Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan stok pupuk nasional berada dalam kondisi aman, bahkan berpotensi untuk diekspor di tengah krisis produksi pupuk global akibat konflik di Timur Tengah.
Ia menjelaskan, mekanisme subsidi pupuk yang dibayarkan di awal turut meringankan beban produsen, sehingga kinerja produksi dalam negeri tetap terjaga. Pemerintah memang menerapkan skema pembayaran subsidi di muka untuk pengadaan bahan baku, yakni sebelum proses produksi dan distribusi berlangsung, berdasarkan selisih harga komersial dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Advertisement
“Karena kita bayar subsidi pupuk di depan, lebih dari Rp 20 triliun di awal tahun. Jadi cost of capital mereka turun, tidak perlu pinjam ke bank,” ujar Purbaya dalam Media Briefing, Jumat (24/4/2026)
Dengan skema tersebut, produsen dinilai dapat beroperasi lebih cepat dan efisien karena memiliki likuiditas yang cukup sejak awal produksi. Hal ini turut mendorong peningkatan produksi pupuk nasional hingga berada pada level tinggi dan membuka peluang ekspor saat pasokan global terganggu.
“Mereka bisa beroperasi dengan cepat dan lebih efisien. Kalau punya duit kan gampang beli ini, beli itu. Sehingga kita sekarang produksinya, kata Menteri Pertanian, sudah tinggi dan bahkan siap ekspor ketika dunia lagi pusing di pupuk,” jelasnya.
Berbanding Terbalik dengan Negara Lain
Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan kondisi produksi pupuk Indonesia justru berbanding terbalik dengan sejumlah negara lain yang terdampak konflik geopolitik, terutama ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang mengganggu rantai pasok global.
Gangguan distribusi di Selat Hormuz serta kenaikan harga gas alam menyebabkan biaya produksi pupuk, khususnya urea, melonjak di banyak negara dan memicu kelangkaan di pasar internasional.
Ia juga menyoroti bahwa isu pupuk kini menjadi perhatian lembaga global, tidak hanya terbatas pada sektor energi.
Sementara itu, sebelumnya Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan adanya permintaan impor pupuk urea dari sejumlah negara seperti India, Australia, Filipina, dan Brasil. India disebut mengajukan permintaan sekitar 500 ribu ton, sedangkan Australia telah menyepakati pengiriman tahap awal sebesar 250 ribu ton.