Kepala Bakom Qodari Ingatkan Pentingnya Kehati-hatian Menyikapi Informasi di Medsos

Dia mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati serta melakukan verifikasi sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 03 Mei 2026, 09:04 WIB
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom RI, di Jakarta, Rabu (29/4/2026) (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi konten media sosial menjadi semakin penting di era digital saat ini. Dia mengatakan semua pihak, termasuk tokoh publik dapat terpengaruh oleh informasi yang tidak terverifikasi.

Hal itu dikatakan Qodari dalam menyikapi pernyataan Amien Rais soal Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang terkonfirmasi berbasis hoaks. Ia menilai tudingan tersebut merujuk pada video di media sosial yang tidak terverifikasi dan bersifat manipulatif.

"Kalau saya prihatin ya, setelah melihat video Pak Amien Rais itu, prihatinnya itu adalah Pak Amien Rais sebagai tokoh, sebagai akademisi, sebagai profesor doktor, telah menjadi korban dari hoaks," kata Qodari dikutip dari siaran persnya, Minggu (3/5/2026).

Menurut dia, tudingan terhadap Teddy muncul dari interpretasi keliru atas sebuah konten video di media sosial yang berisi lagu berjudul “Aku Bukan Teddy”. Konten ini disalahartikan sebagai pernyataan autentik.

"Karena dasar penilaian atau tudingan bahwa Pak Seskab, Pak Teddy adalah gay, itu adalah sebuah akun yang di dalamnya berisi lagu berjudul Aku Bukan Teddy, yang dianggap oleh Pak Amien Rais bahwa yang menyanyi itu adalah Ibu Titiek (Soeharto)," tuturnya.

 

Tak dapat Dijadikan Rujukan

Qodari menjelaskan bahwa video tersebut tidak dapat dijadikan rujukan karena tidak autentik. Penyanyi dalam video itu bukan Titiek Soeharto, sementara gambar yang ditampilkan hanyalah kolase dari berbagai sumber yang tidak berkaitan langsung dengan isi lagu.

Qodari juga mengungkapkan bahwa konten tersebut telah mencantumkan keterangan sebagai materi hiburan, bukan fakta. Dia menuturkan hal ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi informasi di ruang digital.

Lebih lanjut, Qodari menyebut kasus ini sebagai contoh nyata bahaya hoaks di era media sosial, termasuk yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, sehingga dapat menyesatkan bahkan tokoh publik sekalipun.

"Jadi ini contoh dari bahaya hoaks dalam medsos, bahaya dari AI, bagaimana seorang tokoh sepintar, sesenior seperti Pak Amien Rais itu bisa menjadi korban hoaks. Jadi statement dari Pak Amien Rais tentang Pak Teddy itu adalah dasarnya hoaks," pungkas Qodari.

Dia mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati serta melakukan verifikasi sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya