Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) belakangan ini dinilai bukan semata-mata mencerminkan penurunan kinerja fundamental perseroan. Analis Pasar modal sekaligus Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada, menilai kondisi pasar secara keseluruhan masih menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan saham perbankan, termasuk saham BBCA.
Menurut Reza, kinerja fundamental BBCA justru masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Hal ini terlihat dari laba bersih konsolidasi yang mencapai Rp14,7 triliun pada kuartal I 2026, ditopang oleh penyaluran kredit yang tumbuh 5,6% secara tahunan menjadi Rp 994 triliun.
Advertisement
"Dari hasil paparan mereka terlihat kinerjanya masih bertumbuh dan itu bagus untuk perkembangan perbankan di Indonesia. Apalagi di tengah masih fluktuasinya kondisi ekonomi Indonesia di tengah tensi geopolitik sepanjang kuartal I 2026 hingga saat ini," kata Reza kepada Liputan6.com, Sabtu (25/4/2026).
Ia menambahkan, pertumbuhan kredit pada periode tersebut kemungkinan turut didorong oleh momentum konsumsi selama Ramadhan dan Idul Fitri. Meski demikian, rincian sektor kredit yang menopang kinerja tersebut perlu dilihat lebih lanjut dari laporan perseroan.
“Yang jelas sepanjang triwulan I 2026 masih bertumbuh. Bisa jadi karena sepanjang kuartal I 2026 ada momen Ramadhan dan Idul Fitri yang meningkatkan konsumsi masyarakat," ujar Reza.
Ke depan, menurut Reza, manajemen BBCA diperkirakan tetap mengedepankan strategi pertumbuhan berkelanjutan, dengan fokus pada kualitas kredit. Penyaluran kredit produktif, termasuk ke sektor yang mendukung ekonomi hijau (green economy), diyakini akan menjadi prioritas.
"Saya rasa untuk di kuartal berikutnya tentunya manajemen akan mempertahankan strategi pertumbuhan berkelanjutan di mana pertumbuhan kredit termasuk di dalamnya kualitas kredit akan dipertahankan, terutama penyaluran untuk kredit produktif dan kredit yang ditujukan untuk industri yang mengedepankan green economy," ujarnya.
Dibayangi Faktor Eksternal
Terkait pelemahan harga saham, Reza menekankan, pergerakan saham tidak hanya ditentukan oleh fundamental perusahaan. Faktor eksternal seperti sentimen pasar dan pergerakan sektor juga memainkan peran penting.
"Kalau terkait dengan kinerja sahamnya tentunya tidak hanya dilihat dari sisi kinerja fundamentalnya saja namun, ada sejumlah faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi pergerakannya. Terutama jika mayoritas saham-saham perbankan mengalami penurunan maka dimungkinkan BBCA juga ikut turun," ujarnya.
Namun demikian, seharusnya jika kondisi pasar sudah pulih, saham BBCA dimungkinkan untuk kembali mengalami kenaikan seiring meningkatnya aksi beli dari para investor.
Harga Saham BBCA pada Jumat, 24 April 2026
Sebelumnya, harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah pada penutupan perdagangan saham Jumat, 24 April 2026. Koreksi harga saham terjadi di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang lesu.
Berdasarkan data RTI, harga saham BBCA turun 5,84% menjadi Rp 6.050 per saham pada Jumat pekan ini. Harga saham BBCA dibuka turun 25 poin menjadi Rp 6.400 per saham.
Harga saham BBCA berada di level tertinggi Rp 6.425 dan level terendah Rp 6.050 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 133.372 kali dengan volume perdagangan saham 4.478.022 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 2,8 triliun. Kapitalisasi pasar saham BBCA menyentuh Rp 745,81 triliun.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.