Kesaksian Korban Banjir Aceh: Dua Bulan Minum Air Hujan, Sawah Padi Jadi Padang Pasir

Gampong Wihlah Setie, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, porak poranda saat banjir bandang menerjang di Bulan November 2025.

oleh Yacob BillioctaDiterbitkan 04 Mei 2026, 09:39 WIB
Sekretaris Desa Wihlah Setie yang juga korban banjir, Hajirin. (Liputan6.com/Yacob Billiocta)

Liputan6.com, Jakarta - Gampong Wihlah Setie, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, porak poranda saat banjir bandang menerjang di Bulan November 2025. Berjarak sekira 27 kilometer dari pusat pemerintahan kabupaten di Jalan Yos Sudarso, Kota Takengon, akses menuju dataran tinggi Gayo ini sempat terputus di beberapa titik.

Desa berpenduduk 240 orang tersebut berada di ujung Danau Lut Tawar. Destinasi wisata unggulan di Takengon.

Akses menuju ke sana ditempuh dengan melewati jalur pinggiran danau, diapit oleh lereng pegunungan dan jurang.

Sekretaris Desa, Hajirin bercerita, awalnya hujan deras terus menerus mengguyur enam hari hujan. Puncaknya terjadi di sore hari. Atas perbukitan yang sudah tidak kuat lagi menahan debit hujan, menciptakan longsor. Air bercampur lumpur dan kayu batangan meluncur dari dinding-dinding pegunungan. Menerjang semua yang dilewati.

"Terjadi longsoran di perairan di atas sana. Air datang dari sini (dengan menunjuk bukit) Dari sana juga ada (menunjuk bukit yang lain). Dari belakang sana, dari berbukitan sebelah sana, dari berbukitan sebelah sini juga ada. Jadi airnya itu sifatnya menjadi seperti air bah," kata Hajirin menceritakan betapa dahsyatnya terjangan banjir kala itu, Kamis (20/4/2026).

Menyadari bahaya besar mengintai, perangkat desa kala itu bergegas menginformasikan kepada warga. Satu perintah diambil, evakuasi ke tempat aman secepatnya.

Banjir kemudian menenggelamkan area sawah yang menjadi batas hutan. Merusak saluran pipa air bersih dari sumber pegunungan, hingga merendam rumah-rumah warga yang terbuat dari kayu. Tidak ada bangunan yang selamat.

"Bak Tampung air kita juga kena waktu itu, sehingga putus lah untuk perairan di kampung Wihlah Setie," ucapnya.

Hajirin melanjutkan, warga saat itu berhasil menyelamatkan diri ke balai desa. Di sana warga berkerumun dalam kepanikan, menyaksikan pemandangan hamparan hijau persawahan dan perkampungan perlahan hilang dalam lautan banjir.

Kondisi jalan rusak akibat longsor di Kecamatan Bintang, Takengon. (Liputan6.com/Yacob Billiocta)

Dua Bulan Dalam Situasi Genting

Warga bertahan di lokasi pengungsian selama dua bulan. Selama itu pula, mereka bertahan hidup dalam keterbatasan. Tidak ada air bersih, makanan pun ala kadarnya.

Jika sebelumnya warga bisa menikmati kesegaran air langsung dari sumber di pegunungan, kini situasi berbanding terbalik. Untuk menghilangkan dahaga, warga terpaksa minum air penampungan hujan.

"Kalau untuk minum ya dari air tangkapan hujan tersebut, atau dari air perairan untuk mengalir di sawah nih (air irigasi). Selama kurang lebih dua bulan," kenang Hajirin.

Sedangkan untuk mengisi perut, warga saat itu hanya mengandalkan sisa cadangan beras hasil panen di musim sebelumnya. Tidak ada lauk mewah, hanya bulir bulir padi yang dimasak untuk mengganjal lapar.

Penderitaan warga belum berhenti, distribusi bantuan juga tidak kunjung datang. Penyebabnya satu, jalur menuju desa terputus akibat longsor. Setidaknya ada dua titik kerusakan terparah sepanjang jalan menuju desa.

"Bantuan saat itu belum datang karena kami juga memahami tergendala akses. Dari Takengon ke Bintang ini kan ada dua jalur, waktu itu jalan aksesnya putus total. Sehingga kalau bantuannya nunggu jalannya jadi. Mungkin ada bantuan yang dioperasionalkan melalui danau," lanjut dia.

Area sawah yang sempat menjadi padang pasir saat banjir bandang menerjang Takengon. (Liputan6.com/Yacob Billiocta)

Sawah Jadi Padang Pasir

Selain merendam rumah, lumpur banjir setebal lebih dari satu meter juga menyebabkan area persawahan warga berubah menjadi padang pasir. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya lumpur.

Bahkan ketika Liputan6.com menyambangi desa, sisa-sisa endapan lumpur masih terlihat di beberapa petak sawah.

"Kayak padang pasir. Sepanjang ini padang pasir semuanya. Jadi dari sini ke bawah ini kan ada bekas-bekas. Di bawah itu ada sawah tidak bisa dikelola lagi karena tidak bisa dialiri air," beber Hajirin.

Warga hanya bisa pasrah, memupuknya dengan kesabaran dan keikhlasan. Tidak ada yang bisa melawan kehendak Yang Maha Kuasa.

Seiring berjalannya waktu, ancaman bencana mulai sirna. Satu per satu bantuan datang. Warga juga mulai kembali ke rumah, menata hidup dan melanjutkan cerita.

Hajirin menegaskan, dalam kondisi ini warga saling menguatkan. Berbagi tenaga untuk membersihkan desa dan sawah.

Kini penghuni Desa Wihlah Setie sudah membuka lembaran baru, sapa ramah dan hangat memancar dari sudut-sudut desa. Hal itu terlihat ketika Liputan6.com berpamitan melanjutkan perjalanan.

"Jangan lupa untuk kembali lagi. Kita adalah keluarga," ucap Hajirin sambil menjabat tangan saya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya