Liputan6.com, Jakarta - Sejak Selasa (28/4/2026) dini hari, rumah Nuryati dipenuhi tetangga yang datang untuk menyampaikan duka cita. Perempuan berusia 63 tahun itu meninggal dunia akibat insiden kecelekaan kereta KRL commuter line dengan KA Argo Bromo, Senin (27/4/2026) malam di Stasiun Bekasi Timur.
Pagi hari, tangan-tangan datang bergantian menyalami Halimah. Anak pertama Nuryati. Satu per satu, tetangga dan kerabat menyampaikan duka di depan rumahnya di Jalan Kalibaru Timur VI Dalam, RT 004/ RW 08, Kelurahan Utan Panjang, Kecamatan Kemayoran Jakarta Pusat.
Advertisement
Kabar duka itu datang lewat sambungan telepon, semalam. Sekitar pukul sembilan hingga setengah sepuluh malam, adiknya mengabari. Saat itu, adiknya dan keponakannya menemani sang ibu berangkat dari Jakarta menuju Bekasi menggunakan KRL commuter line.
“Katanya Mama pingsan,” kata Halimah saat ditemui, Selasa (28/4/2026).
Halimah mengira ibunya hanya kelelahan di kereta. Telepon berikutnya mengubah segalanya. Ibunya sudah tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat.
"Terus saya telepon lagi, sudah tidak ada kayaknya,” ucapnya menirukan pesan dari sang adik.
Halimah menggambarkan kondisi gerbong KRL berdasar cerita adiknya. Saat kejadian, gerbong gelap. Tidak ada sirkulasi udara. Penumpang berdesakan mencari jalan keluar. Adik Halimah dan keponakannya keluar lewat jendela. Mereka memanjat di tengah kepanikan. Sedangkan Nuryati tidak bisa mengikuti.
"Mama enggak mungkin lompat lewat jendela,” kata Halimah.
Pintu menjadi satu-satunya harapan. Saat pintu gerbong KRL berhasil dibuka, hanya segelintir orang tersisa di dalam. Nuryati masih berada di sana. Benturan sebelumnya sempat membuat tubuh penumpang terpental di dalam gerbong. Dia tak tidak keluar. Dari cerita adiknya, Halimah menduga ibunya terguncang dan kehabisan tenaga.
"Mungkin karena Mama kehabisan oksigen di dalam. Jadi pas keluar itu sudah lemes,” katanya.
Saat Terakhir Nuryati
Sore sebelum kejadian, Nuryati masih duduk di rumah itu. Sekitar pukul setengah tujuh, dia berbincang dengan Halimah soal kegiatan PKK yang akan datang. Obrolan berjalan biasa, seperti hari-hari sebelumnya.
Malam hari, Nuryati berangkat dari Stasiun Kemayoran. Bertiga bersama dua anak dan keponakannya. Tujuannya ke Cikarang, hendak menjenguk anaknya yang dirawat di rumah sakit.
Nuryati dikenal aktif di lingkungannya. Aktif di jumantik, posyandu, pengajian warga, juga Muslimat.
"Mama itu orang baik, diem, enggak pernah banyak ngomong,” kata Halimah.
Pagi itu, rumahnya penuh. Orang-orang datang, sebagian mungkin tak pernah disebut sebelumnya. Halimah melihat satu per satu, lalu berkata pelan, heran oleh banyaknya yang datang.
Jenazah Nuryati akan dimakamkan di Karet Tengsin. Di sela keramaian itu, tersisa satu harapan yang dia ucapkan.
"Mudah-mudahan transportasi di Jakarta lebih baik ya Jangan sampai nanti ada laka lantas lagi. Di udara, di darat, ataupun di air," katanya penuh harap.