Liputan6.com, Jakarta - Sosok calon CEO Apple baru, John Ternus, menjadi pusat perhatian saat perusahaan memperkenalkan MacBook Neo ke publik.
Dalam acara media yang berlangsung intim tersebut, Ternus memosisikan MacBook Neo sebagai perangkat transformatif, sebuah laptop premium dengan harga USD 599 (sekitar Rp 10,3 juta).
Advertisement
Kehadiran Ternus tidak hanya sekadar formalitas teknis. Ia tampil di program Good Morning America, sebuah panggung yang biasanya dihadiri secara khusus oleh CEO Tim Cook.
Di lapangan, para staf Apple secara konsisten menyebut nama Ternus sebagai visi utama di balik lahirnya laptop ini. Secara praktis, Ternus telah menjadi wajah bagi era baru MacBook Neo.
Langkah ini dinilai krusial mengingat Ternus dijadwalkan akan resmi menjabat sebagai CEO Apple pada 1 September mendatang. Demikian sebagaimana dikutip dari Engadget, Minggu (26/4/2026).
MacBook Neo bukan sekadar pencapaian dalam portofolionya, melainkan indikator arah perusahaan di bawah kepemimpinannya. Apple kini tampak lebih berani mengambil risiko.
Selama ini, Apple sangat menjaga citra premiumnya. Mereka sempat meninggalkan eksperimen ponsel murah seperti seri iPhone SE atau 5C. Meski Apple Watch SE dibanderol kompetitif, lini iPhone terbaru tetap menjaga jarak harga yang cukup jauh dari kompetitor Android kelas menengah.
MacBook Neo mendobrak tradisi tersebut. Keputusan Apple membenamkan prosesor seluler ke dalam komputer penuh, serta mempertahankan kapasitas RAM 8GB di tengah tuntutan industri, awalnya dianggap sebagai pertaruhan besar. Namun, produk ini justru membuktikan bahwa Apple bisa keluar dari zona nyamannya tanpa kehilangan jati diri.
Mendisrupsi Pasar Laptop Budget
Berkat kepemimpinan Ternus di bidang perangkat keras dan integrasi perangkat lunak yang matang, MacBook Neo meraih sukses besar. Perangkat ini menawarkan kualitas rakitan, layar, papan ketik, hingga kualitas suara yang melampaui standar laptop di harga Rp 10 jutaan.
Kualitas ini bahkan memicu kritik tajam bagi para kompetitor. Dalam ulasan produk, disebutkan bahwa kehadiran Neo seharusnya membuat para produsen PC Windows, termasuk Microsoft, merasa "tertinggal."
Meskipun margin keuntungan dari Neo diprediksi lebih tipis dibandingkan seri MacBook Air atau Pro, perangkat ini memiliki misi strategis lain.
Neo dirancang sebagai "gerbang pembuka" bagi pelajar dan pengguna baru untuk masuk ke dalam ekosistem Apple, sekaligus menggoda para pengguna Windows untuk berpindah haluan.
Masa Depan Apple di Tangan Ternus
Tentu saja, Neo adalah hasil kerja kolektif tim insinyur dan manajer produk. Namun, sulit untuk menafikan peran Ternus dalam merealisasikan laptop murah yang tetap mempertahankan standar kualitas tinggi.
Ternus bukanlah orang baru. Dalam 25 tahun kariernya di Apple, ia telah terlibat dalam pengembangan hampir seluruh produk utama, mulai dari Mac, iPad, iPhone, hingga Apple Watch. Pengalaman lintas produk ini memberinya perspektif unik tentang bagaimana Apple dapat meregangkan kapabilitasnya tanpa mengorbankan detail dan kualitas.
Kehadiran MacBook Neo memberikan gambaran sekilas tentang masa depan. Di bawah kendali John Ternus, Apple tampak siap membentuk ulang dirinya menjadi perusahaan yang lebih adaptif namun tetap mempertahankan obsesi terhadap kesempurnaan.