Hong Kong Resmi Larang Penggunaan Vape di Tempat Umum

Larangan penggunaan vape di ruang publik Hong Kong mulai berlaku pada Kamis (30/4/2026), menandai langkah terbaru menuju lingkungan bebas asap rokok.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 02 Mei 2026, 14:04 WIB
Produk vaping dimasukkan ke dalam kantong dan disita di sebuah toko tembakau oleh anggota New York Sheriff's Joint Compliance Task Force (SJCTF), di New York, Rabu 27 September 2023. (AP Photo/Bebeto Matthews)

Liputan6.com, Hong Kong - Vaping atau penggunaan rokok elektrik (vape) kini dilarang di ruang publik Hong Kong, seiring otoritas kota tersebut meningkatkan upaya untuk menekan penggunaan tembakau dan melindungi kesehatan masyarakat.

Petugas penegak hukum telah dikerahkan di seluruh kawasan pusat bisnis kota, memberikan informasi kepada masyarakat tentang aturan baru tersebut dan mengambil tindakan terhadap para pelanggar.

Menurut laporan CNA, setidaknya empat orang dikenai sanksi pada hari pertama penerapan larangan, termasuk seorang pria yang perangkat vape-nya disita.

Berdasarkan undang-undang baru tersebut, siapa pun yang kedapatan membawa sejumlah kecil produk rokok alternatif (vape, produk tembakau yang dipanaskan hingga rokok verbal) di ruang publik dapat didenda 3.000 dolar Hong Kong atau sekitar Rp6,6 juta. Mereka yang tertangkap membawa dalam jumlah lebih besar menghadapi hukuman yang lebih berat, termasuk kemungkinan hukuman penjara.

Angka Perokok Menurun

Data menunjukkan bahwa tingkat perokok di Hong Kong telah turun ke rekor terendah sebesar 8,5 persen pada tahun lalu dan kurang dari satu persen penduduk berusia 15 tahun ke atas menggunakan rokok elektronik.

Bagaimanapun, para pejabat memperingatkan bahwa produk tembakau alternatif menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan.

"Produk-produk ini ditujukan untuk menarik penggunaan di kalangan anak muda. Mereka akan menyebabkan ketergantungan nikotin dan (menciptakan) generasi perokok berikutnya," kata Manny Lam Man-chung, kepala Kantor Pengendalian Tembakau dan Alkohol kota tersebut.

Larangan ini berlaku bagi warga maupun wisatawan. Kampanye kesadaran publik sedang dilakukan, dengan poster dipasang di seluruh kota dan pengumuman disampaikan dalam penerbangan yang masuk.

Langkah ini merupakan kelanjutan dari undang-undang tahun 2022 yang melarang penjualan dan impor rokok elektronik, meskipun pembelian secara daring masih menjadi celah.

Anggota Dewan Legislatif David Lam mengatakan aturan baru ini akan membuat efek jera dan penegakan hukum menjadi lebih efektif.

"Di masa lalu, jika seseorang menggunakan vape di jalan, hal itu tidak melanggar hukum. Mereka bisa saja beralasan, 'Ini stok saya dari lima tahun lalu.' Namun sekarang, tindakan tersebut sudah melanggar hukum. Aturan ini membantu menekan pasar gelap, karena meskipun sudah dibeli, produk tersebut tidak dapat digunakan di ruang publik," ujarnya.   

Pihak berwenang telah memberi sinyal bahwa langkah yang lebih ketat mungkin akan menyusul, termasuk kemungkinan larangan vaping di ruang privat, meskipun belum ada jadwal yang diumumkan.

Tuai Reaksi Beragam

Warga dan wisatawan yang diwawancarai CNA sebagian besar mendukung langkah tersebut, dengan menyebut kekhawatiran terhadap paparan dari orang lain.

"Ini baik untuk semua orang. Jika saya tidak ingin merokok, saya juga tidak ingin terpapar oleh orang lain," kata seorang warga. 

Seorang wisatawan dari daratan China menuturkan, "Seluruh China sedang mendorong lingkungan bebas asap rokok. Saya pikir ini langkah yang baik."

Namun, tidak semua pihak setuju. Beberapa pengkritik berpendapat bahwa larangan ini melanggar pilihan pribadi, sementara yang lain khawatir hal ini dapat mendorong pengguna kembali ke rokok konvensional.

"Di luar ruangan, asap akan menghilang ke udara, jadi saya tidak melihat itu sebagai masalah. Saya pikir ini hampir melanggar kebebasan kita untuk melakukan apa yang ingin kita lakukan," kata seorang warga.

Seorang pengguna vape menambahkan, "Beberapa teman saya dan saya mengatakan kami akan mencoba berhenti vaping dan merokok, tetapi saya membayangkan kemungkinan saya akan kembali merokok dalam bentuk tertentu."

Sebuah survei terbaru menemukan bahwa 55 persen pengguna produk tembakau alternatif berencana tetap menggunakan vape secara pribadi, sementara 35 persen memperkirakan akan kembali ke rokok tradisional. Hanya 10 persen yang mengatakan mereka akan mempertimbangkan untuk berhenti sepenuhnya.

Para pegiat kesehatan masyarakat menegaskan bahwa kombinasi kebijakan, termasuk pelarangan rokok berperisa dan penerapan kemasan polos, akan membantu menurunkan tingkat merokok.

"Semua strategi yang dilakukan secara bersamaan, bersama dengan edukasi publik … kami percaya semakin banyak perokok pada akhirnya akan berhenti merokok demi kesehatan mereka sendiri dan anggota keluarga mereka," kata Henry Tong, ketua Dewan Pengendalian Merokok dan Kesehatan Hong Kong.

Pejabat kota mengatakan bahwa tujuan jangka panjangnya adalah Hong Kong yang sepenuhnya bebas asap rokok.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya