8 Jam Selamatkan Nyawa: Cerita Anggota Basarnas Berjibaku Evakuasi Korban yang Terjepit Badan Kereta

Proses evakuasi korban yang terjepit badan kereta bukan perkara mudah.

oleh Rifqy Alief AbiyyaDiterbitkan 28 April 2026, 12:31 WIB
Tim penyelamat mengevakuasi salah satu korban kecelakaan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat pada Selasa 28 April 2026. (Yasuyoshi Chiba/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Proses evakuasi korban kecelakan kereta di Stasiun Bekasi Timur berlangsung dramatis. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, Media, hingga Pemadam Kebarakan berjibaku menyelamatkan para penumpang yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

Rian, salah satu anggota Basarnas yang turut mengevakuasi korban menggambarkan situasi penyelamatan berlangsung mencekam.

Dalam situasi gelap dan sempit, Basarnas harus berpacu dengan waktu dalam misi penyelamatan ini, praktis 8 jam dihabiskan untuk mengevakuasi penumpang yang terjepit badan kereta.

Kondisi lokomotif yang menghantam gerbong perempuan KRL Commuter Line mengakibatkan banyak korban terhimpit material besi akibat dorongan lokomotif yang keras.

Kondisi ini membuat proses evakuasi tidak mudah. Sejumlah kendala dihadapi para petugas saat proses penyelamatan.

"Ada korban yang memang terjepit di gerbong kereta. Nah, mungkin kendala kami ya," ungkap Rian kepada Liputan6.com, Selasa (28/4/2026).

Menurut Rian, kendala terbesar yang dirasakan dalam proses evakuasi yaitu penyelematan kepada korban kejepit, sehingga petugas harus memotong bagian-bagian kereta untuk menyelamatkan para korban.

"Nah, mungkin kendala kami ya karena itu, kami harus memotong part-part atau bagian-bagian dari gerbong-gerbong yang ada untuk bisa mengeluarkan si korban," jelas Rian.

Proses pemotongan besi pun bukan hal mudah bagi Rian dan tim Basarnas lainnya. Petugas harus bekerja cepat, namun tetap mengedepankan kehati-hatian. Ditambah ruang sempit yang membatasi pergerakan petugas.

Rian menjelaskan, pemotongan besi ini dilakukan dengan alat khusus, sehingga tidak bisa menggunakan alat sembarang.

"Untuk kondisi korban itu posisi dalam udah meninggal dunia, kondisinya kejepit. Makanya kami agak susah mengeluarkan itu karena harus memotong-motong dulu," sambung dia.

Tak semua penumpang selamat dari peristiwa ini. Sejumlah korban selamat yang terjepit mengalami benturan keras. Namun, ada pula yang ditemukan meninggal dunia saat proses evakuasi.

"Untuk korban yang selamat ya, yang kami temukan dalam kondisi masih bisa hidup itu, kondisi hidup, cuma terjepit aja mereka," ungkap dia.

 

Kata Kepala Basarnas

Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syafii menjelaskan alasan proses evakuasi korban kecelakaan kereta di Bekasi dilakukan secara hati-hati dan bertahap.

Menurut dia, langkah tersebut diambil karena sejumlah korban masih berada dalam kondisi terjepit di dalam rangkaian kereta, sehingga membutuhkan penanganan khusus.

"Alhamdulillah dari seluruh korban tentunya dengan penanganan khusus ada beberapa korban yang memang harus kita lakukan tindakan secara terukur karena memang membutuhkan penanganan khusus, sehingga mungkin ada sempat dipertanyakan kenapa kereta atau lokomotif tidak langsung ditarik bersamaan dengan gerbong," katanya.

Dirinya juga menyampaikan, saat itu memang ada 5 korban yang masih dalam kondisi terjepit dan harus kita laksanakan kegiatan retrikasi atau ekstrikasi sehingga korban itu bisa kita selamatkan dalam kondisi tidak sampai menimbulkan dampak yang lebih berat lagi.

Ia menambahkan, proses ekstrikasi terhadap korban menjadi prioritas utama dalam operasi penyelamatan guna meminimalisir risiko cedera yang lebih parah.

Lebih lanjut, Syafii menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses evakuasi, termasuk tim SAR gabungan dan media yang turut memantau jalannya operasi.

"Jadi itu sekali lagi terima kasih atas rekan-rekan media yang telah mengikuti secara langsung proses evakuasi ini, dan Alhamdulillah atas kerja sama dari seluruh unsur bahwa operasi SAR bisa kita laksanakan sesuai dengan yang kita harapkan," ujarnya.

Ia memastikan, operasi SAR terhadap kecelakaan tersebut telah dinyatakan selesai pada pagi hari setelah seluruh korban berhasil dievakuasi.

"Dan tadi pagi dengan pukul 08:00 sudah selesai, seluruh tim SAR kita nyatakan kita kembalikan ke homebase masing-masing. Mungkin demikian yang bisa saya tambahkan, terima kasih," pungkasnya.

Proses evakuasi pascainsiden kecelakaan KRL vs KA Argo Bromo di Bekasi Timur selesai dilakukan. Proses evakuasi memakan waktu lebih kurang 10 jam sejak kecelakaan terjadi pukul 20.50 Wib.

"Evakuasi dari Kereta Argo Anggrek sudah kami bisa lakukan 100 persen. Sekarang kalau dilihat juga lokomotifnya sudah lepas dari rangkaian terakhir KRL yang terdampak," kata Dirut PT KAI, Bobby Rasyidin, dalam jumpa pers di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).

Bobby juga memastikan jalur tempat kecelakaan terjadi sebenarnya sudah steril sejak kemarin malam. Tetapi, KRL belum bisa beroperasi.

"Jalur hilirnya juga dari tadi malam juga sudah kita buka dan bisa beroperasi normal. Sementara untuk Commuter Line atau KRL akan ditutup dulu. Akan ditutup dulu dan stasiun terakhir layanan terakhir adalah Stasiun Bekasi," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya