Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mencetak kinerja keuangan positif pada kuartal I 2026. Perseroan mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk meraup pendapatan USD 116,55 juta, naik 14,8% dari periode sama tahun sebelumnya USD 101,50 juta. Seiring kenaikan pendapatan itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 40% menjadi USD 43,91 juta hingga kuartal pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya USD 31,37 juta.
Advertisement
Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Fransetya Hutabarat menuturkan, pertumbuhan ini didorong oleh efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan perseroan.
"Selain itu, capaian ini juga menempatkan PGE pada posisi keuangan yang solid untuk terus tumbuh secara berkelanjutan,” kata Fransetya dikutip dari keterangan resmi,ditulis Jumat (1/5/2026).
Laba bruto perseroan tumbuh 15,14% menjadi USD 67,57 juta hingga Maret 2026 dari periode sama tahun sebelumnya USD 58,68 juta.
Beban umum dan administrasi naik menjadi USD 5,66 juta dari periode saham tahun sebelumnya USD 3,43 juta.
Laba usaha tumbuh 12,22% menjadi USD 62 juta dari periode kuartal pertama 2025. Perseroan mencatat pendapatan keuangan naik menjadi USD 6,23 juta dari periode sama tahun sebelumnya USD 6,05 juta. Perseroan juga meraup laba selisih kurs menjadi USD 6,05 juta.
Seiring kinerja itu, perseroan mencatat laba per saham dilusian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi USD 0,0010.
Perseroan mencatat ekuitas naik menjadi USD 2,09 miliar dari Desember 2025 sebesar USD 2,04 miliar. Liabilitas turun 2,44% menjadi USD 964,73 juta. Penurunan ini dinilai berdampak positif terhadap penguatan struktur modal serta penurunan risiko keuangan Perseroan.
Aset perseroan naik menjadi USD 3,06 miliar hingga Maret 2026 dari periode sama tahun sebelumnya USD 3,03 miliar.
Kunci Transisi Energi
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menuturkan, di tengah ketegangan geopolitik dan krisis energi global, transisi energi harus tetap menjadi prioritas. Ia menuturkan, kondisi global tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk semakin mengoptimalkan pengembangan panas bumi.
"Sejalan dengan itu, sebagai world leading geothermal producer, PGE terus berfokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui tiga strategi utama: optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru.
Kinerja solid PGE dalam beberapa tahun terakhir menjadi fondasi kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan. Ke depan, capaian ini menjadi bekal bagi kami untuk terus berekspansi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Ahmad Yani.
Perkembangan sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) juga menunjukkan arah yang semakin positif. Hal ini tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025–2034, yang menargetkan porsi EBT mencapai 76 persen. Selama periode tersebut, panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW).
Target PGEO
Untuk mendukung pencapaian target target tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034.
Saat ini, Perseroan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW), serta berkontribusi signifikan terhadap pasokan listrik di berbagai daerah.
Dengan mengelola sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGE menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung sistem kelistrikan nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, PGE juga mencatatkan kinerja unggul dalam aspek keberlanjutan dengan meraih peringkat ESG tertinggi di Indonesia, yakni skor 7,1 dari Sustainalytics. PGE menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025.