Kecelakaan Kereta di Bekasi dan Pentingnya Investigasi Tanpa Celah

AHY menegaskan, tidak boleh ada aspek yang terlewat dalam proses investigasi kecelakaan kereta di Bekasi.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 28 April 2026, 17:33 WIB
Tim pencari dan penyelamat gabungan berupaya menyelamatkan salah satu korban yang terjebak di dalam gerbong setelah lokomotif Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong belakang Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat pada Selasa 28 April 2026. (Rezas/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan akan mengawal proses investigasi yang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait kecelakaan kereta di Bekasi.

Ia meminta penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan hasilnya disampaikan secara transparan kepada publik.

“KNKT tadi sudah menyanggupi akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Saya minta transparan, terbuka, bisa dijelaskan kepada publik,” kata AHY di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026).

Menurut dia, keterbukaan hasil investigasi penting tidak hanya untuk akuntabilitas, tetapi juga sebagai sarana edukasi publik agar kejadian serupa dapat dicegah di masa mendatang.

“Ini juga harus ada faktor edukasinya. Jangan sampai ada kendaraan macet di tengah jalan, di tengah-tengah rel kereta, yang kemudian satu kendaraan mengakibatkan kecelakaan beruntun, kecelakaan yang mengakibatkan maut,” jelasnya.

AHY menegaskan, tidak boleh ada aspek yang terlewat dalam proses investigasi, mengingat kecelakaan transportasi umumnya melibatkan banyak faktor yang saling berkaitan.

“Tidak boleh ada yang tertinggal karena semua bisa menjadi faktor yang mempengaruhi satu sama lain,” ucapnya.

 

Soroti Sistem Persinyalan

Taksi Green SM ikut tertabrak KRL di Bekasi Timur. (Liputan6.com/Rifqy)

Selain itu, ia juga menyoroti kemungkinan faktor teknis seperti sistem persinyalan yang turut menjadi perhatian dalam investigasi. Namun, ia meminta semua pihak menunggu hasil resmi dari KNKT sebelum menarik kesimpulan.

“Sekali lagi saya ingin menunggu laporan lengkap resmi dari KNKT karena ini melibatkan banyak stakeholders untuk memastikan apakah memang ada gangguan, ada error, atau ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, termasuk terkait persinyalan,” kata AHY.

Sebelumnya, sopir taksi Green SM yang diduga menjadi pemicu kecelakaan kereta antara KRL dengan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur dikabarkan selamat. Polisi langsung mengamankan sopir tersebut untuk diperiksa. 

“Benar sekali (sudah diamankan)," kata Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe saat dihubungi, Selasa (28/4/2026). 

Saat ini, sopir taksi Green SM itu sudah berada di Polres Metro Bekasi Kota. Pemeriksaan pun dilakukan guna mendalami rangkaian kecelakaan yang terjadi.  

"Diamankan Polres Metro Bekasi Kota," ucapnya.

Dugaan Penyebab Kecelakaan

Para pekerja dan petugas penyelamat memeriksa kondisi salah satu gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line yang mengalami kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa 28 April 2026. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Polisi mengungkap penyebab awal kecelakaan yang melibatkan sejumlah kereta api di wilayah Bekasi. Peristiwa itu bermula dari gangguan yang dialami taksi listrik Green SM, yang mogok di perlintasan rel.

Subdirektorat Penegakan Hukum (Subditlaka) Korlantas Polri, Sandhi Wiedyanoe, menjelaskan kendaraan tersebut mengalami masalah kelistrikan saat melintas di perlintasan Ampera.

"Kecelakaan ini diakibatkan dari korsleting atau permasalahan elektrik dari kendaraan taksi roda empat elektrik, ya. Di mana tepat permasalahan itu terjadi di perlintasan Ampera, perlintasan rel kereta api di Ampera," kata Sandhi di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).

Kendaraan yang berhenti di atas rel itu kemudian tertabrak kereta api. Insiden awal ini sebenarnya hanya menimbulkan kerugian material. Namun, dampaknya meluas karena mengganggu perjalanan kereta lain di jalur tersebut.

Dalam situasi tersebut, sejumlah perjalanan kereta, termasuk KRL, sempat tertahan untuk proses evakuasi insiden awal.

Saat itulah, polisi menduga ada kendala dalam penyampaian informasi di lapangan. Sehingga kondisi di jalur tidak sepenuhnya terkomunikasikan dengan baik ke seluruh rangkaian kereta.

Akibatnya, kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melintas dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam tidak mendapatkan informasi utuh mengenai kondisi di depan. Tabrakan antara KRL yang tengah berhenti dan KA Argo Bromo tak terhindarkan di sekitar Stasiun Bekasi Timur dan menyebabkan korban jiwa.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya