Liputan6.com, Washington, D.C. - Sebuah peristiwa langka dalam sejarah Perang Dunia II terjadi di wilayah Amerika Serikat pada 5 Mei 1945, ketika sebuah senjata balon udara yang dikirim dari Jepang meledak di negara bagian Oregon dan menewaskan enam warga sipil.
Insiden tersebut menjadi satu-satunya serangan mematikan yang diketahui di daratan Amerika Serikat akibat aksi musuh selama Perang Dunia II. Enam korban terdiri dari seorang perempuan hamil dan lima anak-anak yang sedang berkemah di kawasan hutan Gunung Gearhart. Mereka tewas setelah tanpa sengaja memicu alat peledak yang dibawa oleh balon tersebut.
Advertisement
Senjata yang digunakan merupakan bagian dari proyek militer Jepang bernama Fu-Go, yang meluncurkan sekitar 9.000 balon hidrogen melintasi Samudra Pasifik dengan memanfaatkan arus jet stream. Balon-balon ini dirancang untuk membawa bom pembakar dan menciptakan kebakaran di wilayah Amerika Utara.
Namun, pemerintah Amerika Serikat saat itu merahasiakan keberadaan serangan tersebut demi mencegah Jepang mengetahui efektivitas operasinya. Kebijakan sensor ini menyebabkan banyak warga sipil tidak menyadari ancaman benda asing yang jatuh di wilayah hutan, dikutip dari laman The Guardian, Selasa (5/5/2026).
Tragedi ini juga sempat memicu kepanikan di kota kecil Bly. Operator telepon saat itu, Cora Conner, menyaksikan langsung ketegangan ketika militer mengambil alih komunikasi dan melarang penyebaran informasi terkait ledakan tersebut.
Meski sempat menimbulkan korban jiwa, sebagian besar operasi balon Fu-Go tidak mencapai sasaran yang signifikan, namun sempat menimbulkan kekhawatiran strategis, termasuk potensi ancaman terhadap fasilitas nuklir di Hanford.
Keluarga korban diketahui mengalami duka mendalam, termasuk keluarga Patzke yang kehilangan beberapa anggota keluarga dalam peristiwa tersebut. Namun, dalam perkembangan kemudian, hubungan antar pihak yang terdampak tidak diwarnai dendam.
Pada 1987, sejumlah perempuan Jepang yang dikaitkan dengan pembuatan balon Fu-Go diketahui mengunjungi lokasi kejadian untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung. Pertemuan tersebut diterima dengan sikap pengampunan oleh keluarga korban yang masih hidup.
Hingga kini, peristiwa bom balon Fu-Go tetap menjadi salah satu episode kurang dikenal dalam sejarah Perang Dunia II, sekaligus menandai salah satu upaya awal penggunaan senjata lintas benua dalam konflik global.