Liputan6.com, Jakarta - Memperingati Hari Sadar Bising Sedunia yang jatuh pada 24 April 2026, tim Health Liputan6.com mencoba langsung skrining pendengaran audiometri.
Skrining dilakukan di IHC Rumah Sakit PELNI, Jakarta Barat, Jumat siang, 24 April 2026. Skrining audiometri adalah pemeriksaan pendengaran untuk mengukur kemampuan mendengar berbagai suara, nada, dan frekuensi.
Advertisement
Tes ini dinilai penting dalam mendiagnosis gangguan pendengaran, mengevaluasi tingkat keparahannya, dan mengidentifikasi frekuensi atau nada tertentu yang sulit didengar.
Saat tiba di RS PELNI, Tim Health Liputan6.com diarahkan untuk menyerahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan mengisi data diri. Tak selang beberapa lama, pemeriksaan audiometri pun dilakukan.
Tes berlangsung di ruang khusus, ruang kecil berbentuk bilik kedap suara dengan headphone khusus dan tombol hitam.
“Nanti jika terdengar suara sekecil apapun, tekan saja tombolnya,” kata petugas.
Bilik ini dilengkapi jendela kaca kecil. Dari luar, petugas memantau kemampuan dengar pasien melalui perangkat komputer. Suara pun diperdengarkan lewat headphone, suara-suara ini memiliki volume dan frekuensi beragam. Ada yang jelas terdengar ada pula yang nyaris tak terdengar saking tipisnya. Jika digambarkan, suara ini berbunyi “Tuuut” atau “Tiiit.”
Tes tak memakan waktu lama, sekitar kurang dari 10 menit. Hasil pemeriksaan pun diberikan ke dokter spesialis telinga, hidung, tenggorokan (THT) Elisabeth Uli Artha Sirait untuk ditinjau lebih dalam.
Pasien pun dipanggil bergiliran untuk mendengarkan hasil tes dari dokter. Hasil tes ini pun keluar dalam waktu cepat.
“Semuanya normal, bagus,” kata Elisabeth sambil melakukan pemeriksaan liang telinga.
Total waktu yang dihabiskan untuk melakukan tes audiometri lebih kurang 30 menit. Saat itu, memang tidak terjadi antrean dan hanya ada empat pasien yang diperiksa.
Isu Kesehatan Pendengaran Sering Terlewat
Dalam kesempatan itu, Corporate Secretary IHC, Sari Narulita, menyampaikan bahwa isu kesehatan pendengaran masih sering terlewat karena gejalanya berkembang secara bertahap.
“Banyak orang tidak menyadari penurunan pendengaran sejak awal karena prosesnya berlangsung perlahan. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong kesadaran bahwa menjaga pendengaran sama pentingnya dengan menjaga kesehatan secara keseluruhan,” ujar Sari.
Dalam sesi diskusi, Elisabeth menjelaskan bahwa dampak kebisingan tidak hanya berkaitan dengan fungsi pendengaran. Paparan suara berlebih dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tidur, meningkatkan respons stres, hingga menurunkan konsentrasi dan performa sehari-hari.
Secara global, gangguan pendengaran juga menunjukkan tren peningkatan, termasuk pada kelompok usia muda. Kebiasaan mendengar yang tidak aman, seperti penggunaan earphone dengan volume tinggi atau terlalu lama berada di lingkungan bising, menjadi faktor yang sering diabaikan, padahal sebagian besar kasus dapat dicegah.
Tingkat Kebisingan dan Durasi Paparan
Elisabeth menambahkan, risiko gangguan pendengaran sangat dipengaruhi oleh tingkat kebisingan dan durasi paparan.
“Banyak aktivitas harian yang memiliki tingkat kebisingan cukup tinggi tanpa disadari. Bukan hanya soal seberapa keras suara, tetapi juga seberapa lama kita terpapar. Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa berdampak dalam jangka panjang,” jelasnya.
Ia menambahkan, suasana jalan besar atau restoran ramai dapat mendekati ambang batas risiko 85 desibel (dB) yang hanya aman didengar selama 8 jam per hari.
Sementara itu, konser musik maupun penggunaan earphone dengan volume tinggi bisa melampaui batas aman dengan mencapai 110 dB. Level kebisingan digital dari earphone yang maksimal ini setara dengan suara pesawat atau petir yang dapat merusak pendengaran dalam hitungan menit. Karena itu, konsep safe listening menjadi semakin relevan, terutama bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi.