRPT senilai Rp 439,4 miliar
- Saham BMRI senilai Rp 436,3 miliar
Inflasi April 2026 Naik ke 0,13%, Tarif Pesawat dan BBM Jadi Pendorong
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan inflasi secara bulanan pada April 2026 sebesar 0,13 persen. Tarif pesawat hingga harga BBM jadi beberapa komoditas yang jadi pendorong inflasi pada bulan tersebut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan, terjadi inflasi sebesar 2,06 persen secara tahun kalender (year to date) pada April 2026.
"Pada April 2026, inflasi sebesar 0,13 persen secara bulanan (month to month), atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 110,95 pada Maret 2026 menjadi 111,09 pada April 2026," jelas Ateng, Senin (4/5/2026).
Kelompok pengeluaran penyebab inflasi bulanan terbesar pada transportasi, dengan inflasi sebesar 0,99 persen. Kelompok transportasi ini memberikan andil inflasi sebesar 0,12 persen.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi, yaitu tarif angkutan udara dengan andil inflasi 0,11 persen. Juga bensin dengan andil inflasi 0,02 persen.
"Komoditas lain yang juga memberikan andil inflasi, terutama minyak goreng dengan andil 0,05 persen, tomat 0,03 persen, beras serta nasi dan lauk dengan andil inflasi masing-masing 0,02 persen," imbuh Ateng.
Adapun komoditas yang memberikan andil deflasi pada April 2026, yaitu daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen.