TypeCaster Naik Kelas dari Academy ke Apple Developer Institute, Apa yang Bikin Publisher Kepincut?

TypeCaster, game action RPG lahir dari Apple Developer Academy ini kini masuk tahap pematangan bersama publisher.

oleh YusliansonDiterbitkan 26 April 2026, 12:03 WIB
Tim TBA Studio, pengembang game TypeCaster Vincent (Programmer), ⁠Nabil (Animator), Alfred (Game Designer & Project Manager), ⁠Dixon (Programmer), Tessy (Lead Programmer) (ki-ka). (Liputan6.com/ Yuslianson)

Liputan6.com, Jakarta - Apa jadinya bila kecepatan dan ketepatan kamu mengetik di keyboard dan digabungkan dengan game action RPG bernuansa magis? Hasilnya adalah game seru dan unik berjudul TypeCaster.

Berbeda dari kebanyakan game yang ada saat ini, game besutan pengembang TBA STudio yang terdiri dari alumni Apple Developer Academy pada 2024 ini mengharuskan pemain mengetik cepat dan akurat untuk merapal mantra saat melawan musuh.

Berawal dari sebuah challenge di dalam program akademi, tim TBA ini memilih untuk membuat sebuah game ketimbang mengikuti peserta lain lebih memilih untuk membuat aplikasi.

Keputusan ini diambil karena para anggota tim ingin memilih jalur berbeda dan karena mereka memiliki ketertarikan besar terhadap game.

"Ide awalnya sendiri itu berasal dari sebuah challenge, salah satu bagian dari Apple Developer Academy. Saat itu, banyak peserta yang bikin aplikasi. Tapi karena teman-teman di circle kami memang ingin membuat game, kami akhirnya membentuk kelompok dan membuat Type Caster ini," ujar Vincent selah satu programmer di TBA Studio.

Selain Vincent, tim TBA Studio terdiri dari ⁠Nabil (Animator), Alfred (Game Designer & Project Manager), ⁠Dixon (Programmer), Tessy (Lead Programmer), tim illustrator terdiri dari Carlos, ⁠Limina, dan Jessica.

Mekanik Mengetik di TypeCaster Jadi Pembeda 

Type Caster mengambil dasar action RPG, tetapi memberi sentuhan jarang ditemui lewat mekanik mengetik. Ide ini muncul setelah tim melakukan brainstorming dan melihat keterbatasan mereka sebagai pengembang muda.

"Kami sadar untuk bersaing di market, kita tidak punya uang sebanyak itu, tidak punya capability marketing sejago itu, dan belum tahu banyak soal industri," kata Vincent. 

Dari situlah, tim memilih membuat game yang berbeda lewat mekanik mengetik. Mereka juga menjelaskan, telah melakukan riset internal dengan hasil mekanik ini masih jarang dieksplorasi, terutama jika dipadukan dengan action RPG.

"Game ini harus unik, harus berbeda. Caranya kami terjemahkan dalam bentuk mekanik mengetik. Setelah kami riset, mekanik seperti ini memang masih jarang dieksplorasi," katanya.

Salah satu hal unik lainnya dalam game TypeCaster ini adalah gaya visual hitam putih. Pilihan ini bukan sekadar keputusan estetika. Tim TBA menyebut, gaya monochrome dipilih agar pemain tidak terdistraksi saat menghadapi tantangan mengetik dan bertarung melawan musuh.

TypeCaster dirancang sebagai game menuntut presisi, kecepatan, dan strategi. Karena mekaniknya sudah menantang, tim ingin tampilan visual tetap fokus dan mudah dibaca pemain.

"Ini kan game mengetik dengan tema challenge ya. Karena mekaniknya sendiri sudah menantang, kami tidak ingin pemain terdistraksi dengan elemen visual lain yang ada di dalam game. Kami ingin gamer fokus ke karakter, typing, dan musuhnya," kata mereka.

Menariknya, game ini mengusung nuansa theatrical atau teater, sebuah pendekatan yang tidak hanya muncul dari sisi visual saja, tetapi juga bagaimana game ini membawakan cerita.

 

Cerita TypeCaster di Buat Tiga Babak

TypeCaster. (TBA Studio)

Meski demo TypeCaster masih memperlihatkan fokus pada mengetik dan melawan musuh, tim TBA memastikan versi penuh game ini akan memiliki narasi. "Story projection itu juga salah satu poin penting dari game kami. Game ini memang punya naratif,” kata Alfred. 

Ia menambahkan, "nanti ketika sudah rilis penuh, pemain bisa berekspektasi. Selain mekanik yang sudah dan combat menantang, ada juga cerita menarik dan seru." Dijelaskan, narasi game ini akan dibagi dalam tiga babak. "Cerita A, cerita B, dan cerita C berada dalam satu semesta," katanya.

Secara garis besar, Type Caster akan mengikuti perjalanan seorang karakter yang awalnya bukan siapa-siapa. Karakter itu kemudian mencari identitas, makna hidup, dan visi dirinya.

“Ini tentang seorang bukan siapa-siapa, sampai akhirnya karakter kami ini menemukan identitas, makna hidup, dan visinya,” katanya.

 

Dari Prototipe ke Game Lebih Matang

TypeCaster. (TBA Studio)

Perjalanan pengembangan TypeCaster tidak berhenti di Apple Developer Academy. Setelah masuk ke Apple Developer Institute, tim TBA mulai mematangkan banyak aspek, terutama dari sisi teknikal, visual, audio, dan pengalaman bermain.

Saat masih di akademi, fokus utama mereka adalah membuat prototipe. Pada tahap itu, target terpenting adalah memastikan pemain memahami konsep dasar TypeCaster.

"Dari akademi sendiri memang fokusnya ke prototyping. Karena itu tahap awal, kami ideasi dan masih kasar. Yang terpenting adalah bagaimana caranya player mengerti ini game apa. Itu dulu," kata Vincent.

Setelah masuk Institute, tim mulai belajar mengerjakan detail sebelumnya terlalu mereka dalami. Mulai dari partikel, pencahayaan, sound effect, hingga cara membangun suasana agar pemain lebih masuk ke dunia game.

“Kami belajar bagaimana memainkan detail-detail seperti partikel, cahaya, kemudian bagaimana pentingnya sound effect dan cerita. Kami juga belajar bagaimana caranya membuat orang bisa immerse, tidak sekadar ada,” ujarnya.

Menurut tim, proses di Institute membantu Type Caster berkembang dari sisi teknis dan pemahaman terhadap industri game.

“Dari sisi teknikal kami improve banget. Dari visual, experience, dan lain sebagainya. Kami masih bayi di industri gaming ini. Kami belum tahu apa-apa. Namun, sejak masuk ke Institute, kami jadi lebih mengenal bagaimana industri ini berfungsi,” jelasnya.

 

Sudah Ada Publisher yang Kepincut

Salah satu perkembangan penting TypeCaster adalah keterlibatan publisher. Tim TBA mengonfirmasi sudah ada publisher untuk game ini, tetapi nama pihak tersebut belum bisa diumumkan.

“Publisher-nya ya, kami belum bisa kasih tahu juga,” kata tim TBA. Tim hanya menyebut informasi resmi akan disampaikan selanjutnya. Mereka belum ingin membuka detail lebih jauh, termasuk strategi peluncuran dan komunikasi ke publik.

“Nanti ada pengumuman resmi, jangan ditembak-tembak,” ujarnya sembari tertawa. Saat ditanya soal jadwal rilis penuh, tim menyebut keputusan akhirnya masih bergantung pada publisher. Namun, target sementara TypeCaster tetap mengarah ke 2026.

Untuk saat ini, Type Caster sudah memiliki fondasi yang menarik. Game ini membawa ide sederhana, mengetik, lalu mengolahnya menjadi pengalaman action RPG dengan identitas visual dan narasi yang khas.

Bagi industri game Indonesia, Type Caster menjadi contoh bagaimana ide kecil dari ruang akademi bisa tumbuh menjadi proyek serius. Perjalanannya kini tinggal menunggu babak berikutnya, saat publisher dan tim TBA siap membuka detail rilis penuh kepada publik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya